15 Januari: Peristiwa Malari yang Tewaskan Belasan Orang, Ini Kronologinya

Sabtu, 15 Januari 2022 05:00 Reporter : Jevi Nugraha
15 Januari: Peristiwa Malari yang Tewaskan Belasan Orang, Ini Kronologinya Hariman. ©2014 Merdeka.com/Repro buku Hariman & Malari

Merdeka.com - Hari ini 48 tahun lalu, tepatnya pada 15 Januari 1974, para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka di Jakarta. Yang mana mahasiswa menantang rencana investasi besar-besaran Jepang di Indonesia.

Demonstrasi yang diikuti oleh ribuan pelajar dan mahasiswa tersebut berakhir ricuh dan menelan korban jiwa. Sejarah kemudian mencatat peristiwa ini sebagai Malapetaka 15 Januari 1974 atau Peristiwa Malari. Setidaknya ada 11 orang meninggal dunia, 137 orang luka-luka, dan 750 orang ditangkap.

Peristiwa Malari menjadi catatan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Hingga saat ini, peristiwa yang banyak menelan korban jiwa tersebut masih dianggap menyimpan banyak misteri.

Lantas, bagaimana kronologi Peristiwa Malari? Simak ulasannya yang merdeka.com rangkum dari Liputan6.com:

2 dari 3 halaman

Kronologi Peristiwa Malari

hariman
©2014 Merdeka.com/Repro buku Hariman & Malari


Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pada 14 Januari 1974, pukul 19.45 WIB. Setelah keluar dari pesawat, tidak ada upacara militer dan sambutan kenegaraan. Tanaka menerima kalungan bunga, lalu meluncur ke Wisma Negara untuk beristirahat.

Tepat pada 15 Januari, Presiden Soeharto dan beberapa menteri bertemu dengan Tanaka serta rombongannya di Istana Negara. Sementara itu, ribuan orang yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa turun ke jalan melakukan demonstrasi. Mereka menolak kedatangan Tanaka yang dianggap sebagai simbol modal asing yang harus dilawan.

Para pelajar dan mahasiswa melakukan long march dari Kampus Universitas Indonesia Salemba menuju Universitas Trisakti di Gorgol. Saat melakukan aksi, mahasiswa mengusung tiga tuntutan, yaitu pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi mengenai modal asing, dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden.

Menjelang sore hari, aksi demonstrasi mulai memanas dan terjadi bentrokan. Sementara itu, beberapa orang yang mengaku dari kalangan buruh pada akhirnya menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka menjarah serta membakar mobil buatan Jepang dan toko-toko.

Akibat dari kerusuhan tersebut, setidaknya ada 11 orang meninggal dunia, 300 luka-luka, dan 144 buah bangunan rusak berat. Aparat keamanan menyalahkan mahasiswa sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Namun, mahasiswa menyanggah dan menyebut aksi yang mereka lakukan dari Salemba ke Grogol berlangsung damai.



3 dari 3 halaman

Peristiwa Malari, Sejarah Demonstrasi Kelam di Indonesia

hariman©2014 Merdeka.com/Repro buku Hariman & Malari

Saat terjadi aksi demonstrasi, Panglima Komandi Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Jenderal Soemitro mengaku menawarkan dialog antara Dewan Mahsiswa (DM) UI dengan Tanaka. Namun, DM UI yang saat itu dijabat oleh Hariman Siregar menjawabnya dengan dialog jalanan.

Pada 16 Januari, aksi demonstrasi kembali digelar. Melihat aksi itu, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, resah dan memutuskan pergi ke kampus UI Salemba. Malam harinya, Bang Ali mengajak Hariman Siregar sebagi DM UI ke TVRI untuk mengumumkan bahwa persoalan sudah selesai.

Setelah pengumuman itu, akhirnya aksi mahasiswa bisa direda. Atas kerawanan situasi saat itu, Soeharto bahkan mesti mengantar Tanaka menggunakan helikopter menuju Bandara Halim Perdanakusuma, sebelum kembali ke negaranya.

Setelah peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut berakhir, Heriman Sireger diseret ke pengadilan. DM UI itu dituduh telah melakukan tindakan subversi. Empat bulan sidang, vonis enam tahun penjara pun diketok.

Peristiwa 15 Januari 1974 menjadi salah satu catatan terkelam dalam sejarah aksi demonstrasi di Indonesia. Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan dalam sebuah artikelnya, bahwa Malari telah mengubah perjalanan Indonesia. Di mana Seoeharto melakukan represi secara sistematis.

Di samping itu, aparat juga menangkap total 750 orang, di antaranya pemimpin mahasiswa dan cendikiawan seperti Mohtar Lubis, Rahman Tolleng, Aini Chalid, dan masih banyak lagi. Tidak sedikit tokoh yang menilai bahwa Malari adalah bentuk konsolidasi kekuatan Soeharto.

[jen]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini