Yang Legendaris dari Cikini: Roti Tan Ek Tjoan Hingga Bakoel Koffie

Jumat, 4 Oktober 2019 06:39 Reporter : Yunita Amalia
Yang Legendaris dari Cikini: Roti Tan Ek Tjoan Hingga Bakoel Koffie Kondisi Cikini. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pagi itu cerah. Lalu lintas di kawasan Cikini, Jakarta Pusat tak terlalu ramai. Ruas jalan sepi lalu lalang pengendara.

Cikini akhir pekan tidak sepadat hari biasanya. Jika di hari kerja, lalu lintas dipadati deru kendaraan melintas. Melaju lambat terjebak kemacetan.

Sekelompok orang sudah menunggu saya tepat di depan Kantor Pos Cikini. Sementara pemandu pria sibuk mengutak-atik mikrofonnya. Dia ingin memastikan alat itu berfungsi dengan baik agar perjalanannya memandu kami berjalan lancar.

Dia adalah Chanda, pemandu wisata jalan kaki Jakarta Good Guide. Hari itu, wajahnya ceria. Pertanda siap membawa kami menjelajah peninggalan Belanda di Cikini.

kondisi trotoar cikini

Kantor Pos Cikini merupakan satu dari sejumlah bangunan bersejarah. Fasad bangunan berbentuk persegi lima, berwarna putih, dengan jendela rata-rata persegi panjang.

Berdiri sejak tahun 1920, Kantor Pos Cikini masih beroperasi hingga saat ini. Kantor Pos ini satu-satunya yang beroperasi 24 jam.

"Di sini 24 jam," kata Chanda, akhir pekan lalu, Minggu 22 September.

Di kantor pos ini juga melayani pencetakan kartu pos pesanan sesuai keinginan pengguna.

Melaju beberapa langkah, kami berhenti di kafe, Bakoel Koffie. Jika pernah sering melintasi Cikini, pasti tak asing dengan tempat ngopi ini. Lokasinya terletak di tengah-tengah deretan toko sisi kiri jalan. Permukaan kaca bagian depan tergambar seorang perempuan memakai kebaya dan rok kain sambil membawa bakul di atas kepala.

Penuturan Chanda, Bakoel Koffie awalnya sebuah warung kopi dirintis Liaw Tek Soen di Jalan Hayam Wuruk. Atap warung itu cukup tinggi dibandingkan bangunan sampingnya. Karena itu, warung Liaw disebut Warung Tinggi.

kondisi cikini

Saat Liaw meninggal, dua anaknya memilih jalan berbeda. Satu anak memutuskan untuk meneruskan aset beserta hak Warung Tinggi. Sementara satu anak memilih menerima uang yang kemudian dijadikan modal membuka usaha.

"Uang itu jadi modal membangun Bakoel Koffie. Soal gambar wanita itu, karena dulu dia (pendiri Bakoel Koffie) sering melihat wanita penjual kopi pakai bakul. Bakulnya ditaruh di atas kepala," jelas Chanda.

Tempat tak kalah bersejarah di Cikini adalah pabrik roti Tan Ek Tjoan. Chanda menceritakan, pabrik ini sangat legendaris di masa Hindia Belanda. Saat memulai usaha, roti buatan Tjoan memiliki tekstur keras. Roti ini disebut roti gambang. Namun karena orang Belanda tidak suka makan roti yang keras, dibuatlah roti lembut.

"Ini dinilai sebagai yin dan yang," kata Chanda.

Jelajah sejarah di Cikini sampai ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Tempat ini dahulunya adalah lahan milik pelukis dunia asal Indonesia bernama Raden Saleh Sjarif Boestaman. Lebih populer dengan nama Raden Saleh.

Lahan Raden Saleh sangat luas mulai dari Taman Ismail Marzuki hingga Jalan Raden Saleh. Sebelum TIM berdiri, lahan itu dibuat sebagai taman satwa pribadi milik Saleh.

"Ada buaya, ada macan, banyak burung-burung dan ini jadi kebun binatang pertama di Jakarta, tapi milik pribadi," kata Chanda.

kondisi trotoar cikini
©2019 Merdeka.com/Yunita Amalia

Dikarenakan Saleh tak memiliki keturunan, lahan itu akhirnya diserahkan seluruh kepada pemerintah Jakarta. Hingga pada 10 November 1968, Gubernur Jakarta Ali Sadikin meresmikan TIM sebagai tempat seni.

Penyematan nama Ismail Marzuki memang untuk mengenang salah satu komposer legendaris Tanah Air itu. Lagu-lagu nasional hasil tangan dingin Ismail Marzuki masih terkenang di ingatan hingga kini. Seperti Berkibarlah Benderaku, Rayuan Pulau Kelapa dan Gugur Bunga.

Perjalanan kami berakhir di kawasan TIM yang kini sedang direvitalisasi.

Sebelum menyudahi hari itu, Chanda mengatakan, meski lahan Raden Saleh terletak di kawasan cagar budaya, kediaman Saleh hingga kini belum masuk ke dalam daftar cagar budaya. Sebagaimana diketahui Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur Nomor 475 Tahun 1993.

"Saya sudah bertemu dengan Wali Kota Jakarta Pusat, untuk kriteria sebenarnya sudah masuk," kata dia. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini