Warga Condet siap ngungsi dari aliran Ciliwung asalkan diganti rugi

Kamis, 19 Mei 2016 12:00 Reporter : Ronauli Manondangi Margareth
Warga Condet siap ngungsi dari aliran Ciliwung asalkan diganti rugi Normalisasi kali Ciliwung. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyusuri Kali Ciliwung sepanjang 19 kilometer bersama TNI AD dari Rindam Jaya, dan jajaran Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) pada Rabu (18/5) lalu. Peninjauan ini untuk melihat kondisi Kali Ciliwung karena proyek normalisasi akan segera dilanjutkan oleh Pemprov DKI.

Salah satu aliran sungai yang disusuri oleh pria yang sering dipanggil Ahok ini adalah aliran dari kawasan Condet. Warga yang tinggal di sekitaran wilayah tersebut juga menilai normalisasi sungai Ciliwung di kawasan Condet sekarang ini jauh lebih baik, sehingga dilihat dari tingkat kebersihan kali ini pun sudah terlihat bersih.

Menurut Radianto (56) warga kawasan Condet, aliran sungai Ciliwung dari kawasan Condet ini, setiap harinya selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan DKI Jakarta. Radianto mengatakan, pembersihan ini membuat kondisi sungainya terlihat bersih dari sampah.

"Ya setiap hari petugas kebersihan datang membersihkan kali ini," kata Rudianto di Jakarta, Kamis (19/5).

Saat disinggung Normalisasi sungai kali Ciliwung di kawasan Condet ini berdampak pada penggusuran, menurut dia, sebagai warga menilai hal tersebut tidak menjadi kekhawatiran. Asalkan adanya kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat terkait dana ganti untung kepada masyarakat.

"Kalau digusur ada ganti untung. Tapi kembali lagi pada keputusan pemerintah dan kesepakatan dana bagaimana menyikapi. Omongan adanya penggusuran sudah ada. Tetapi belum ada kesepakatan bersama, realisasinya belum ada. Wajarlah warga mintanya tinggi. Tapi dari Pemda sendiri belum ada kejelasan," kata dia.

Terkait normalisasi sungai Ciliwung ini yang telah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, dia menanggapi hal tersebut untuk kepentingan masyarakat luas.

"Jakarta inikan Ibu kota negara. Kalau Ibu kota negara itu terus kebanjiran bagaimana dimata dunia. Jadi pada prinsipnya tidak keberatan adanya normalisasi ini yang dampaknya penggusuran. Asal pergantiannya sesuai. Kalau kita digusur paling tidak kita mampu beli tempa yang lain," tandasnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini