Wacana Fasilitas Pengolahan Sampah Bantargebang, DPRD DKI Singgung Proyek ITF Mandek

Kamis, 14 Oktober 2021 17:03 Reporter : Yunita Amalia
Wacana Fasilitas Pengolahan Sampah Bantargebang, DPRD DKI Singgung Proyek ITF Mandek TPST Bantar Gebang. ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ida Mahmudah berharap rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah oleh Pemprov DKI di Bantargebang, Kota Bekasi, sedikit membantu. Meski ia mengamini kapasitas pengolahan tersebut masih sangat minim.

"Dengan konsep adanya RDF (refused derived fuel) ini semoga paling tidak membantu walaupun masih kecil karena memang kapasitasnya adalah 1.000 sampah baru, 1.000 sampah lama. Jadi hanya 2000 untuk per harinya," ucap Ida, Kamis (14/10).

Politikus PDIP itu pun menyayangkan kelanjutan intermediate treatment facility (ITF) yang direncanakan oleh Pemprov di 4 titik tidak berjalan mulus. Kendati dalam pembangunan ITF tidak menggunakan APBD DKI.

Sudah hampir 2 tahun lebih sejak Pergub penunjukan penanggung jawab ITF dikeluarkan Gubernur DKI Anies Baswedan pada 2018 belum ada yang berjalan.

"Kita sama-sama tahu memang pembangunan ITF ini berjalannya sangat tidak baik ya. Karena sampai sekarang pun belum ada yang dimulai dari rencana 4 titik yang akan dibuat," ucapnya.

Diketahui, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menyampaikan Pemprov DKI akan membangun 2 fasilitas pengolahan sampah baru dan sampah lama. Kapasitas masing-masing jenis sampah 1.000 ton per hari.

Asep mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang akan dikerjakan mulai tahun ini, mempertimbangkan kondisi tempat pembuangan sampah Bantargebang, Kota Bekasi, sudah kritis.

"Kapasitas bantargebang ya bisa dikatakan memang sudah kritis yah makanya kita tahun ini sedang berupaya membangun dua fasilitas di Bantargebang," ucap Asep di Balai Kota, Rabu (13/10).

Asep menjelaskan, sistem yang akan digunakan dalam pengolahan ini dinamakan refused derived fuel (RDF). Hasil dari olahan sampah ini nantinya menjadi batubara muda yang biasanya dimanfaatkan pada industri semen. Asep merinci setiap 1.000 ton hasil olahan sampah menghasilkan sekitar 750 ton RDF.

Hasil olahan sampah bahkan sudah dibahas akan dibeli oleh perusahaan semen, PT Solusi Bangun Indonesia (SBI). Kendati belum ada kesepakatan harga, namun merujuk pengolahan RDF di Cilacap nilai beli untuk hasil RDF adalah Rp300.000 per ton. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini