Takut ditegur KPI, industri media buramkan bagian vital di tayangan

Selasa, 8 Maret 2016 03:03 Reporter : Dieqy Hasbi Widhana
Takut ditegur KPI, industri media buramkan bagian vital di tayangan Ilustrasi menonton televisi. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Dmitriy Karelin

Merdeka.com - Proses pemburaman bagian vital tertentu dari karakter yang ditayangkan media televisi menjadi polemik tersendiri. Sempat muncul tayangan Putri Indonesia yang diburamkan atau diblur bagian tertentu di Indosiar dan menuai komentar di media sosial.

‎"Blur ini yang rame di media, artinya kita tidak saling menyalahkan karena berpedoman pada P3SPS. Kita blur karena takut ditegur KPI. Memang ke depan harusnya ada pemahaman konkret terkait blur itu seperti apa?‎" kata Direktur Utama PT Indosiar Visual Mandiri Imam Sudjarwo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/3).

Sedangkan Direktur MNC Group yang juga Wakil Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Syafril Nasution, menjelaskan pihaknya ketakutan atas peraturan KPI. Maka dari itu sampai sempat melakukan blur terhadap bagian tertentu dari tokoh kartun film Doraemon yaitu Sizuka.

"Kalau kita bicara pengalaman, kami pernah dapat teguran, ada satu animasi, mohon maaf sebelumnya, berciuman, memakai bikini, sehingga saking takutnya bagian program kami begitu kerasnya teguran-teguran ini. Doraemon pun yang pakai bikini terpaksa diblur, jadi memang kami di sini mohon bantuan dari KPI mungkin lebih jelas saja mana-mana yang perlu diblur," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengakui bahwa ada tayangan putri Indonesia yang telah diblur Indosiar. Namun yang beredar di media sosial justru telah diedit, bukan bagian tertentu tapi hampir seluruh tubuh putri Indonesia diblur.

"Tadi ada penjelasan dari Dirut Indosiar terkait putri Indonesia. Blur yang beredar di sosial media itu sudah hasil photoshop. Aslinya gak seperti itu," ujarnya.

Menurut Politisi PKS ini, KPI sudah memiliki peraturan terkait pemburaman. Namun belum ada sinkronisasi pemahaman antara industri televisi dengan KPI.

‎"Tinggal implementasinya saja yang orang masih belum jelas betul bagian mana, dalam konteks apa diblur. Tolak ukur Blur di KPI. Cuma mungkin dalam penerapannya TV-TV merasa belum jelas. Kalau itu kan bisa didiskusikan antara KPI dengan industrinya," pungkasnya. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. KPI
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini