Revitalisasi Halte TJ Bundaran HI Dinilai Rusak Pandangan ke Patung Selamat Datang

Kamis, 29 September 2022 22:49 Reporter : Lydia Fransisca
Revitalisasi Halte TJ Bundaran HI Dinilai Rusak Pandangan ke Patung Selamat Datang Revitalisasi Halte Transjakarta Bundaran Hotel Indonesia. ©2022 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Sejarawan JJ Rizal meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menghentikan pembangunan Halte Transjakarta Tosari-Bundaran HI karena merusak pandangan ke bangunan cagar budaya Patung Selamat Datang. Hal tersebut diungkapkan Rizal melalui akun Twitternya @JJRizal pada Kamis (29/9).

"Pak Gubernur @aniesbaswedan mohon stop pembangunan halte @PT_Transjakarta Tosari-Bundaran HI yang merusak pandangan ke Patung Selamat Datang en Henk Ngantung Fontein warisan Presiden Sukarno dengan Gubernur Henk Ngantung sebagai poros penanda perubahan Ibukota kolonial ke Ibukota nasional," tulis Rizal.

Menurut Rizal, Patung Selamat Datang merupakan hal penting karena menggambarkan simbol keramahan bangsa, semangat bersahabat dalam melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

"Patung Selamat Datang dengan Henk Ngantung Fontein penting bukan hanya karena karya Presiden Sukarno, en Maestro Edi Sunarso serta Gubernur Henk Ngantung, tapi juga simbol keramahan bangsa, semangat bersahabat melaksanakan ketertiban dunia berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial," lanjut Rizal.

Lebih lanjut, berdasarkan pernyataan Rizal, kawasan bersejarah warisan Sukarno telah menjadi korban vandalisme dalam 20 tahun terakhir.

"Berbagai kepentingan berebut dengan macam-macam alasan tapi satu tujuannya, yaitu mengkapitalisasi posisinya yang strategis. Kalau tidak disetop maka Jakarta akan kaya infrastruktur tapi miskin karakter," kata Rizal.

2 dari 2 halaman

Rizal juga menganggap, Transjakarta tidak puas atas pembangunan yang telah dilakukan selama ini, yaitu membuat halte besar di sekitar HI dan Sarinah.

"Apalagi @PT_Transjakarta tak cukup puas hanya bangun halte gigantis di sekitar HI, tapi juga di Sarinah, satu lagi penanda sejarah untuk mengingatkan bahwa Ibukota nasional berbeda dari Ibukota kolonial, simbol ekonomi kapitalisme yang rakus, melainkan Ibukota ekonomi kerakyatan," kata Rizal.

Meskipun demikian, Rizal menyarankan Transjakarta untuk mencari model arsitektur yang ramah pada kawasan sejarah.

"Halte tetap di tempat tetapi carilah model arsitektur yang ramah dan respek pada kawasan sejarah, desain yang lebih merunduk menghormat vista cagar budaya bukan yang dengan sengaja malah memanfaatkan ruang yang bernilai komersil untuk komersialisasi," kata Rizal.

Rizal juga berharap, Transjakarta mengadopsi etos kerja yang baik dengan berorientasi kerakyatan.

"Seharusnya sebagai bagian dari badan usaha masyarakat Jakarta, @PT_Transjakarta yang bisnya wir- wiri di ruang bersejarah warisan Sukarno itu berefleksi mengadopsi etos kerja maestro, berkelas dunia, tapi berorientasi kerakyatan serta menjaga sumber inspirasi kota, yaitu warisan sejarahnya. Sekali lagi mohon Pak Gubernur @aniesbaswedan stop pembangunan halte @PT_Transjakarta yang arogan di kawasan cagar budaya penanda sejarah perubahan kota kolonial jadi kota nasional warisan Sukarno, jangan biarkan halte-halte itu jadi noda di buku sejarah masa pemerintahan bapak yang kaya prestasi," tulis Rizal.

Hingga artikel ini ditulis, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Transportasi Jakarta Anang Rizkani Noor belum ingin berkomentar apapun.

[eko]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Transjakarta
  3. Viral Hari Ini
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini