KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Reklamasi Teluk Benoa hanya untuk kepentingan investor rakus!

Minggu, 20 Maret 2016 09:35 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Solidaritas tolak reklamasi teluk benoa. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Ratusan warga yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Jakarta For Bali menolak reklamasi Teluk Benoa di Car Free Day, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Tidak hanya menggelar aksi di CFD, mereka mempunyai alasan agar reklamasi Teluk Benoa tidak dijalankan.

"Reklamasi akan mengubah status teluk Benoa dari kawasan konservasi menjadi kawasan yang dapat direklami dan kami memiliki alasan agar reklamasi Teluk Benoa ditolak oleh pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan," kata Humas Jakarta For Bali, Made Bawayasa di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (20/3).

Made menjelaskan reklamasi akan merusak fungsi dan nilai konservasi kawasan serta perairan Teluk Benoa. "Peraturan yang dikeluarkan pemerintah hanya berpihak dan menguntungkan kepentingan investor rakus," jelasnya.

"Pulau hasil rekmalasi pun akan dibangun ribuan kamar dan invetasi rakus selalu memberikan janji manis namun sering tidak terwujud," tambahnya.

Tidak hanya itu reklamasi juga adalah cara investor mendapatkan tanah dengan biaya murah di kawasan strategis.

"Akan mengkibatkan banjir dari 5 DAS (daerah aliran sungai)," bebernya.

Kedua, menurutnya reklamasi jika terjadi akan mengakibatkan berkurangnya fungsi Teluk Benoa sebagai reservoir (tampungan banjir). Lalu, jika hal tersebut terjadi dengan membuat pulau baru akan menimbulkan kerentanan terhadap bencana.

"Terumbu karang pun akan rusak," jelasnya.

Selanjutnya, ekosistem mangrove pun akan terancam. Hal tersebut menurutnya akan menyebabkan perubahan perairan, seperti salinitas. "Semuanya berdampak buruk terhadap ekosistem mangrove termasuk dapat mematikan vegetasi prapat," bebernya.

Tak hanya itu, reklamasi Teluk Benoa jika terjadi akan memperparah abrasi pantai. "Ditambah bencana ekologis akan meluas," ungkapnya.

Made menegaskan bahwa Bali tergantung dengan alam, karena pulau dewata identik dengan budaya dan spritualitasnya. "Jika alam diperkosa semena-mena maka kebudayaan bali akan hancur dan akan menyebabkan kebangkrutan pariwisata, korbannya adalah masyarakat lokal," tandasnya. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Reklamasi Tanjung Benoa
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.