Polisi sebut penetapan tersangka guru SMP 3 Manggarai sesuai KUHAP

Senin, 25 April 2016 13:35 Reporter : Anisyah Al Faqir
Polisi sebut penetapan tersangka guru SMP 3 Manggarai sesuai KUHAP PN Jaksel. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Sub Bagian Hukum Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol I Ketut Sudarsana membenarkan penangkapan seorang guru SMP 3 Manggarai berdasarkan peristiwa pada Juli 2015. Menurut dia, meski peristiwa pencabulan tersebut diduga dilakukan di masa lampau, tetap bisa dilaporkan.

"Dilaporkannya kan boleh kapan saja, selama itu belum kedaluwarsa kejadiannya boleh saja kapan saja. Kejadian kapan, dilaporin ya kapan selama belum kedaluwarsa boleh saja," terang Sudarsana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (25/4).

Sudarsana menjelaskan, soal visum yang dipermasalahkan oleh pihak pemohon tidak mesti selalu ada. Sebab menurut dia sulit membuktikan hasil visum dalam perkara pencabulan.

"Kalau visum enggak ada, kalau cuma perbuatan cabul. Cabul itu kan megang payudara, bokong, itu cabul. Kalau divisum kan enggak mungkin," kata Sudarsana.

Namun, dia mengungkapkan pihak ke polisian menggunakan alat bukti lain yakni hasil pemeriksaan psikiater terhadap korban. Sehingga, penetapan tersangka Edi sudah sesuai dengan KUHAP.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggelar sidang praperadilan terhadap kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh seorang guru di salah satu sekolah menengah pertama di Jakarta Selatan. Dalam sidang perdana itu beragendakan pembacaan permohonan dari pihak pemohon.

Dalam pembacaan permohonan itu, Kuasa Hukum tersangka Edi Rosadi, Herbert Aritonang menuturkan ada sejumlah kejanggalan dari proses penangkapan hingga proses penetapan sebagai tersangka. Sebab, penangkapan dilakukan saat tersangka Edi tengah mengajar di tempatnya bekerja.

"Penangkapan dilakukan saat pemohon (Edi Rosadi) mengajar di SMP 3 Manggarai, Jakarta Selatan. Sejumlah polisi kemudian datang dan menangkap atas tuduhan melakukan tindak pidana pencabulan," kata Herbert.

Selama proses pemeriksaan di Polres Jakarta Selatan, Herbet mengatakan kliennya mendapatkan tekanan psikologis oleh penyidik. Tak hanya itu, Edi kala itu juga tidak didampingi kuasa hukum dalam memberikan keterangan terhadap tuduhan itu.

"Dalam proses pemeriksaan pemohon tidak didampingi kuasa hukum dan menerima tekanan mental secara psikologis dan pihak kepolisian tidak mengedepankan asa praduga tak bersalah," lanjut Herbert.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada kejanggalan lainnya yakni dalam dalam surat perintah penangkapan tertanggal 4 Maret 2016. Dalam surat tersebut tertulis tuduhan peristiwa pencabulan terjadi satu tahun yang lalu.

"Kejanggalan lainnya yakni tuduhan peristiwa pencabulan pada Juli 2015. Padahal waktu itu bertepatan dengan libur panjang idul fitri," ungkap Herbert.

Tak hanya itu, penangkapan Edi hanya berdasarkan bukti petunjuk, keterangan ahlu dan hasil visum, tanpa adanya saksi yang melihat peristiwa pencabulan yang dimaksud.

"Yang ada adalah hasil pemeriksaan psikiater untuk anak itu. Dari situ ketahuan ada simpulan dari hasil itu. Itu keterangan ahli, salah satu bukti yg sah," tutur Sudarsana

"Kami kan sudah punya itu (dua alat bukti) keterangan saksi, korban, dan psikiater," imbuh Sudarsana.

Lebih jauh dia menjelaskan, saat korban melaporkan pertama kali dalam kondisi panik. Sebab korban merasa trauma atas perbuatan tersangka pada bulan Juli lalu yakni saat terakhir sang guru mengajar. Kemudian korban mengaku kembali trauma saat melaporkan kejadian tersebut. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
  2. Guru Cabul SMPN 3 Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini