Pemprov DKI Impor Bawang Putih Atas Usulan Menteri Amran

Selasa, 7 Mei 2019 12:21 Reporter : Merdeka
Pemprov DKI Impor Bawang Putih Atas Usulan Menteri Amran Anies Tinjau Harga Bawang Putih di Pasar Induk Kramat Jati. ©Liputan6.com/Ratu Annisaa Suryasumirat

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan meninjau harga bahan pokok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia khususnya menaruh perhatian pada harga bawang putih yang sempat melonjak hingga Rp 80.000 karena kelangkaan.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo mengatakan, Anies sendiri telah membicarakan permasalahan bawang putih ini kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk memberikan rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RPIH).

"Kita punya kewajiban tanam 5 persen dari RIPH, sudah kita submit, kita close coordination sama Dirjen Hortikultur dan Menteri Pertanian. Pak Amran sepertinya akan segera mengeluarkan RIPH untuk food station," katanya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (7/5).

Anies sendiri menilai harga bawang putih sudah kembali stabil. Pasar Induk JakGrosir pun membanderol bawang putihnya seharga Rp 30.000 per kilogram.

Arief mengatakan, penurunan harga itu bisa terjadi karena impor yang telah dilakukan dari Leiwu dan Henan, China. Satu kontainer impor berisi 29 ton bawang putih, dan dalam 4 hari ke depan, totalnya ada 5 kontainer yang bisa mencukupi kebutuhan DKI Jakarta sebesar 145 ton.

"Kalau kita enggak punya stok, kita akan sulit untuk melakukan stabilisasi. Jadi apa yang kita lakukan di semua bahan pokok sudah kita jalankan kecuali satu prodak, yaitu bawang putih," jelasnya.

"Jadi bawang putih ini kita tunggu dari teman Kementan (Kementerian Pertanian) selanjutnya untuk melanjutkan persetujuan impor ke Kementerian Perdagangan," tambah Arief.

Menurutnya, saat ini Indonesia memang masih bergantung pada impor karena belum bisa menghasilkan komoditas bawang putih yang mencukupi.

DKI Jakarta sendiri memerlukan 10 hingga 11 kontainer bawang putih untuk mendukung kebutuhan yang ada. Sedangkan, produk bawang putih lokal hanya digunakan untuk keperluan swasembada bibit.

"Kita menanam hanya untuk kebutuhan swasembada bibit 2021. Jadi prosesnya setelah kita menanam sekitar 110, 120 hari, kemudian dibuat bibit, dikeringkan selama 4 bulan. Nah itu memang program untuk nanam," jelas Arief.

"Tapi kalau untuk konsumsi saat ini kita memang masih memerlukan import dari China," tutupnya.

Reporter: Ratu Annisaa Suryasumirat
Sumber: Liputan6.com [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini