Pemprov DKI Harus Siap dengan Lonjakan Kasus Covid-19 Jika Terapkan Normal Baru

Kamis, 4 Juni 2020 08:40 Reporter : Yunita Amalia
Pemprov DKI Harus Siap dengan Lonjakan Kasus Covid-19 Jika Terapkan Normal Baru Tes Covid-19 di Pasar Klender. ©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jakarta fase III berakhir hari ini. Keputusan untuk diperpanjang atau diakhiri akan disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Narasi menuju normal baru di Jakarta menguat seiring dengan pernyataan pemerintah pusat terkait 4 provinsi yang bisa menerapkan normal baru. Epidemiolog Universitas Indonesia, dr Syahrizal Syarif menilai pelonggaran PSBB atau menerapkan normal baru di Jakarta berpotensi menimbulkan lonjakan tinggi terhadap kasus positif Covid-19.

Alasannya, Provinsi DKI merupakan provinsi dengan konfirmasi kasus terbanyak, bahkan tertinggi dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia.

"Jadi bila DKI Jakarta dalam situasi wabah saat ini sudah ingin melakukan pelonggaran maka harus siap dengan kemungkinan terjadinya lonjakan kasus," kata Syahrizal kepada merdeka.com, Kamis (4/6).

Saat itu pula, menurut dia, Pemprov DKI dituntut untuk konsentrasi terhadap peningkatan kinerja laboratorium diagnosis, surveilans epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan.

Dia tak menampik, penerapan PSBB di Jakarta dengan beberapa fase cukup berpengaruh terhadap melandainya laju penularan virus Corona, meski reproduction actual (Rt) Corona di Jakarta belum berada di level aman atau level di bawah 1.

Fakta tersebut menunjukan indikasi PSBB berjalan efektif. Sayangnya, jerih payah itu harus dikalahkan dengan narasi normal baru dan ketidaktegasan pemerintah baik pusat ataupun daerah terkait perjalanan mudik.

Nyatanya, kata Syahrizal, masih banyak warga melakukan perjalanan mudik dan euforia warga jelang lebaran dengan pergi ke pasar tanpa protokol kesehatan.

"Penurunan ini dipercaya karena terjadi pengurangan pergerakan di masyarakat hingga 60-70 persen. Sayangnya situasi kemudian berbuah dengan narasi normalitas baru dan rencana pelanggaran ditambah suasana lebaran Idulfitri, ditambah arus mudik dari pelbagai jalur alternatif," jelasnya.

Satu-satunya cara menghindari lonjakan kasus baru di masa normal baru adalah penggunaan masker, dan jaga jarak jika keluar rumah. "Kalau model PSBB orang dilarang keluar rumah saja boleh bepergian asal memenuhi syarat dampaknya ndak jelas," tandasnya.

Tercatat, PSBB di Jakarta berlaku pertama kalinya selama 14 hari, sejak 10-23 April, diperpanjang lagi selama 28 hari sejak 24 April sampai 22 Mei, kemudian diperpanjang dari 23 Mei sampai 4 Juni. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini