Pakar periklanan: tagline 'berkumis' bermakna abu-abu

Kamis, 14 Juni 2012 21:28 Reporter : Vincent Asido Panggabean
Pakar periklanan: tagline 'berkumis' bermakna abu-abu Pilkada. www.antaranews.com

Merdeka.com - Pakar periklanan, FX Ridwan Handoyo menyebutkan, tagline 'berkumis' (berantakan, kumuh, dan miskin) yang digunakan oleh pasangan calon gubernur (cagub), Hendardji Soepandji masih abu-abu. Ridwan diundang Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk dimintai pendapat terkait polemik masalah tagline itu.

"Dari sisi periklanan, saya memandang ada pro dan kontra atas tagline tersebut. Jadi kesimpulan saya saat ini, tagline itu masih abu-abu," ujar Ridwan kepada wartawan di Kantor Panwaslu DKI Jakarta, Kamis (14/6).

Ridwan juga menghimbau dalam beriklan khususnya iklan politik, seharusnya semua pihak bisa menjaga etika agar suasana tetap kondusif.

"Tujuan saya hanya menginginkan, kalau kita beriklan apalagi iklan politik, marilah tuangkan niat iklan yang positif karena tujuannya kan positif. Jangan sampai nanti muncul satu iklan dari manapun yang didasari iklan kampanye secara negatif, itu mengganggu demokrasi," ucap Ridwan, yang juga Ketua badan Pengawas Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I).

Namun dijelaskannya dalam rapat tersebut, pihak dari Hendardji sendiri belum mau mendengarkan keterangan dari para pakar dengan alasan, bahwa berkas-berkas tuntutan dari pihak tim cagub Fauzi Bowo dianggap belum lengkap dan meminta agar mediasi ditunda.

"Dasar kita, jika ingin beriklan itu niatnya harus positif, itu jauh lebih penting dari sekedar iklannya sendiri. Kami sebagai saksi ahli bukan tugas kami menggali niatnya apa. Nanti akan putuskan di rapat selanjutnya, hari ini dua peserta pulang duluan," kata dia.

Baginya, segala permasalahan terkait tagline tersebut memang masih belum bisa diambil kesimpulan, apakah hal tersebut bermasalah atau tidak.

"Memutuskan iklan positif atau negatif harus ada dasarnya. Kalau kasus berkumis ini masuk dalam kasus grey (abu abu). Ada pro dan kontra yang bisa terjadi tarik menarik. Kasus ini cukup serius, itu pendapat saya," pungkasnya.

Ridwan sendiri diundang khusus oleh Panwaslu untuk memberikan keterangan dalam mediasi perkara tagline ‘berkumis’ antara tim dari Fauzi Bowo dan Hendardji. Selain dirinya, dihadirkan pula Pakar bahasa dari FIB UI, Frans A serta pakar bahasa dari UNJ, Sri Suhita. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pilgub DKI
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini