Pakar: Hampir Tidak Logis Bangun Lapangan Golf di Bantargebang

Jumat, 26 November 2021 14:44 Reporter : Yunita Amalia
Pakar: Hampir Tidak Logis Bangun Lapangan Golf di Bantargebang TPST Bantargebang. ©2021 REUTERS/Willy Kurniawan

Merdeka.com - Penemu teknologi pengolahan sampah dengan teknologi thermal Hydrorive, Djaka Winarso, meyakini pembangunan lapangan golf di Bantargebang, Kota Bekasi, hampir mustahil dilakukan. Jenis sampah yang bercampur menjadi masalah utama pembangunan di tengah-tengah gunungan sampah mustahil dilakukan.

"Hampir tidak logis membangun lapangan golf di sana," ucap Djaka kepada merdeka.com, Jumat (26/11).

Djaka menjelaskan, karakteristik sampah Indonesia, termasuk Jakarta, sangat basah. Berbeda dengan sampah-sampah negara maju, cenderung sampah kering. Penyebab adanya perbedaan ini karena kebiasaan masyarakat memilah sampah organik dan anorganik.

Untuk sampah yang bercampur seperti di Bantargebang, Djaka mengatakan bahwa akan sangat berisiko membangun satu bangunan karena dataran tidak stabil.

Jika wacana membangun lapangan golf di Bantargebang, terinspirasi dari Korea Selatan, kondisi utama sampah sangat berbeda.

Djaka menyampaikan pernah mendatangi langsung Sudokwon Landfill, lokasi pengolahan sampah di Korea Selatan. Di tempat itu, menerapkan berbagai macam teknologi, menyesuaikan karakteristik sampah yang ada.

"Ada tiga sistem di sana, tertinggi sanitary landfill," ucapnya.

Djaka menjelaskan, sanitary landfill merupakan metode mengolah sampah dengan cara menimbunnya dengan tanah.

Tanah yang digunakan untuk menimbun itu kemudian dipadatkan dan menjadi daratan, sekaligus memastikan daratan tersebut stabil. Djaka pun mengakui ada lapangan golf di sekitar Sudokwon Landfill.

"Namun kondisi itu tidak sama dengan Bantargebang. Dengan ketinggian sampah 40-50 meter mustahil menimbunnya dengan tanah. Kita harus memangkasnya dulu dan itu membutuhkan effort tinggi," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Ida Mahmudah rekomendasi TPST Bantargebang menjadi lapangan golf itu merupakan usulan jangka panjang. Sebab, Pemprov DKI Jakarta sebagai pemilik aset TPST Bantargebang mempunyai perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi.

Salah satu perjanjiannya yaitu memastikan bahwa ketika tempat pembuangan sampah warga ibu kota itu sudah ditutup tidak meninggalkan gunungan sampah yang mengakibatkan masalah lingkungan.

Oleh karena itu, menurut Ida tumpukan sampah itu lebih baik dibuat lapangan golf dibanding meratakan tumpukan sampah dengan biaya besar.

Ida menyampaikan, usulan itu berkaca dari Korea Selatan yang menyulap tempat pembuangan sampah menjadi lapangan golf.

"Jadi begini, di Korea pembuangan sampah seluas 500 hektar itu yang sudah sangat numpuk disulap jadi lapangan golf dan tidak mahal tidak sulit, menurut Korea," kata Ida di sela rapat Badan Anggaran DPRD DKI, Rabu (24/11) malam. [eko]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini