Obati sakit menstruasi dengan operasi, Klinik Metropole ditutup

Rabu, 17 September 2014 17:16 Reporter : Lia Harahap
Obati sakit menstruasi dengan operasi, Klinik Metropole ditutup Ilustrasi operasi . ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/ben bryant

Merdeka.com - Berbagai klinik kesehatan dengan berbagai macam tawaran pengobatan semakin menjamur di Jakarta. Bagi Anda yang ingin memeriksakan kesehatan, sebaiknya lebih selektif dalam memilih tempat berobat yang akan didatangi.

Hal ini penting untuk menghindari Anda dari kegiatan malpratik yang dilakukan dokter maupun rumah sakit ilegal. Seperti yang sedang ramai diberitakan di sebuah media sosial.

Seorang wanita curhat di forum kaskus, menjadi korban malpratik di Klinik Pratama Metropole, Jl Pintu Besar Selatan nomor 38, Rt 012 Rw 05, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Mulanya, wanita itu hanya ingin mencari tahu penyebab sakit yang dialami saat menstruasi.

Setibanya di sana, dia malah divonis berbagai penyakit yang membuatnya kaget dan takut. Tak hanya itu, dia juga diperas karena harus membayar ini itu untuk metode pengobatan dengan iming-iming sakitnya segara sembuh.

Kabar ini rupanya sampai ke telinga Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati.

"Jadi klinik itu pada Juni 2014 lalu mengajukan izin untuk pembuatan Klinik Pratama," kata Dien kepada merdeka.com, Rabu (17/9).

Dalam pengajuan izinnya, kata Dien, klinik hanya menyediakan izin untuk dokter umum dan dokter gigi umum. Tidak ada untuk spesialis, tindakan dan bedah (operasi).

"Tapi di tengah jalan ada tenaga asing yang katanya dokter dan tidak bisa bahasa Indonesia, dokter itu juga tidak ada izin praktik, dan rumah sakit juga tidak punya izin melakukan lakukan operasi dan rawat inap. Dari tiga poin itu sudah salah," bebernya.

Pihak Dinkes kemudian melayangkan teguran keras pada Agustus lalu. Rupanya, teguran itu tak diindahkan.

"Tapi tetap membandel, pratik-pratik itu masih ada. Sampai akhir Agustus kita cabut izinnya, dan kita sudah bertemu pemilik, kita sudah sampaikan ini melanggar dan sudah dicabut, dan mereka memahami," pungkasnya.

Dien menambahkan, belajar dari kasus ini pasien diminta lebih hati-hati dalam memilih rumah sakit sebagai tempat pengobatan.

"Masyarakat harus benar-benar teliti mencari tahu apakah rumah sakit itu ada izinnya atau tidak," pungkasnya.

Berikut kutipan curhatan wanita tersebut di media sosial:

"..singkat cerita setelah daftar dll, ane diperiksa sama Dokter Sung (perempuan), katanya ngaku dari Singapura. Disini dokternya ga bisa bahasa inggris atau bahasa indonesia, dia ngomong pake bahasa cina, jadi dia didampingi penerjemah yang pake baju suster (dari logatnya sepertinya orang jawa). Setelah cerita tentang kondisi ane, ane diperiksa kolposkopi yg ada kameranya, cek cairan keputihan sama cek darah dan usg kemudian disuruh bayar ke kasir (idr 320.000 yang menurut ane sangat murah karena tesnya banyak).

Hasil tes tersebut cepet banget keluarnya, gan, ga nyampe setengah jam nunggu udah nongol, ane aja sampe kagum. Abis itu ane masuk lagi le ruang dokter. Disana dijelasin ternyata ane kena kista, trus radang, dan ada cairan pelvis di rahim ane, sambil nunjukkin hasil tes tadi. Syok banget ane dengernya gan. Berdasarkan vonis itu, ane disuruh untuk terapi disitu sebanyak 10x, tapi berhubung mau lebaran ane ga bisa, dikorting jadi 7x. Lalu ane setuju, soalnya ane udah takut karena ditakut-takuti kalo ga diobatin bakal jadi mandul atau malah kanker. Disitu ane ga dikasih tau harganya berapa, ane langsung diboyong ke kasir dan disuruh bayar hampir 5juta untuk terapi, kebetulan waktu itu ane lagi ada uang segitu jadi ane bayar. Dokternya bilang untuk langsung mulai terapi hari itu juga, dan ane disuruh ke ruang terapi, si dokternya juga katanya mau dampingin saat terapi. Disitu terapinya dibersihkan kemudian diuap dan ada sinar lasernya (katanya). Ga ada disuruh minum obat atau apa, disitu obatnya udah dalam bentuk infus katanya.

Selesai terapi itu, ane dibawa lagi ke ruang dokter, trus dokter bilang harus operasi hari itu juga gan! Ane kaget dong, masa tiba2 harus operasi sekarang. Ane udah nolak abis2an, dan dokter juga penerjemahnya maksa pol-polan dengan dalih alasan medis, kalo ga sekarang bisa inilah itu lah. Ane sebenernya udah nolak banget mau diskusi dulu dan mau cari 2nd opinion, tapi yg namanya maksa kebangetan sampe ane bilang ga punya duit juga dia periksa atm ane di mesin gesek kasir. Akhirnya ane bilang cuman ada uang hampir 1juta doang, dan lagi-lagi disuruh bayar buat dp. Ane disitu bingung banget gan, secara udah bayar hampir 5juta buat terapi sayang banget kalo ga ditotalin, kepaksa ane bayar pake sisa duit ane buat dp operasi. Dari maksanya mereka, kecurigaan ane mulai muncul.

Setelah ane dipaksa bayar, ane disuruh lagi terapi infus, jadi ane dibawa ke suatu ruangan, disitu berderet single sofa yang masing2 sebelahnya ada tiang infus. Ada sekitar 2orang wanita muda lagi diinfus juga. Ane duduk di depan mbak tersebut trus ane ngobrol deh. Ceritanya si mbak itu udah 7x terapi kesitu, dia abis operasi kista, daan yang bikin ane kaget dia sampe abis total 100juta gan. Sambil bisik-bisik dia ngingetin kalo jangan sampe kejebak disini kliniknya nguras duit banget. Pas lagi ngobrol gitu suster yg nginfus dateng, langsung misahin kita, disuruh pindah duduk, dari situ ane tambah curiga" [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Kesehatan
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini