Nasib Rustam tak jadi wali kota, gaji turun hingga tidak punya meja

Kamis, 28 April 2016 05:21 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Nasib Rustam tak jadi wali kota, gaji turun hingga tidak punya meja Wali kota Jakarta Utara Rustam Effendi. ©2016 Merdeka.com/etika

Merdeka.com - Terhitung mulai kemarin, Rabu (27/4), Rustam Effendi sudah resmi melepaskan jabatannya sebagai wali kota Jakarta Utara. Surat pengunduran diri sudah diserahkan langsung ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok pada Jumat (22/4). Tak butuh waktu lama, Ahok langsung merespon. Kemarin Ahok menandatangani persetujuan pengunduran diri Rustam.

Selasa (26/4) merupakan hari terakhir Rustam berkantor di Wali Kota Jakarta Utara, Jalan Laksda Yos Sudarso, Kebon Bawang, Kelurahan Tanjung Priok. Sejak pagi halaman kantor wali kota Jakarta Utara sudah dipenuhi wartawan, menanti kedatangan Rustam. Dia menjelaskan perihal alasan pengunduran dirinya.

Dia membantah mundur dari jabatannya karena berseteru dengan sang gubernur dan dikait-kaitkan dengan memanasnya suhu politik Jakarta jelang Pemilihan Gubernur DKI 2017. Rustam memilih mundur karena kinerjanya dinilai tak maksimal, dan dia tak ingin menganggu kerja gubernur. Rustam pun mengembalikan segala fasilitas yang dulu diberikan ketika masih menjabat wali kota. Salah satunya mengembalikan mobil dinas.

Meski mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wali kota, Rustam tak serta merta keluar dari lingkaran pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ahok menyiapkan pekerjaan baru untuk Rustam di badan Pelatihan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Pemerintah DKI Jakarta. Rustam hanya ditempatkan sebagai staf di Badiklat. Meski begitu dia siap mengemban tugas barunya meski tak lagi menikmati fasilitas yang dulu melekat.

Dia mengaku akan mensyukuri setiap posisi yang akan diberikan kepadanya. Rustam juga mengatakan akan siap bekerja dengan baik di tempat yang baru. "Syukuri saja tidak apa-apa. Sudah terbiasa itu," kata Rustam saat dihubungi, Rabu (27/4).

Kemarin Rustam belum berkantor di Badiklat. Alasannya, belum menerima surat tugas dan arahan dari kepala BKD.

"Tadinya saya mau ke BKD, mau mengambil surat penugasan. Tetapi enggak jadi karena belum dapat arahan dari BKD," kata Rustam.

Saat menjabat wali kota, Rustam memiliki segala fasilitas. Bukan hanya mobil dinas, tapi juga ruangan khusus yang nyaman dan gaji yang fantastis. Namun setelah tak lagi mendapat amanah sebagai pejabat eselon II DKI, otomatis gaji Rustam juga akan turun drastis.

"Ketika seseorang mengundurkan diri atau tidak diberikan lagi amanah sebagai pejabat eselon II memang drastis dari segi pendapatan yang biasanya 70-75 juta," kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Agus Suradika.

Setelah hanya mendapat tugas sebagai staf Badiklat, gajinya pun akan turun menjadi Rp 12 hingga 13 juta tiap bulannya. "Itu sekarang ini kira-kira Rp 12-13 juta," jelas Agus.

Dengan gaji itu, Rustam dan keluarganya harus hidup lebih sederhana, tak seperti saat menjadi Wali Kota Jakarta Utara.

"Tapi saya kira dengan pendapatan ini kalau biasa hidup sederhana saya kira itu cukup untuk kebutuhan keluarga. Tapi saya rasa itu sudah dipertimbangkan pak Rustam," ucapnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini