Mengintip Gang Venus di Tambora tak pernah tersentuh sinar matahari

Selasa, 2 Agustus 2016 10:14 Reporter : Tsana Garini Sudradjat
Mengintip Gang Venus di Tambora tak pernah tersentuh sinar matahari Lorong gelap di Gang Venus Tambora. ©2016 merdeka.com/arin

Merdeka.com - Siang itu matahari begitu terik, namun cahayanya bahkan tak terlihat sedikitpun di beberapa bagian RW 03 Gang Venus, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Lorong gang inipun lebih mirip gua.

"Sering disebut wilayah tanpa matahari," ujar Dede (21), salah seorang warga yang sejak lahir sudah tinggal di kawasan ini kepada merdeka.com, Senin (1/8) kemarin.

Memang terdapat beberapa pemukiman padat di kawasan Tambora. RW 03 salah satu wilayah terpadat di Kecamatan Jati Besi dengan perkiraan jumlah penduduk mencapai 6.000 jiwa di wilayah seluas 6 hektare.

Data di RW, ada 1800 KK yang tinggal di kawasan tersebut. Namun data tersebut sebenarnya belum bisa menggambarkan betapa padatnya wilayah ini karena banyak pendatang baru yang keberadaannya tidak terdaftar oleh RT dan RW setempat.

lorong gelap di gang venus tambora

Lorong gelap di Gang Venus Tambora ©2016 merdeka.com/arin

Bangunan semi permanen setinggi dua sampai tiga lantai merupakan pemandangan biasa di gang Venus. Tak jarang setiap lantainya dihuni oleh keluarga yang berbeda.

Ketua RT 13 Tebe Anwar Sanusi menyatakan bahwa sekitar 75 persen penduduk adalah perantau yang mengontrak. Banyak dari mereka yang menempati kamar-kamar di atas rumah keluarga lain. Sangking padat dan sempitnya, jalan di antara rumah menjadi gelap karena bagian atap beberapa ruas gang tertutup oleh hunian warga di lantai atas.

"Lampu dan kipas angin nyala 24 jam," ujar Yaya (36), kakak tertua Dede yang tinggal bersamanya. Ya, beberapa warga memang harus menggunakan lampu sepanjang hari sebagai pengganti cahaya matahari.

Tidak hanya menerangi rumah sendiri, warga juga harus menyediakan penerangan di lorong jalan depan rumah mereka. Kondisi ini terutama dapat ditemukan di RT 02 dan RT 13, dua dari 15 RT dengan jumlah penduduk paling banyak.

Tanpa bantuan cahaya lampu, akan sulit bagi siapapun untuk dapat melihat. Pagi, siang, sore, atau malam. Cerah atau hujan, tak terasa di sini.

"Nggak tahu kalau hujan, ya gini-gini aja. Paling berasa hawanya," cerita Fatimah (33), warga RT 02 yang juga sudah menetap di Gang Venus sejak kecil.

Untuk memberikan asupan vitamin D kepada anaknya ketika bayi pun ia mengaku berjalan ke luar gang menuju jalan besar agar dapat menemukan sinar matahari.

Berhubung lampu harus selalu dinyalakan, Fatimah juga mengaku sebisa mungkin mengirit penggunaan barang elektronik lain demi menekan biaya listrik yang tidak murah.

Ketika berjalan di sepanjang gang selebar kurang lebih 1 - 1,5 meter ini, tetesan air sesekali jatuh dari atas. Tetesan tersebut berasal dari jemuran pakaian di antara dua rumah. Pakaian hanya sekadar digantung agar tertiup angin, tidak dijemur karena sinar matahari tidak ada.

"Diangin-angin gitu saja, nanti juga kering sendiri. Paling dua hari," ujarnya.

lorong gelap di gang venus tambora

Lorong gelap di Gang Venus Tambora ©2016 merdeka.com/arin

Tidak hanya baju jemuran, kandang burung dan kabel listrik juga banyak menggantung di sepanjang ruas gang. Karena kebanyakan rumah hanya berupa petak kamar kecil. Beberapa ibu rumah tangga terlihat mencuci di jalan antar rumah. Ada juga dapur warga yang terletak di luar.

Jalan semakin sempit karena banyak barang dan motor terparkir di depan rumah, membuat pengendara motor lain semakin sulit untuk lewat.

Kedua orang tua Dede dan Yaya membuka warung nasi di tengah gang gelap dan sempit tersebut. Dari usaha kecil inilah mereka menghidupi diri dan keluarga. Yaya, si sulung, sibuk mengurus anak-anaknya. Sedangkan Dede, si bungsu, sedang menganggur setelah meninggalkan pekerjaan terakhirnya. Bersama kedua orangtuanya, empat saudara lain, dan anak-anak mereka, total 11 kepala tinggal di dua rumah yang terletak bersebelahan.

Keluarga besar ini sudah menetap di Tambora sejak tahun 1985. Memang, kondisi tempat tinggal di Gang Venus jauh dari ideal. Sumpek, alias sesak dan sempit karena terlalu banyak penduduk. Namun keluarga Dede mengaku tidak merasa cukup.

"Nyaman aja karena rumah sendiri. Dari dulu cari nafkahnya di sini, mengadu nasib di sini," ujar Dede yang bekerja serabutan setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Hidup dalam kegelapan bukan masalah bagi mereka. Asal tidak mati lampu dan banjir, Dede dan keluarga sudah bersyukur. "Kalau mati lampu ya kayak gua aja, nggak bisa lihat apa-apa".

Untungnya, kawasan sekitar rumahnya tidak pernah kebanjiran. Mati lampu juga jarang. Oleh sebab itu tak pernah terpikir di benak Dede dan keluarga untuk meninggalkan Gang Venus, karena gang tanpa cahaya matahari ini adalah rumah mereka. [hhw]

Baca juga:
kerja
Gaji di DKI buat bayar kontrakan & transportasi, makanya susah kaya
Potret warga miskin Myanmar hidup dari kerikil
Kondisi hunian para tunawisma di tengah megahnya Paris

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Perumahan
  3. Kemiskinan
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini