Mengenal OK OCE bikinan Sandiaga yang ramai dikritik

Jumat, 12 Januari 2018 11:48 Reporter : Lia Harahap
Sandiaga Uno memperkenalkan OK OCE Stock Center. ©2017 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - One Kecamatan One Centre Entrepreneurship menjadi salah satu program yang gencar dijanjikan Sandiaga Salahuddin Uno semasa kampanye di Pilgub DKI Jakarta 2012. Kala itu, Sandi yakin program ini akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan lewat kewirausahaan.

Setelah resmi dilantik sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, Sandi memastikan program ini akan segera berjalan efektif di 44 kecamatan yang ada di Jakarta. Namun dalam perjalanannya, program ini beberapa kali mendapat pandangan miring.

Salah satu yang paling disorot soal permodalan bagi pelaku usaha yang sebelumnya pernah dijanjikan Sandi saat kampanye namun berbeda dengan kenyataannya. Kemudian soal besarnya bunga pinjaman bank mencapai 13 persen, dan pelatihan dianggap hanya cuap-cuap.

Lalu seperti apa sebenarnya konsep OK OCE yang digagas pengusaha muda itu untuk membina warga DKI menjadi pelaku wirausaha?

Kepada merdeka.com, Ketua Perkumpulan Gerakan OK OCE, Faransyah Jaya, memberikan penjelasannya. Berikut wawancara merdeka.com dengan Faransyah.

Sebenarnya seperti apa konsep OK OCE yang dijanjikan semasa kampanye dengan yang sekarang akan berjalan?

Konsep OK OCE pada saat zaman kampanye memang konsepnya gerakan tanpa anggaran. Saat gerakan terjadi saat itu, pelatihan oleh relawan kita secara gratis.

Setelah Pak Anies dan Pak Sandi dilantik, kemudian dibentukan Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO). Yang dalam perjalanannya kemudian jadi organisasi, relawan yang dulu terlibat kita ajak masuk dalam gerakan ini. Kemudian agar lebih tertata, dibuat Instruksi Gubernur yang disebut dengan Ingub Kewirausahaan.

Lalu pelatihan apa yang sebenarnya diberikan?

Sebenarnya perlu diketahui dulu, ada dua jenis pelatihan dan pembinaan kewirausahaan yang dilakukan Pemprov DKI. Pertama lewat Dinas UMKM, pakai anggaran Dinas UMKM dan Koperasi yang melibatkan 50 peserta di 44 kecamatan. Di sini, kita dalam hal ini PGO hanya sebatas memberikan kurikulum merekomendasikan narasumber, memberikan latar belakang orang yang memberi pelatihan.

Dan ini resmi pakai anggaran dinas. Anggaran itu dari untuk konsumsi, untuk kaos, untuk fotokopi materi.

Anggarannya?

Saya tidak tahu pasti karena itu ada di dinas.

Lalu jenis pelatihan lainnya?

Di luar itu ada pelatihan yang tidak pakai anggaran. Dan ini dilakukan tim penggerak seperti Jakarta Berdaya. Biasanya ini tempatnya di kecamatan bisa, di kantor wali kota kita. Tapi tidak dapat fotokopi materi, tidak dapat makan, dan tugas tim ini adalah menjelaskan soal 7 PAS.

Mencari peserta pelatihannya seperti apa?

Kalau ikut pelatihan yang dilakukan dinas berarti mendaftar dari kecamatan dan kelurahan, kalau untuk mencari tim penggerak dari komunitas atau dari media sosial. Peserta gratis, kecuali ikut bazar dikenakan biaya.

Apa saja yang bisa dilakukan warga selama ikut OK OCE?

Biasanya, sebelum masuk ke materi inti kita dengar keluh kesah mereka, lalu kita arahin, solusinya seperti apa nah itu ada di materi, coaching itu lebih mengerti dan kebanyakan mereka yang ikut mengaku berhasil setelah menerapkan hasil pelatihan.

Apakah banyak yang mengeluhkan soal modal?

Ya ada-ada, rata-rata penyebab sulit dalam permodalan adalah laporan keuangan yang tidak memenuhi syarat. Kalau laporannya baik, pasti bank akan akan kasih pinjam.

Lalu PGO membantu apa dalam hal permodalan?

PGO bantu fasilitasi tidak hanya dengan Bank DKI juga bank lain. Dan ini untuk semua jenis usaha bahkan jasa juga kita bantu.

Sudah ada yang berhasil?

Karena sejak kampanye sudah berjalan, banyak yang melaporkan berhasil.

Ukuran berhasilnya?

Omzet dari sebelum ikut dan sesudah.

Sejauh ini yang ikut usaha apa saja?

Ada makanan minuman, busana, kerajinan tangan, start up juga ada satu dua. Ini terbuka untuk semua usia, asal serius berusaha.

Soal katanya pendamping dapat gaji UMR?

Saya rasa itu miskomunikasi, karena kita juga tidak dilibatkan saat pembuatan anggaran. Tapi menurut saya tahu depan bisa lebih tinggi supaya pendamping bisa maksimal minimal punya skill coaching. Karena khawatirnya, kalau digaji rendah mereka akan pindah ke tempat lain. Sebab normalnya gaji profesional itu Rp 5 sampai Rp 7 juta untuk kompetensi pelatihan dan training.

Cara menjadi pendamping?

Dinas UMKM akan bikin pengumuman, lalu mereka mendaftar ada tes tertentu, ada syarat dan ketentuan, syarat pendidikan D1, syarat usia, kita tanyakan apakah benar keinginan menjadi pendamping.

Untuk melatih pendamping, PGO sudah siapkan berapa narasumber?

Profesional coach sudah ada 23, syaratnya standar S1, punya sertifikat pelatihan, kasih CV pengalaman usaha dan pernah memberikan pelatihan di mana saja, lalu kita lalu kita rekomendasi.

Gajinya?

Rp 1,4 juta sekali pertemuan. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. OK OCE
  2. Anies Sandiaga
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini