Memutus rantai tawuran di Manggarai ala Sumarsono

Rabu, 8 Maret 2017 10:10 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Memutus rantai tawuran di Manggarai ala Sumarsono tawuran di manggarai. ©2017 foto TMC

Merdeka.com - Tawuran antar RW 004 Manggarai, Jakarta Selatan dengan warga Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat kembali terjadi, pekan kemarin. Tawuran susulan kembali pecah Senin (6/3), diduga merupakan aksi balas dendam atas tewasnya dua warga tewas dalam peristiwa tersebut.

Salah satu warga Jalan Tambak, Fitri Yanti (36) menuturkan, tawuran itu dipicu pelemparan petasan terhadap warga Jalan Tambak saat melintas di Jalan Manggarai menuju kawasan Puncak, Bogor, pada Minggu (5/3) siang. Namun, sesaat setelah warga pulang ke rumah dan melintasi kawasan itu, pelemparan petasan kembali terulang hingga terjadi tawuran.

"Pas Minggu sore itu sudah mulai ada yang melempar petasan, cuma kita nggak ngelayanin. Kurang lebih pukul 16.30 WIB mulai lagi, baru kita ikut berantem soalnya warga kita sudah mulai pada pulang dari Puncak," papar Fitri kepada merdeka.com, Selasa (7/03).

Dia mengatakan, dari peristiwa tawuran ini belasan warga dari Jalan Tambak, terluka. Beberapa korban luka sempat di bawa ke rumah sakit. "Yang luka kena mimis, kaca, batu. Kemaren di bawa ke RS. Cipto Mangunkusumo, kalau yang nggak parah RS. Tambak," paparnya.

Warga lain Erna Wati (49) mengamini cerita yang disampaikan Fitri. Saat kejadian Erna sedang berada di rumah yang lokasinya, dekat dengan tempat tawuran. Erna menceritakan, tawuran di Jalan Tambak tidak hanya sekali ini terjadi. Lebih-lebih, imbuh Erna, jika sudah ada yang meninggal biasanya akan menimbulkan dendam.

"Nggak bisa dicegah (tawuran), udah beberapa kali damai, tapi tetap aja begitu lagi. Apalagi sekarang sudah ada yang meninggal. Biasanya kalau sudah ada yang meninggal ada dendam," paparnya.

Polisi menyebut dua korban tewas merupakan warga Manggarai. Keduanya tewas setelah tertembak senapan angin di bagian dadanya.

"Korban tewas setelah diduga tertembak senapan angin di dadanya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan, Senin (6/3).

Korban tewas diidentifikasi bernama Sutan Rafi Hakim Lubis (16) dan Fikri Fadhlur Firmansyah (21). Keduanya sempat dilarikan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, namun nyawanya tak tertolong.

Polisi masih menyelidiki penyebab tawuran tersebut. Dugaan sementara tawuran itu dipicu hal sepele dan buntut dendam atas keributan sebelumnya.

Untuk memutus rantai tawuran itu kepolisian berencana akan membentuk Komunitas Kawasan Anti Tawuran. Hal itu sebagai bentuk antisipasi mencegah tawuran yang sering terjadi.

"Kita renacana tahap awal akan membentuk dua Komunitas Kawasan Anti Tawuran, pertama di Jalan Tambak sama Manggarai dan di Fly Over Pasar Rebu Jakarta Timur," ujar Kasubdit Binmas Polda Metro Jaya, AKBP Jajang Hasan Basri di Mapolda Metro Jaya, Selasa (7/3).

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, untuk mengantisipasi tawuran kembali terjadi pihaknya akan memasang pagar pembatas. Nantinya, pagar tersebut akan dipasang lebih kurang sejauh 400 meter.

"Jadi 400 meter akan dipasang pagar pembatas jalan, mulai terowongan sampai ke arah Jalan Tambak, saya sudah koordinasi agar bisa cepat dipasang," ujarnya ketika dikonfirmasi, Senin (6/3).

Selain itu, kata Pardede, pihaknya akan mengupayakan agar ada langkah preventif mencegah terjadinya kembali tawuran. Salah satunya dengan membuat kegiatan outbond bersama dan membangun posko yang sedang dibahas dengan tokoh masyarakat setempat.

"Kita jajaki juga giat lain seperti di Johar Baru yaitu mungkin pesantren kilat dan lainnya sehingga kalau saling kenal diharapkan bisa mencegah kembali tawuran," katanya.

Terpisah, pelaksana Gubernur DKI Jakarta Sumarsono menyetujui jika anak sekolah yang ikut dalam aksi tawuran itu diberikan sanksi. Dia mengatakan, bukan hanya anak-anak yang ikut tawuran tetapi guru yang anak didiknya ikut tawuran juga harus diberikan sanksi agar mengajar anak muridnya dengan baik.

"Kalau sekolah, 1.000 persen saya setuju diberhentikan dari sekolah. Kalau perlu gurunya juga diberi sanksi untuk mendidik anak-anak," kata Sumarsono di Balai Kota Jakarta, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (7/3).

Sumarsono mengatakan, harus ada pendekatan sosiologis untuk mengatasi hal ini. "Pendekatan sosiologi harus dilakukan jadi tidak bisa sekedar diselesaikan ditunggu oleh polisi, besok akan balik lagi, harus ada solusi yang fundamental," ujarnya.

Dia mengatakan akan sudah memberikan perintah untuk melakukan pendekatan jangka pendek. Baik pendekatan jangka pendek, menengah dan panjang. Bahkan, lanjut Sumarsono, pihaknya tak segan-segan untuk menata ulang kawasan yang menjadi lokasi tawuran.

"Panjangnya kalau terpaksa harus ada penataan ulang kawasan, ya ditata ulang itu kalau implikasi harus dilakukan sambil dikaitkan kawasan itu akan kena juga sistem transportasi terpadu antar moda mulai kereta api, TransJakarta, LRT dan MRT kan semua jadi terpadu, kawasan itu akan ditata ulang juga jangka panjang. jangka pendek adalah, bagaimana membangun kesadaran mereka," ungkapnya.

Selain itu, Sumarsono juga menyarankan untuk membuat sekolah kreatif. Hal itu dilakukan untuk membantu anak-anak menyalurkan bakatnya dibandingkan dengan ikut aksi tawuran.

"Harus dibikin sekolah untuk generasi muda. TKK, atau tempat kumpul kreatif yang penting untuk generasi muda sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk mereka. Energi yg semula untuk tawuran bisa digeser untuk kreatif. Ada di nota kerja untuk saya, insya Allah akan jadi prioritas terutama di daerah yg sering tawuran," tutupnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini