Konsep Naturalisasi Sungai Anies Dinilai Tak Bisa Diterapkan di Kali Ciliwung

Sabtu, 4 Mei 2019 07:45 Reporter : Merdeka
Konsep Naturalisasi Sungai Anies Dinilai Tak Bisa Diterapkan di Kali Ciliwung anies baswedan. ©Liputan6.com/Ady Anugrahadi

Merdeka.com - Pakar Arsitektur Perkotaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Jehansyah Siregar mengatakan, konsep naturalisasi sungai merupakan pengembalian ekosistem sungai untuk kembali ke fungsi lebih alami. Akan tetapi, Jehansya menilai konsep naturalisasi tidak bisa diterapkan pada pembenahan sungai besar untuk menampung air berdebit tinggi seperti Kali Ciliwung.

Naturalisasi diketahui merupakan program strategi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengantisipasi banjir di Jakarta. Naturalisasi kata dia, pengembalian fungsi sungai ke fungsi yang lebih alami.

"(Naturalisasi untuk) sungai-sungai kecil, kemudian kawasan sekitar sungainya itu masih kurang permukiman penduduknya, itu bisa dilakukan," kata Jehansyah di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (3/5).

Selain itu, dia juga mengatakan sekitar Kali Ciliwung merupakan lokasi pemukiman warga. Sehingga akan mempersulit proses naturalisasi sungai tersebut.

"Jadi, boleh saja Pak Gubernur punya konsep itu karena sungai Jakarta itu 13 sungai besar dan sungai kecil banyak. Nah itu konsep untuk sungai-sungai kecil naturalisasi," ucapnya.

Jehansyah menyarankan agar solusi strategi banjir dapat penanganan lebih besar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Mengingat permasalahan banjir tak hanya jadi masalah di Ibu Kota, tetapi kota penyangga juga.

Tak hanya itu, dia juga meminta masyarakat tak perlu mempertentangkan pembangunan bendungan Sukamahi. "Karena lintas provinsi lintas kabupaten/kota dan masalah beratnya itu ada di induknya (DKI Jakarta). Ini yang belum ada program-programnya," papar dia.

Karena hal itu, dia mendorong Kementerian pimpinan Basuki Hadimuljono tak menyalahkan konsep dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies.

"Karena memang penanganannya beda seperti saya katakan tadi BBWSCC itu di bawah menteri PU apa solusi dia untuk Kali Ciliwung apa solusi dia untuk kali Pesanggrahan. Enggak perlu nunggu naturalisasi enggak perlu diperbandingkan," jelasnya.

Kurangnya Lahan Basah Jadi Penyebab Kebanjiran di Jakarta

Jehansyah menyatakan hilangnya lahan-lahan basah menjadi penyebab utama banjir di Jakarta. Dia menyebut lahan basah tersebut yakni persawahan, rawa, hingga hutan baka. Sebab, saat ini lahan-lahan tersebut telah berubah menjadi pemukiman warga serta daerah perindustrian.

"Di banyak lokasi, terutama di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, lahan-lahan basah telah diurug untuk dibangun permukiman, pabrik, dan pergudangan," kata Jehansyah.

Dia menjelaskan Jakarta hanya memiliki lahan basah sebesar 5 dari minimal 30 persen saja. Lahan basah tersebut seharusnya tersebar di Jakarta Barat ataupun Utara.

Karena itu, Jehansyah menilai hal tersebut merupakan bentuk gagalnya tata ruang yang ada di Ibu Kota. Sebab, sejumlah bangunan yang didirikan atas dasar bisnis semata.

"Hampir semua peraturan di Jakarta bersifat tambal sulam karena hanya diatur berdasarkan SK Gubernur yang hanya menguntungkan para pengembang besar," papar dia.

Dia juga mencontohkan salah satu kawasan di Jakarta Utara yang setelah ada perkembangan bisnis tidak memiliki resapan air. Jehansyah juga menyarankan agar Pemprov DKI melakukan audit sebagai dasar penutupan dasar bangunan yang tidak semestinya.

"Ini loh, kompleks ini harusnya koefisien dasar bangunan nya sekian, sekarang sudah bertambah, dasar bangunannya misalnya jadi lebih dari 40 persen. Tinggal gimana nanti apakah solusinya dikembalikan atau dibuat danau," jelasnya.

Reporter: Ika Defianti
Sumber: Liputan6.com [gil]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini