Jika gagal rayu Menkeu, Jokowi angkat tangan soal MRT

Jumat, 7 Desember 2012 11:20 Reporter : Muhammad Sholeh
Jika gagal rayu Menkeu, Jokowi angkat tangan soal MRT Jokowi. ©2012 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap getol merayu pemerintah pusat untuk melakukan renegosiasi dalam pembagian pengembalian beban utang kepada Japan International Cooperation Agency (JICA). Sejauh ini, pemerintah pusat belum memberikan lampu hijau.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo masih bersikeras agar porsi pemerintah pusat mengembalikan beban utang tersebut dengan porsi yang lebih besar. 70 Persen untuk pemerintah pusat dan sisanya 30 persen ditanggung pemerintah provinsi. Jika menggunakan kesepakatan yang selama ini yaitu 42 persen untuk pemerintah provinsi dan 58 persen ditanggung pemerintah pusat, maka secara hitung-hitungan harga tiket jatuh sebesar Rp 38 ribu.

"Sekarang kami bicara masalah sharing beban investasinya yang ada di depan ini. Kalau itu dihitung-hitung, lah kalau bebannya itu 42:58 jatuhnya tiket itu Rp 38 ribu. Karena kalau investasinya bisa dinaikkan jatuhnya bisa hanya kira-kira Rp 19 ribu, berarti kalau kita mau subsidi ke Rp 10 ribu kita tanggung Rp 9 ribu," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Jumat (7/12).

Permintaan Jokowi dalam pembagian persentase pengembalian 70:30 bukan tanpa dasar. Mantan wali kota Solo ini menjelaskan, perbandingan beban pengembalian pinjaman ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP).

"Jadi ini kita bicara investasinya dulu. Karena di PP nya bahwa share profit itu menjadi beban Pemerintah Pusat. Share profit itu kalau dalam MRT ya terowongannya, relnya, stasiunnya. Kalau di negara manapun juga ya yang namanya subsidi itu pasti. Tapi nanti subsidi itu bagian kita, bagian DKI. Pemerintah pusat enggak usah ngurus subsidi," jelas Jokowi.

Jika perbandingan besaran beban pengembalian kepada JICA itu tetap berlaku 42:58, maka harga tiket nantinya menjadi Rp 38 ribu dan subsidi yang dibayarkan Pemprov DKI akan mahal, Rp 28 ribu. Karena, harga tiket yang dipatok adalah Rp 10 ribu.

"Wah berarti saya harus subsidi berapa nanti. Misalnya, sharing beban tadi pusat memberikan 70 jadi harga tiketnya menjadi Rp 19 ribu. Jadi kita hanya subsidi Rp 9 ribu. Tapi ya subsidi ini masih gede banget. Dari Rp 19 ribu kita beri Rp 9 ribu, jadi Rp 10 ribu. Yang namanya subsidi itu mestinya Rp 10 ribu itu kita memberi Rp 1.000. Rp 19 ribu kita memberi hanya Rp 5 ribu," jelas Jokowi.

"Kalau porsinya dibalik, kita belum hitung lagi, nah kita kuat enggak nanti subsidi. Kalau enggak kuat ya angkat tangan. Angkat tangan itu berat itu, ya angkat tangan, gini tangannya diangkat," ujarnya dengan ekspresi mengangkat kedua tangannya ke atas. [has]

Topik berita Terkait:
  1. Jokowi Ahok
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini