Jejak Pabrik Opium di Cikini

Jumat, 4 Oktober 2019 07:03 Reporter : Yunita Amalia
Jejak Pabrik Opium di Cikini Gambar Kepopuleran Candu di Masyarakat. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Rel berkarat di kawasan Cikini menjadi saksi bisu peredaran candu di Jakarta. Di sini dulu beroperasi salah satu pabrik opium terbesar. Pemerintah Hindia Belanda sampai membangun sebuah stasiun khusus untuk lalu lintas barang memabukkan itu.

Jalan kecil di kawasan Cikini Kramat, Jakarta Pusat saya singgahi sore itu. Lokasinya tak jauh dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Keluar masuk gang yang padat dengan rumah penduduk.

Di sini rel kereta api peninggalan era kolonial masih tersisa. Kondisinya sudah berkarat. Sudah berpuluh tahun tak terpakai.

Dahulu, rel berfungsi sebagai jalur pengangkut opium zaman Hindia-Belanda. Opium atau biasa disebut candu, jadi tanaman terlarang saat ini. Alasannya, karena mengandung zat senyawa narkotika. Namun kala Belanda berkuasa, opium legal diperjualbelikan. Bahkan menjadi sumber penghasil uang terbesar.

bekas rel kereta di cikini

Pemerintah Belanda memercayakan pengelolaan opium kepada masyarakat turunan China. Dari pajak opium, pemerintah kolonial mengeruk pajak yang sangat besar. Opium sampai menjadi salah satu pengisi kas terbesar mereka.

Rumah-rumah pemadat berdiri mulai dari kota besar hingga desa-desa. Di bilik-bilik sempit, para pemadat mabuk terbuai asap candu sepanjang hari. Sejumlah wanita menyalakan pipa untuk mereka.

Para pecandu opium ini terdiri dari semua lapisan. Mulai dari pegawai pemerintah, petani hingga orang-orang kaya. Adalah hal umum jika tuan rumah menyediakan pipa opium untuk tamu-tamunya dalam sebuah pesta.

Penduduk asli Cikini hanya mengetahui sedikit soal kejayaan bisnis opium itu. Aini (80), misalnya, dia hanya mendapat cerita bagaimana rel-rel itu dilintasi kereta yang mengangkut kayu bakar. Mungkin untuk bahan bakar di pabrik opium.

"Dulu di sini melintas kereta, asapnya hitam. Yang saya tahu bawa kayu bakar," kata Aini.

bekas rel kereta di cikini

Sementara Stasiun Salemba yang dulu pernah berdiri, tak ditemukan lagi jejaknya.

Sejak 2 September 1981, PJKA Inspeksi Jakarta resmi menutup stasiun ini beserta jalur dan seluruh layanannya. Sulit menemukan sisa-sisa bangunan stasiun Salemba. Sudah bercampur dengan rumah-rumah penduduk di sana. Ada yang mengatakan lokasinya jadi sebuah sekolah.

Di kawasan Cikini Kramat pernah berdiri pabrik opium. Lokasinya saat ini menjadi kampus Pascasarjana Universitas Indonesia Salemba.

Pakar sejarah Jakarta Asep Kambali, membenarkan kawasan Cikini masa itu memiliki rel kereta menuju pabrik opium. Rel itu memanjang dari Stasiun Cikini ke arah kampus pasca sarjana Universitas Indonesia. Saat masa Hindia Belanda, opium menjadi barang legal dan mendatangkan keuntungan besar bagi pemerintah kolonial.

"Zaman Belanda opium itu legal," kata Asep, saat berbincang dengan merdeka.com, Senin 23 September 2019 di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Peredaran opium atau candu di sekitar Jakarta diperkirakan marak tahun 1860 hingga 1910.

Dilansir dari Jakarta.go.id, candu dijelaskan sebagai tanaman yang memiliki nama latin Papaver Somniferum. Termasuk suku Papaveraceae.

Tinggi tanaman ini bisa mencapai 1,5 meter. Akarnya seperti gelendong, batang berongga dengan cabang yang sedikit. Daunnya tumbuh berseling, memeluk batang, berbentuk bundar telur jorong dengan tepi bergerigi dan bergelombang. Bentuk bunganya besar, berwarna putih keunguan atau ungu kemerahan, banyak benang sarinya, dan mudah luruh.

Kini peredaran opium di Cikini tinggal kenangan. Kawasan Cikini terus berbenah. Asep mengatakan, perubahan satu wilayah adalah keniscayaan, mengikuti kebutuhan zaman.

Namun, mengingat Cikini masuk kawasan cagar budaya, proses revitalisasi sedianya harus mengedepankan pelestarian budaya. Surat Keputusan Cikini sebagai cagar budaya termaktub dalam SK Gubernur nomor 475 tahun 1993. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini