Homoseksual penyumbang angka HIV tertinggi di DKI

Jumat, 3 November 2017 14:05 Reporter : Ahda Bayhaqi
Homoseksual penyumbang angka HIV tertinggi di DKI Ilustrasi homoseksual. ©Shutterstock/Alvaro Pantoja

Merdeka.com - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Piharto mengungkap penyumbang angka pengidap HIV tertinggi di DKI Jakarta disebabkan hubungan seksual laki-laki dengan laki-laki. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan jarum suntik mulai berkurang sebagai sarana penularan HIV.

Dia menambahkan DKI Jakarta juga mendapatkan predikat kedua tertinggi penderita HIV/AIDS di Indonesia.

"DKI punya angka HIV itu nomor dua di Indonesia sejak 2009 sampai triwulan 2017 itu ada 46.758 dengan angka AIDS ada 8.769," ungkap Koesmedi saat jumpa pers pengungkapan kasus siber pornografi sesama jenis di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (3/11).

"Dulu memang penularan terbanyak akibat jarum suntik berganti. Belakangan ini peningkatan HIV/AIDS tertinggi pada kelompok seksual LSL (Laki Sama Laki)," imbuhnya.

Ia mencontohkan pada kasus prostitusi gay di Gym Atlantis di Kelapa Gading, delapan dari sepuluh pengunjung yang terjaring, mengidap HIV. "Sebagai contoh kejadian di Gading dari 100 berapa orang, ada 10 orang, 8 positif HIV," ungkapnya.

Koesmedi mengimbau para pengidap untuk segera datang ke Puskesmas ataupun Rumah Sakit untuk menanggulangi penularan HIV/AIDS. Khususnya di DKI ada 44 Puskesmas dan 48 Rumah Sakit yang bisa menangani penyakit HIV. Ia meyakinkan bahwa pengobatan itu tidak dipungut biaya dan kerahasiaan pasien akan dijaga.

"44 Puskesmas sudah bisa melakukan pemeriksaan tersebut dan 48 Rumah Sakit di DKI sudah bisa melakukan pemeriksaan termasuk RS Polri dengan Klinik Matahari," kata dia.

Ia menjamin, walaupun tidak bisa mengobati, bisa menekan penularan bagi pengidap para pengidap. "Kita sudah berhasil ada satu orang tua yang HIV dia kawin anaknya tidak HIV," ucapnya.

Satgas Siber Bareskrim Polri menangkap TG, pelaku penyebar konten dan menjajakan praktik homoseksual di media sosial pada Selasa (31/10). Ketika ditangkap, pelaku berontak dan mengaku mengidap HIV.

Lantas, polisi membawanya ke RS Tarakan dan dirujuk ke RS Polri untuk ditangani di Klinik Matahari. Namun, tidak ada kepastian apakah TG memang benar mengidap penyakit HIV.

Melihat fenomena ini pun, Koesmedi meminta kepada semua pihak untuk tidak melakukan perilaku seks menyimpang. "Jangan berhubungan dengan cara yang tidak sesuai," tandasnya. [eko]

Topik berita Terkait:
  1. Hiv/aids
  2. Gay
  3. Homoseksual
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini