Forum Takmir Masjid Tolak Politisasi dan Kampanye Pilpres di Tempat Ibadah

Jumat, 11 Januari 2019 15:03 Reporter : Ya'cob Billiocta
Forum Takmir Masjid Tolak Politisasi dan Kampanye Pilpres di Tempat Ibadah Halaqoh dan Silaturahim Takmir Masjid di Masjid Al Islah Kementerian Koperasi dan UKM.

Merdeka.com - Di tahun politik 2019, Koordinator Forum Takmir Masjid (FSTM) DKI Jakarta Ahmad Muslim mengajak seluruh takmir untuk melakukan upaya pencegahan, agar masjid tidak dijadikan alat media politik serta disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk berkampanye.

"Realita saat ini, tuduhan kafir, musyrik dan munafik terhadap paham yang berbeda mengindikasikan radikalisme agama telah berkembang di masjid-masjid tertentu, bisa menjadi pemicu perpecahan bangsa. Oleh karena itu, menjadi tugas penting takmir masjid bersama tokoh agama dan masyarakat untuk mengikis habis sebelum tumbuh menjadi besar," kata Ahmad Muslim dalam acara Halaqoh dan Silaturahim Takmir Masjid di Masjid Al Islah, Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta Selatan, Kamis kemarin.

Menurutnya, hal itu dilakukan agar hubungan keharmonisan umat tetap terjaga, meskipun berbeda pandangan pilihan di Pemilu 2019, dan masjid kembali berfungsi sebagaimana mestinya yaitu tempat ibadah menebar rahmat, kebaikan dan sebagai wadah pemersatu umat, bangsa dan negara. Sehingga dakwah di masjid menjadi lebih sejuk tanpa kepentingan kampanye politik.

Dikatakan Muslim, isu politik yang diangkat ke permukaan seharusnya bagaimana cara mengurangi kemiskinan dan pengangguran bukan dengan kampanye hitam, fitnah dan berita bohong agar lebih subtantif dan menciptakan sistem demokrasi yang damai.

"Maka dari itu dalam acara Halaqoh dan silaturrahim ini kami Forum Silaturrahim Takmir Masjid (FSTM) Jakarta menyatakan menolak segala bentuk politisasi masjid yang dapat memecah belah persatuan umat, dengan menjaga peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT, pusat gerakan dakwah, pendidikan dan kegiatan sosial keagamaan lainnya," tegas Muslim.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk mendukung gerakan mengembalikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta menyerukan kepada umat Islam untuk turut serta terlibat aktif dalam menjaga dan memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah menebar kebaikan, dan tempat penyampaian ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

"Menolak paham radikalisme yang menyusup dari masjid ke masjid sebagai wujud menjaga dan merawat NKRI, dengan menjaga persatuan dan kesatuan untuk mencintai negara Indonesia guna mencapai Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafuur," imbuhnya.

Sementara itu, Ustaz Soleh Sofyan mengatakan merujuk pada riwayat hadis Nabi Muhammad SAW, terminologi mesjid tidak tidak lepas dari fungsinya yang digambarkan sebagai sajadah atau tempat sujud, tempat salat yang kemudian ditafsirkan sebagai salat berjemaah.

Menurutnya, ada dua tipe orang yang dilarang masuk masjid, yaitu orang yang enggan sujud kepada Allah dan orang sombong kepada Allah. Sombong itu akan memunculkan amarah, kalimat kasar dan merendahkan orang lain. Oleh karena itu, kalau ada ulama yang kalimatnya merendahkan orang berarti dia sombong dan tidak layak masuk masjid.

"Jangan sampai jadikan masjid sebagai sarana untuk memecah belah umat khususnya di tahun politik. Silakan mau pilih pasangan calon siapa saja, yang jelas saya tidak mengarahkan ke salah satu paslon. Kalau mau memilih pemimpin itu harus salat istikhoroh, tidak perlu ribut-ribut di sosial media. Jangan sampai hubungan suami dan istri terpecah belah karena perbedaan pilihan capres cawapres, begitu juga dengan hubungan keluarga yang adem ayem jangan sampai terbelah karena pilpres," paparnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini