Dulu Bambu Getah-getih, Kini Instalasi Batu Beronjong Hiasi Bundaran HI

Kamis, 22 Agustus 2019 11:12 Reporter : Hari Ariyanti
Dulu Bambu Getah-getih, Kini Instalasi Batu Beronjong Hiasi Bundaran HI Instalasi Bronjong Batu di HI. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Setahun lalu, menjelang perhelatan Asian Games, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memasang karya instalasi dari bahan bambu di kawasan Bundaran HI. Instalasi tersebut karya seniman Joko Avianto.

Saat pemasangan instalasi ini, masyarakat ada yang pro dan kontra. Pihak yang kontra menilai dari segi anggaran yang dinilai terlalu besar yaitu Rp550 juta.

Setelah 11 bulan menghiasi kota, bulan lalu instalasi bambu itu dibongkar. Alasannya karena rapuh dan dinilai membahayakan, apalagi berada di tengah jalan protokol.

Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Provinsi DKI Jakarta, Wibi Andrino menyayangkan pembongkaran 'Getah-Getih', apalagi anggaran yang digelontorkan tak sedikit.

Wibi menilai pembongkaran instalasi itu menunjukkan tidak matangnya perencanaan pembangunan pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Untuk itu, dia menyarankan, DPRD DKI Jakarta meminta penjelasan eksekutif.

"Sekarang Rp 550 juta harus hilang begitu aja dalam waktu setahun tanpa ada guna bagi masyarakat. Ini bukti perencanaan yang dilakukan Anies tidak matang," tegasnya saat dihubungi, Kamis (18/7).

Menurutnya, anggaran yang ada di APBD DKI harus dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat. Jangan sampai program atau pembangunan yang dilakukan hanya berlaku sementara tanpa memberikan nilai positif bagi warga Ibu Kota.

Instalasi bambu itu kini telah berganti dengan susunan batu beronjong, disebut gabion. Di atas susunan batu ini, dihiasi dengan tanaman bunga sehingga nampak semarak. Di sekelilingnya juga ditanami tanaman anti polutan seperti lidah mertua dan bougenville.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi DKI Jakarta, Suzi Marsitawati menyampaikan, gabion ini merupakan inisiatif pihaknya dan tidak melibatkan seniman. Anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 150 juta.

Suzi mengatakan, daya tahan gabion lebih lama jika dibandingkan sebelumnya. Gabion diperkirakan bisa bertahan sampai dua tahun. Menurutnya ornamen kota bersifat dinamis dan bisa diganti sewaktu-waktu agar warga tak bosan.

"Namanya instalasi bisa berganti-ganti. Tiap ornamen kota itu berganti-ganti, dinamis sifatnya. Tergantung Dinas Kehutanan mau ganti atau enggak. Misalkan ada yang lebih bagus, lebih menarik, supaya warga enggak bosen kan," kata Suzi, Rabu (21/8).

Dipilihnya batu agar terlihat natural. Gabion itu juga menggambarkan tiga elemen; tanah, air, udara dan bertujuan untuk menyelaraskan lingkungan.

"Kita mengambil supaya natural masuk ke dalam kota. Kemudian tiga pilar karena tanah, air, udara untuk penyelarasan lingkungan. Di bawahnya kita kasih tanaman sebagai contoh bebas polusi. Sansivieira, bougenville, palem kol, tapak dara, lolipop, alang-alang sebagai estetika," pungkasnya. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini