Derita nelayan Muara Angke 4 hari diterjang banjir rob

Kamis, 9 Juni 2016 05:18 Reporter : Muchlisa Choiriah, Muhamad Agil Aliansyah
Derita nelayan Muara Angke 4 hari diterjang banjir rob Banjir rob di Muara Angke. ©2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Sudah empat hari banjir pasang air laut (ROB) menggenangi kawasan Pelelangan ikan di Pelabuhan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Banjir sekitar 30 hingga 50 sentimeter ini berimbas omzet para pedagang merosot hingga 80 persen.

"Omzet kita menurun drastis, dari 70 persen hingga 80 persen," kata Apang, pedagang pelelangan ikan di Muara Baru, Rabu (8/6).

Apang mengungkapkan, penyebab omzet tersebut menurun karena jumlah pembeli berkurang. Menurutnya, tak ada orang yang rela banjir-banjiran dengan bau menyengat hanya untuk membeli ikan.

"Pembeli juga jadi enggak pada datang. Ini sudah empat hari. Pemerintah cepat ini lah tanganin banjir bagaimana begitu. Jadi kalau ada rob jangan banjir ke mari karena omzet kita turun drastis," paparnya.

Penderitaan pedagang ikan tak sampai situ. Menurut Apang, selama banjir mereka harus menggunakan lilin untuk aktivitas sehari-hari akibat listrik dimatikan.

"Ini sudah hampir 4 hari. Kita pakai lilin doang. Kalau dibilang sih bagaimana ya saya juga namanya kita pedagang tinggal tunggu solusi pemerintah tolong dipercepat lah," tambahnya.

Banjir di Kawasan Pelabuhan dan Pelelangan Ikan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, membuat daerah itu direncakan Pemprov DKI digusur. Penggusuran itu berlangsung dalam kurun waktu 2 minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Menurut warga, wacana penggusuran sebetulnya sudah lama, namun hingga kini belum ada perubahan dan penjelasan lebih jelas oleh pemerintah. Penggusuran ini pun rencananya warga akan diberikan ganti rugi sebesar Rp 1 Juta.

"Iya kami dapat infonya akan digusur. Penggusuran dikarenakan wilayah sini kumuh dan sering terjadi banjir rob. Jadi nanti penggusuran dilakukan untuk membuat tanggul menahan air laut," kata Hesti (36), warga sekitar yang sudah tinggal di wilayah tersebut sejak 20 tahun lamanya, Rabu (8/6).

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, banjir rob di Pantai Mutiara, Jakarta Utara, bukan karena proyek reklamasi. Sepengetahuannya, rob terjadi karena gaya tarik bulan terhadap bumi.

Ahok, sapaan Basuki menjelaskan, jangan menganggap naiknya permukaan air laut seperti di dalam akuarium. Apalagi membandingkan laut di Indonesia dengan laut di negara lain.

"Kalau air laut pasang karena reklamasi, terus air surut karena apa? Ada yang gali tanah di laut? Kalau kamu pakai teori itu, berarti kayak kolam akuarium, berarti kamu masukin tanah airnya naik. Gimana supaya air akuarium turun? Tanahnya dikeruk," kata Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur ini mengimbau masyarakat tidak mudah percaya dengan pemahaman sempit. "Saya mau tegaskan masyarakat jangan mau dibodohi. Pasang surut itu karena gaya tarik bulan, gravitasi."

Ahok menambahkan, debit air laut terus meningkat karena terjadi pemanasan global yang menyebabkan es di kutub utara dan kutub selatan mencair menjadi pemicu banjir di Muara Angke. "Air muka laut tambah banyak karena air dalam bentuk es berkurang karena pemanasan global. Jadi posisi di muka bumi ini lebih banyak airnya," tutup Ahok. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini