Cerita Ahok-Prasetyo, 2 sahabat yang kini jadi musuh bebuyutan

Rabu, 25 Maret 2015 07:16 Reporter : Fikri Faqih, Lia Harahap
Cerita Ahok-Prasetyo, 2 sahabat yang kini jadi musuh bebuyutan Mediasi Ahok dan DPRD DKI. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Sudah hampir tiga tahun Basuki Tjahaja Purnama menjabat di Pemprov DKI. Sejak awal mula menginjakkan kaki di kantornya pula, Ahok, sapaan Basuki, sudah mendapatkan perlawanan baik dari PNS maupun mitra kerjanya di DPRD.

Apalagi, di awal kepemimpinannya Ahok sudah menunjukkan tidak akan kompromi pada pemain proyek yang memakan duit negara. Jelas saja sikap keras Ahok membuat politikus Kebon Sirih resah.

Ketidakcocokan DPRD pada Ahok makin memuncak saat mantan bupati Belitung Timur itu ngotot paling berpeluang menjadi gubernur menggantikan Joko Widodo yang maju di Pilpres. Sebagai pejabat tak berpartai, karena sudah keluar dari Gerindra, Ahok dianggap tak pantas menduduki kursi DKI 1.

"Logika berpikirnya begini, anggota DPR atau DPRD itu kalau keanggotaannya di partai dicabut, otomatis dia juga berhenti dari DPR ataupun DPRD. Gubernur dan Wakil Gubernur kan juga diusulkan partai. Kalau dia keluar dari partai, bagaimana?" ucap Taufik, kala itu.

Tak cuma dari DPRD, suara penolakan Ahok sebagai gubernur juga datang dari Ormas FPI. Penolakan mereka pun mendapat dukungan dari DPRD.

"Kita akan lakukan upaya pelengseran Ahok melalui DPRD. DPRD bisa mengajukan pemecatan Ahok ke Kemendagri. Contohnya, seperti pelengseran Aceng Fikri," ucap Ketua FPI, Habib Rizieq.

Melihat kondisi itu, Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi, coba menengahi. Dia menyebut menyebut Ormas tak pantas ikut campur soal pelantikan Ahok.

"Itu bukan hak FPI, ini konstitusi. Kita terima kalau mau bertemu. Yang penting demonya baik. Tidak anarkis," jelas Prasetyo membela Ahok saat didemo FPI.

Politikus PDIP itu pun memutuskan melakukan pembahasan dengan rekan-rekannya di DPRD meski Lulung, Taufik dan beberapa pimpinan lain masih tak terima sehingga mangkir saat rapim. Ancaman Lulung dkk untuk memboikot pelantikan Ahok pun dijamin Prasetyo tak pernah ada.

"Kalau ada yang keberatan itu urusan mereka masing-masing. Beliau (Ahok) sudah secara konstitusi kok. Besok di Istana Negara pukul 14.00 WIB," tegas Prasetyo sehari sebelum Ahok dilantik pada 18 November 2014.

Ahok saat itu menaruh simpati pada perjuangan dan sikap tegas Prasetyo menghadapi teman-temannya yang menentang pelantikan dirinya. Tapi sayang, hubungan baik dua sahabat itu tak berlangsung lama.

Ribut-ribut proyek UPS di APBD 2014 sampai dana siluman di RAPBD 2015 membuat hubungan baik keduanya berubah jadi amarah dan saling cibir.

Berikut cerita seteru Ahok-Prasetyo yang terus bergulir:

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini