Bus tingkat Werkudara jadi ikon Kota Solo

Kamis, 9 Januari 2014 08:17 Reporter : Arie Sunaryo
Bus tingkat Werkudara jadi ikon Kota Solo bus tingkat kudus. ©2014 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Dioperasikan hampir 2 tahun, atau sejak 20 Februari 2011 lalu, bus tingkat Werkudara, kini menjadi ikon baru Kota Solo. Banyak wisatawan dari dalam dan luar kota mengatakan, "belum ke Solo, kalau belum naik bus tingkat Werkudara".

Bus bantuan Kementerian Perhubungan senilai Rp 1,8 miliar ini didesain khusus dengan warna merah. Dilengkapi 60 tempat duduk yang nyaman dan ketinggian mencapai 4,5 meter serta lebar layaknya bus pada umumnya, yakni sekitar 2,5 meter. Gambar Werkudara satu dari lima tokoh Pandawa dalam dunia pewayangan, yang mempunyai perawakan tinggi dan gagah, di samping bus disertai tulisan Werkudara bergaya aksara Jawa dan logo Solo "Spirit of Java".

Bus tingkat wisata yang dibuat oleh Karoseri Tri Sakti Magelang ini, menjadi bus tingkat pertama buatan Indonesia. Bus-bus tingkat sebelumnya yang pernah beroperasi di Indonesia merupakan buatan luar negeri. Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pun memberikan penghargaan, pada 9 April 2011.

Dulu, Wali Kota Solo Joko Widodo saat mendampingi Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono meresmikan bus tersebut menyebut, peluncuran bus Werkudara dimaksudkan sebagai daya tarik baru bagi wisatawan, sekaligus memperkuat citra Solo sebagai kota wisata.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo, Sri Indarjo, ketika dikonfirmasi merdeka.com mengatakan, peminat bus wisata tersebut hingga saat ini masih tinggi. Pada hari-hari kerja, bus tersebut melayani 2 hingga 3 kali perjalanan dalam sehari. Sementara untuk Sabtu, Minggu dan liburan, bisa mencapai 4 hingga 5 kali perjalanan. Meski semakin banyak peminatnya, namun untuk penambahan armada, pihaknya belum akan melakukannya.

Topik pilihan: Transjakarta | Pemprov DKI

"Dulu memang pernah ada investor dari China tertarik menambah 5 bus tingkat. Tapi setelah kami kaji lebih lanjut, ternyata belum diperlukan. Belum tahu nanti. Sebenarnya kami kewalahan menerima pesanan, terutama kalau pas musim liburan. Banyak permintaan perjalanan yang kami tolak," ujar Indarjo kepada merdeka.com, Selasa (7/1).

Menurut Indarjo, kebanyakan pemesan perjalanan berasal dari kalangan wisatawan dalam dan luar kota, instansi pemerintah maupun swasta, sekolah, wisatawan asing serta masyarakat Solo. Untuk rute perjalanan, lanjut Indarjo, sesuai dengan keinginan pemesan. Namun pihaknya juga mempunyai rute reguler yakni lain Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan, Istana Mangkunegaran, Museum Radya Pustakan, Museum Batik Danarhadi, Taman Jurug dan sejumlah tempat lainnya.

"Bisa berhenti sesuai keinginan pemesan, asal lokasinya memungkinkan. Namun harus sesuai jalur utama, yakni Jalan Slamet Riyadi, Balai Kota, Pasar Gede, Ir Sutami, TSTJ, kembali lagi ke Jalan Kapten Mulyadi, Veteran, dan Jalan Slamet Riyadi, terangnya.

Sementara itu, untuk calon penumpang dapat membeli tiket di tempat yang sudah disediakan secara eceran seharga Rp 20 ribu. Untuk harga sewa (carter) dengan biaya Rp 800 ribu per 3 jam dengan biaya overtime Rp 250 ribu per jam. Pemesanan dilakukan di kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta di Jalan Menteri Supeno No 7 Manahan pada hari dan jam kerja.

Beberapa penumpang yang ditemui merdeka.com mengaku senang bisa menikmati indahnya kota Solo dari atas bus. Momen tersebut tidak pernah didapatkan di kota lain di Indonesia. "Seneng banget, bisa keliling kota, lihat-lihat tempat bersejarah di Solo. Bisa mampir ke Loji Gandrung, Museum Batik, Gladag, belanja di Pasar Gede dan lain-lain," ujar Anissa (15) pelajar SMA N 1 Solo, asal Jepara.

Lain lagi yang dikatakan Heru Yunianta, warga Dupak Bangunsari, Surabaya. Pria yang pernah kuliah di salah satu perguruan tinggi di Solo ini mengaku ingin bernostalgia dengan bus tingkat jika berliburan ke Solo, seperti saat berkuliah.

"Dulu tahun 90an waktu saya kuliah, di Solo banyak bus tingkat. Saya pasti naik di atas. Sekarang kok ada lagi, rasanya belum ke Solo kalau belum naik bus tingkat," pungkasnya.

Baca juga:
Agar tak kena macet, bus wisata harus tentukan rute perjalanan
Bus tingkat di Jakarta khusus untuk turis
Ahok bermimpi bus tingkat Jakarta seperti di Singapura
Ayo jalan-jalan naik bus tingkat di Jakarta
DPRD nilai Ahok terburu-buru dalam pengadaan 4 ribu bus

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini