Anies Sebut Perubahan Iklim Persulit Prediksi Titik Rawan Banjir di Jakarta

Rabu, 13 Oktober 2021 08:41 Reporter : Yunita Amalia
Anies Sebut Perubahan Iklim Persulit Prediksi Titik Rawan Banjir di Jakarta Anies Baswedan penuhi panggilan KPK. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku tahun ini akan cukup sulit memprediksi potensi wilayah terdampak banjir. Kesulitan ini diakibatkan terjadinya perubahan iklim yang berpengaruh dengan curah hujan.

"Jadi dengan global warming yang sekarang terjadi climate change yang dialami seluruh dunia memang hujan tidak lagi memiliki pola yang diprediksi seperti dahulu," katanya di lapangan Monas usai memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan, Rabu (13/10).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menuturkan, ada kalanya terjadi hujan dalam waktu singkat, namun curahnya sangat tinggi. Seperti yang terjadi pada awal tahun 2020, daratan Jakarta hampir seluruhnya terdampak banjir. Hal itu, kata Anies, diakibatkan intensitas hujan sangat ekstrem yaitu 370 milimeter

Di Jakarta, imbuhnya, jika curah hujan 100 milimeter per hari, dan itu terjadi secara merata maka infrastruktur yang disiapkan akan mampu mencegah terjadinya banjir. Namun sebaliknya, melebihi dari ukuran tersebut banjir sulit dicegah.

"Bila turun seperti kemarin 370 milimeter, turun dalam waktu 5 jam maka bisa dibayangkan itu volume air yang turun dalam waktu yang amat singkat, itu ekstrem," kata Anies.

"Jadi, tadi saya sampaikan kapasitas kita 100 milimeter per hari kalau hujannya itu merata sepanjang 24 jam maka sistem kita sanggup menampung," sambungnya.

Kemudian, Anies juga menyampaikan, Jakarta telah memiliki 267 alat ukur curah hujan, yang tersebar di setiap kelurahan. Alat ini sebagai alat deteksi dini agar warga sekitar dapat mengetahui secara aktual berapa milimeter air hujan yang jatuh di wilayah masing-masing.

"Tahun ini ada alat ukur di seluruh kelurahan, 267 kelurahan sudah punya alat ukur curah hujan," ucap Anies.

Jumlah alat ukur ini disebut Anies mengalami peningkatan. Semula, DKI hanya memiliki kurang dari 10 alat ukur curah hujan.

Kendati meningkatkan jumlah alat ukur, Anies mengaku potensi titik titik rawan banjir di tahun ini tidak dapat diprediksi. Hal ini disebabkan krisis iklim.

"Climate change yang menyebabkan tidak bisa lagi kita menentukan titik titik mana yang akan terjadi karena hujannya bisa terjadi secara ekstrem di berbagai lokasi," tutupnya. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini