Warga Lebak Tetap Laksanakan Ngariung Saat Pandemi, Saling Menguatkan di Masa Bencana

Jumat, 29 Mei 2020 19:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Warga Lebak Tetap Laksanakan Ngariung Saat Pandemi, Saling Menguatkan di Masa Bencana Silaturahmi. pexels.com/mentatdgt

Merdeka.com - Umumnya masyarakat akan melaksanakan tradisi silaturahmi Lebaran hanya di Hari Raya Idul Fitri, namun tradisi berbeda ada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masyarakat yang tinggal di Provinsi dekat Jakarta dan Jawa Barat ini tetap melaksanakan silaturahmi setelah 6 hari pasca lebaran yaitu melalui tradisi ngariung.

Walaupun masih memasuki masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, masyarakat di sana tetap melaksanakan tradisi berkumpul setelah satu minggu Hari Raya Idul Fitri dengan tetap jaga jarak demi saling menjaga satu sama lain.

1 dari 4 halaman

Saling Menguatkan di Masa Pandemi

Seperti dikutip dari Antara, Sukamah (65) warga Aweh, Kab Lebak menjelaskan jika kebiasaan silaturahmi melalui tradisi ngariung ini banyak memberikan manfaat untuk mempererat tali persaudaraan, persahabatan, dan persatuan.

"Kami di sini setelah Hari Raya Idul Fitri saling bersilaturahmi antar saudara sekandung yang sudah berkeluarga juga tetangga," kata Sukamah.

2 dari 4 halaman

Diwariskan Secara Turun Temurun

halal bi halal drive thru di depok

sektorazalea.wordpress.com ©2020 Merdeka.com

Aweh menambahkan jika di masa seperti ini tradisi ngariung yang sudah berlangsung selama turun temurun telah mempersatukan masyarakat untuk saling menguatkan di masa sulit seperti sekarang.

Tradisi ini sebisa mungkin harus tetap lestari agar masyarakat bisa terus menjalin rasa kekeluargaan yang kuat.

"Kami sudah biasa setiap Lebaran banyak warga yang bersilaturahmi mulai saudara, tetangga hingga kenalan baik," katanya menjelaskan.

3 dari 4 halaman

Merangkul Semua Golongan

Senada dengan Sukamah, Nisa (30) perempuan asal Rangkasbitung, Kabupaten Lebak Banten juga mengamini tradisi yang melekat di kalangan masyarakat Sunda ini. Menurutnya saat Lebaran hingga beberapa hari setelahnya, banyak saudara, kerabat, hingga rekan kerja yang berbeda keyakinan datang untuk ikut tradisi ngariung di rumahnya sebagai bentuk ikatan dalam bersilaturahmi.

Ia menambahkan bahwa tradisi tersebut bisa memberikan ketenangan bagi masyarakat terutama di masa sulit seperti sekarang, ditambah agama Islam juga mewajibkan tradisi ini agar tergerak rasa saling tolong menolong antar sesama.

"Saya kira hikmahnya silaturahmi itu cukup dirasakan karena hingga kini belum pernah terjadi konflik sosial di lingkungan saudara maupun masyarakat," ucapnya seperti dilansir dari Antara.

4 dari 4 halaman

Bisa Terus Terlaksana

fitri

©2015 Merdeka.com

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, K.H. Ahmad Khudori mengungkapkan, budaya ngariung (silaturahmi) perlu terus digalakkan serta dilanjutkan kepada generasi berikutnya, mengingat banyak memberikan manfaat dalam berinteraksi sosial terutama di masa seperti sekarang.

Menurutnya, sejauh ini ketika tradisi tersebut terus terlaksana di Kabupaten Lebak sendiri belum pernah terjadi konflik sosial yang memecah belah masyarakat, sehingga MUI Lebak mengapresiasi budaya silaturahmi ini agar terus berjalan dengan baik.

"Kami mendorong masyarakat tetap terus menjalin tali persahabatan, persaudaraan dan persatuan agar bangsa ini lebih sejahtera dan menjadi lebih baik," katanya.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini