Siapkan Talas Sebagai Pengganti Nasi, Begini Cara Garut Atasi Krisis Lahan Pertanian

Minggu, 30 Mei 2021 17:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Siapkan Talas Sebagai Pengganti Nasi, Begini Cara Garut Atasi Krisis Lahan Pertanian Ilustrasi talas. ©Shutterstock

Merdeka.com - Di tengah kian menyusutnya lahan pertanian, Pemerintah Kabupaten Garut terus berusaha mengembangkan komoditas pangan baru (non beras) untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan.

Yudi Hernawan, selaku Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Garut mengungkapkan beberapa hal yang kini telah disiapkan adalah sumber karbohidrat kompleks seperti talas, serta umbi-umbian lainnya.

Ia mengatakan, saat ini kondisi pertanian di Kabupaten Garut kian menyusut. Bahkan, hasil panen padi sehari-hari saat ini disebutnya minus alias tidak surplus.

"Biasanya beras Garut itu surplus, kini ketersediaannya mulai terancam oleh menyempitnya lahan," kata dia, dalam bincang-bincang dengan pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Garut, beberapa waktu lalu seperti melansir dari Liputan6 pada Minggu (30/05).

Lantas bagaimana upaya antisipasi tersebut dijalankan? Berikut kabar selengkapnya.

2 dari 4 halaman

Kampanyekan Satu Hari Tanpa Beras

ilustrasi beras

©Pixabay/ImageParty

Adapun beberapa tindakan untuk mengubah perlahan kebiasaan warganya mengonsumsi beras adalah melakukan sejumlah kampanye, salah satunya dengan kembali menggalakkan 'One Day No Rice'.

Kampanye tersebut dikatakan Yudi pernah diterapkan beberapa tahun lalu, karena dianggap mampu membuat warga setempat mengurangi konsumsi nasi sebagai bahan pokok utama.

Menurutnya, upaya tersebut mampu menghilangkan kekhawatiran terjadinya penyusutan hasil pertanian, sehingga minus produksi panen bisa segera ditanggulangi sejak dini.

"Memang sulit, kadang kita sudah makan leupet (lontong), mie, belum yang lain, tapi kalau belum makan beras, rasanya belum makan," ujarnya hangat.

3 dari 4 halaman

Giatkan Produksi Tanam Berbagai Jenis Umbi

Adapun beberapa produk umbi yang menjadi fokus pihaknya adalah talas, ganyol, jagung, singkong hingga umbi-umbian yang jumlahnya masih terhitung melimpah di wilayah Garut.

Ancaman ketersediaan lahan pertanian saat ini dikatakannya nyata, mengingat tingkat pembangunan infrastruktur serta pengembangan perumahan rakyat yang kian marak, sehingga membuat kawasan lahan pertanian banyak yang beralih fungsi dan kehilangan kemampuan tanamnya.

"Kami banyak bahan pangan alternatif yang tak kalah kualitasnya sama beras, mulai talas, ganyol, jagung, singkong hingga umbi-umbian yang jumlahnya melimpah," kata dia. 

4 dari 4 halaman

Turun Drastis

001 hery h winarno

Ilustrsi sawah ©2021 Merdeka.com

Sementara itu, beberapa contoh penyebab yang disebutnya amat krusial adalah pembangunan jalan baru Lingkar Cipanas, Lingkar Kadungora dan Lingkar Leles. Termasuk jalan tol nasional Gedebage-Garut-Tasik-Cilacap yang dikatakannya melintasi sekitar tujuh kecamatan di Garut.

Dari proyek tersebut, dilanjutkan Yudi banyak memakan lahan pertanian warga sehingga tingkat produktivitas padi di sawah perlahan menghilang.

Pihaknya mencatat, sejak 2009 lalu, perubahan alih fungsi lahan pertanian terjadi besar-besaran. Sebelum itu, kawasan lahan pertanian warga tercatat berada di angka 52 ribu hektar.

Kemudian lima tahun berselang, angka itu menyusut menjadi 48 ribu hektare, dan terakhir di tahun 2019 lalu kembali terjadi menyusut hingga sekitar 5 ribu hektare.

"Sekarang paling di angka 42 ribuan, artinya dalam sepuluh tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan hingga 1.000 hektare. Intinya Kalau kawasan lahan pertanianya menurun, ketersediaan pangannya juga salah satunya beras jelas terancam," paparnya. 

BACA JUGA:
{news_title}

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini