Sejarah 25 November 1936: Penandatanganan Pakta Anti-Komintern oleh Jerman dan Jepang

Jumat, 25 November 2022 06:30 Reporter : Andre Kurniawan
Sejarah 25 November 1936: Penandatanganan Pakta Anti-Komintern oleh Jerman dan Jepang Penandatanganan Pakta Anti-Komintern. bridgemanimages.com

Merdeka.com - Pakta Anti-Komintern adalah sebuah pakta anti-komunis yang dibuat antara Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang (kemudian diikuti oleh pemerintah lain, terutama fasis) pada tanggal 25 November 1936 dan ditujukan untuk melawan Komintern.

Pakta anti-komunis ini memang bertentangan dengan ideologi Komunis Internasional. Pakta ini bertujuan untuk menghancurkan semua negara yang ada di bawah komandonya, karena komunisme cenderung membahayakan perdamaian internal negara, serta kesejahteraan sosial mereka.

Oleh karena itu, konsep di balik komunisme cenderung menjadi ancaman bagi perdamaian dunia karena aktivitas subversif yang terlibat di dalamnya. Dalam artikel berikut, diulas lebih lanjut tentang sejarah dari Pakta Anti-Komintern Jerman dan Jepang yang ditandatangani pada tanggal 25 November 1936 ini.

2 dari 4 halaman

Asal-Usul Pakta

Dikutip dari laman military-history.fandom.com, asal-usul pakta ini muncul ketika berbagai pejabat Jerman baik di dalam maupun di luar Kementerian Luar Negeri berusaha untuk menyeimbangkan tuntutan persaingan antara kebijakan luar negeri Reich dengan aliansi tradisionalnya dengan China vs keinginan Hitler untuk berteman dengan musuh bebuyutan China, yaitu Jepang.

Pakta itu awalnya akan diperkenalkan pada akhir November 1935 dengan undangan untuk Inggris, Italia, China dan Polandia untuk bergabung. Namun, kekhawatiran Menteri Luar Negeri Jerman Baron Konstantin von Neurath dan Menteri Perang Marsekal Lapangan Werner von Blomberg bahwa pakta tersebut dapat merusak hubungan Tiongkok-Jerman, ditambah kekacauan politik di Tokyo setelah kegagalan kudeta militer pada 26 Februari 1936 menyebabkan Pakta tersebut ditangguhkan untuk setahun.

Pada musim panas 1936, meningkatnya pengaruh militer di pemerintahan Jepang, kekhawatiran di Berlin dan Tokyo tentang aliansi Perancis-Soviet, dan keinginan Hitler untuk melakukan gerakan kebijakan luar negeri anti-Komunis yang dramatis yang ia yakini dapat menyebabkan Anglo-Aliansi Jerman menyebabkan gagasan Pakta Anti-Komintern dihidupkan kembali.

3 dari 4 halaman

Penandatanganan Pakta

penandatanganan pakta anti komintern
vk.com

Pakta tersebut diparaf pada tanggal 23 Oktober 1936, dan ditandatangani pada tanggal 25 November 1936. Untuk menghindari kerusakan hubungan dengan Uni Soviet, Pakta tersebut seharusnya ditujukan hanya terhadap Komintern, tetapi ternyata berisi perjanjian rahasia yang pada saat itu jika salah satu negara penandatangan terlibat dalam perang dengan Uni Soviet, negara penandatangan lainnya akan mempertahankan kenetralan.

Dalam pakta tersebut disebutkan jika terjadi serangan dari Uni Soviet terhadap Jerman atau Jepang, maka kedua negara sepakat untuk berkonsultasi tentang tindakan apa yang harus diambil "untuk melindungi kepentingan bersama mereka".

Mereka juga setuju bahwa tak satu pun dari mereka akan membuat perjanjian politik dengan Uni Soviet, dan Jerman juga setuju untuk mengakui Manchukuo.

4 dari 4 halaman

Pembentukan "Kekuatan Axis"

Pada tanggal 6 November 1937, Italia juga bergabung dengan pakta tersebut, sehingga membentuk kelompok yang kemudian dikenal sebagai Kekuatan Axis. Keputusan Italia kurang lebih merupakan reaksi terhadap kegagalan front Stresa, prakarsa Prancis-Inggris tahun 1935 yang dirancang untuk menjaga Nazi Jerman agar tidak melampaui batasnya.

Secara khusus, kedua negara mencoba untuk memblokir "ekspansi Jerman", terutama aneksasi Austria, yang juga merupakan kepentingan terbaik Italia untuk dicegah. Hubungan yang tidak saling percaya dan ekspansionisme Benito Mussolini sendiri semakin memperlebar jarak antara Italia dan Britania Raya, serta Prancis.

Italia menginvasi Kekaisaran Ethiopia pada bulan Oktober 1935, tindakan agresi tak beralasan yang merupakan pelanggaran kebijakan Liga Bangsa-Bangsa. Namun demikian, Inggris dan Prancis membuat perjanjian rahasia dengan Italia untuk memberikannya dua pertiga dari Ethiopia, Pakta Hoare-Laval.

Ketika informasi ini bocor ke publik di Inggris dan Prancis, pemerintah mereka terperosok dalam skandal dan Menteri Luar Negeri Inggris, Samuel Hoare, terpaksa mengundurkan diri. Akibatnya, Pakta Hoare-Laval dibatalkan.

[ank]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini