MUI Kota Tangerang Bolehkan Hewan Terjangkit PMK untuk Dikurbankan, Simak Syaratnya

Sabtu, 25 Juni 2022 12:30 Reporter : Nurul Diva Kautsar
MUI Kota Tangerang Bolehkan Hewan Terjangkit PMK untuk Dikurbankan, Simak Syaratnya Dagang hewan kurban di trotoar. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, Banten, mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan ibadah kurban di masa wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak. Disebutkan salah satunya membolehkan hewan terpapar untuk dikurbankan dengan sejumlah syarat.

Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, KH Ahmad Hasanuddin mengungkapkan, fatwa tersebut dikeluarkan pihaknya setelah merujuk MUI Pusat yang mengkaji peraturan tersebut dengan para ahli penyakit hewan dan diskusi dengan para alim ulama.

Dilansir dari laman Pemkot Tangerang, Sabtu (25/6), berikut informasi syarat selengkapnya.

2 dari 3 halaman

Hewan dengan Gejala Ringan PMK Sah untuk Dikurbankan

dagang hewan kurban di trotoar

Ilustrasi

©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Melalui keterangan tertulisnya, Jumat (24/6), Ahmad menyebutkan bahwa ada empat poin yang tertuang dalam fatwa MUI nomor 32 tahun 2022 itu.

Di antaranya, hewan terpapar PMK dengan gejala ringan, seperti lepuh ringan pada kuku, lesu, tidak nafsu makan dan keluar air liur lebih dari biasanya hukumnya sah dijadikan hewan kurban.

Namun untuk hewan dengan kategori PMK berat, seperti lepuh pada kuku hingga terlepas dan menyebabkan pincang tak bisa berjalan hingga tubuh terlihat sangat kurus, hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.

“Sedangkan hewan terkena PMK dengan gejala berat dan sembuh dari PMK dalam rentang waktu yang dibolehkan kurban yaitu 10 sampai 13 dzulhijjah maka hewan ternak sah dijadikan hewan kurban,” jelas KH Ahmad.

3 dari 3 halaman

Hewan Kurban Bergejala Berat Namun Sembuh Setelah Iduladha Termasuk Sedekah

Jika hewan yang terkena PMK berat, namun dinyatakan sembuh lewat rentang waktu masa berkurban yaitu 10 sampai 13 dzulhijjah, maka sembelihan hewan akan dianggap sebagai sedekah bukan hewan kurban.

Pihaknya menyebut sudah berkoordinasi dengan Pemkot Tangerang agar bisa lebih mensosialisasikan fatwa MUI ini, termasuk menjamin ketersediaan hewan kurban yang memenuhi standar syariah dan sehat.

Pihak Pemkot pun hendaknya meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak di Kota Tangerang serta proaktif turun ke masyarakat guna pemeriksaan kesehatan hewan kurban.

“Dalam hal ini, masyarakat Kota Tangerang tak perlu takut berkurban. Tinggal memperhatikan syarat sah hewan kurban sesuai syariat. Perhatikan prinsip halalan dan thayyiban hewan yang akan dijadikan kurban. Nilai-nilai inilah yang harus kita sama-sama perhatikan bersama, baik para calon pekurban serta pada DKM dan panitia Iduladha,” katanya.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini