Mengenal Sosok Maskoen Soemadiredja, Pernah Satu Sel dengan Soekarno

Rabu, 17 Agustus 2022 09:30 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Mengenal Sosok Maskoen Soemadiredja, Pernah Satu Sel dengan Soekarno Maskoen Soemadiredja. ikpni.or.id/merdeka 2022

Merdeka.com - Maskoen Soemadiredja menjadi salah satu tokoh pergerakan yang lahir di Kota Bandung, Jawa Barat pada 25 Mei 1907. Maskoen merupakan putra dari pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

Mengutip dari laman resmi Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (IKPNI), Selasa (16/8) ia memulai rekam jejak politiknya pada tahun 1927 bersama tokoh pergerakan lain yakni Soekarno, Gatot Mangkoepradja dan Suhada.

Ketika itu dirinya bersama tiga tokoh lain memiliki misi untuk menyebarkan semangat nasionalisme hingga dianggap mengancam oleh pemerintah Belanda. Akibatnya ia ditahan di Lapas Banceuy pada tahun 1929 selama 8 bulan.

Atas perjuangannya merebut kemerdekaan, Maskoen mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional, SK Presiden Republik Indonesia No. 089/TK/Tahun 2004. Berikut kisahnya.

2 dari 5 halaman

Memulai Aktivitas Politik di Usia 20 Tahun

maskoen soemadiredja
Maskoen Soemadiredja ikpni.or.id/merdeka 2022

Maskoen menjadi pusat perhatian Belanda di Kota Bandung dan sekitarnya karena dianggap sosok yang berbahaya. Saat itu, Maskoen menyebarkan sejumlah propaganda untuk menanamkan semangat nasionalisme.

Maskoen kemudian memulai debut politik di sebuah organisasi bentukan Soekarno bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai komisaris saat usianya masih sangat muda yakni 20 tahun. Selain itu, dirinya juga mengemban amanah sebagai sekretaris II di PNI cabang Bandung.

Karena tindakannya mengajak masyarakat untuk memberontak, ia bersama rekannya yakni Gatot Mangkoepradja, Suhada dan Soekarno langsung dijebloskan ke Penjara Banceuy pada 1929 selama kurang lebih delapan bulan kurungan.

3 dari 5 halaman

Tak Gentar Berjuang

Setelah keluar dari Banceuy, ia bersama Soekarno kembali menanamkan ideologi kemerdekaan kepada masyarakat. Dari sana pihak Belanda kembali mengawasi pergerakannya, hingga dirinya kembali ditangkap pada tahun 1930, bersama Soekarno, Gatot Mangkoepradja dan Soepriadinata.

Ketika itu Maskoen dan tiga rekannya kembali dipenjara di lapas Sukamiskin, Kota Bandung selama kurang lebih 30 bulan.

Keluar masuk penjara tidak membuatnya gentar untuk berjuang. Ia tetap kekeuh merangkul masyarakat untuk mengenalkan pendidikan berbangsa dan bernegara sehingga timbul kesadaran untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

4 dari 5 halaman

Diasingkan ke Australia

Perjuangan Maskoen pun tak berhenti sampai di situ. Setelah kekuasaan beralih ke tangan Jepang tahun 1942, pemerintah Belanda mengamankannya ke Australia.

Ketika berada di negeri kanguru, dirinya kembali memperjuangkan kemerdekaan dengan mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru untuk menanamkan semangat nasionalisme.

Setelah Indonesia merdeka, Maskoen mengoordinasi pemulangan para pejuang yang berada di Australia kembali ke Indonesia.  Tak berapa lama, ia kembali mendapat pengasingan dan dibuang ke Boven Digoel, Papua pada tahun 1950.

5 dari 5 halaman

Meninggal pada 4 Januari 1986

Setelah Indonesia dinyatakan terbebas dari para penjajah, Maskoen kemudian mendirikan organisasi baru bernama Persatuan Perintis Kemerdekaan Bekas Boven Digul (PPKBD) bersama para korban pengasingan di Digul.

Tak berapa lama organisasi tersebut berganti nama, dan menetapkan Maskoen sebagai ketua umumnya.

Adapun Maskoen dikabarkan meninggal pada 4 Januari 1986 di usianya yang ke-79 tahun. Ia wafat karena jatuh sakit.

Hingga akhir hayatnya, suami dari Nyi R. Djuhaeni ini terus memegang prinsip pembebasan negara dari segala bentuk penjajahan. Menurutnya hidup adalah perjuangan, di mana mendedikasikan diri kepada bangsa merupakan bentuk perjuangan demi tercapainya Indonesia yang berdaulat.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini