Kisah Mbah Asri Jaga Makam Korban Erupsi Krakatau 1883, Ceritakan Dahsyatnya Letusan

Rabu, 27 April 2022 09:23 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Kisah Mbah Asri Jaga Makam Korban Erupsi Krakatau 1883, Ceritakan Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Mbah Asri merupakan seorang nenek berusia 95 tahun asal Desa Muruy Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Ia merupakan penjaga dan perawat makam korban letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Saat itu disebutkan Mbah Asri, efek letusannya begitu dahsyat, dan berdampak kepada masyarakat di sekitarnya.

Menurutnya, kala itu erupsi besar gunung Krakatau mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami di wilayah selat sunda.

Disebutkan, bencana letusan Gunung Krakatau di zaman itu telah menimbulkan korban jiwa hingga kurang lebih 36 ribu warga. Para korban tersebut berasal dari pesisir Pantai Banten dan Lampung. Melansir Merdeka dari ANTARA, Selasa (17/4), berikut kisah selengkapnya.

2 dari 4 halaman

Banyak Korban yang Meninggal di Pengungsian

gunung krakatau

©2014 Merdeka.com

Saat itu, Desa Muruy menjadi salah satu tempat pengungsian dari para korban erupsi. Banyak di antara para pengungsi yang kondisinya memprihatinkan akibat luka-luka, sakit hingga kerawanan pangan.

Dikabarkan dahsyatnya letusan Gunung Krakatau membuat abu vulkanik meluncur hingga ke Benua Eropa.

Bencana Gunung Krakatau itu juga menyebabkan banyak korban meninggal dunia di lokasi pengungsian di Desa Muruy hingga menjadi bukti sejarah.

Kawasan pemakaman korban letusan Gunung Krakatau hingga kini masih utuh yang ditandai dengan bebatuan. Sehari-hari Mbah Asri menyapukan kawasan tersebut, dan membersihkannya dari sampah agar tetap terjaga.

3 dari 4 halaman

Pemakaman Sudah Tidak Dikunjungi Keluarga

Diperkirakan jumlah pengungsi korban Gunung Krakatau di Desa Muruy mencapai puluhan orang yang kebanyakan meninggal dunia. Dari jumlah itu, rata-rata merupakan warga Caringin, Labuan.

Pemakaman korban letusan Gunung Krakatau sudah jarang bahkan tidak pernah lagi dikunjungi sanak keluarganya untuk berziarah baik saat Ramadhan maupun menjelang Idulfitri.

Mbah Asri warga asli Muruy mengurus dan merawat makam seluas 1.000 meter persegi itu kebanyakan korban Gunung Krakatau juga sebagian lainnya warga setempat.

Merawat dan menjaga pemakaman itu dengan ikhlas tanpa imbalan, karena merupakan bagian sejarah.

4 dari 4 halaman

Berharap Bencana Krakatu Tak Terjadi Lagi

Kepada wartawan, Mbah Asri memiliki harapan agar bencana mahadahsyat tersebut tidak kembali terjadi. Hal itu karena dampaknya yang sangat parah terhadap kondisi sekitar.

"Letusan Gunung Krakatau cukup dahsyat dan jangan sampai kembali terjadi bencana," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh masyarakat setempat yang tidak mengharapkan terjadinya bencana tsunami di sekitar pantai Carita, Labuan, Panimbang hingga Sumur seperti pada 2018. Longsoran Gunung Anak Krakatau cukup terakhir.

"Kami berharap saat ini status Gunung Anak Krakatau Siaga Level III tidak menimbulkan bencana, " katanya menjelaskan.

Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Siaga, Tim SAR Disiagakan di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau Siaga, Kapal Evakuasi Disiagakan di Pulau Sebesi Lampung
Berstatus Siaga, Ini Potensi Bahaya Pasca Erupsi Anak Krakatau
Bupati Pandeglang Imbau Nelayan Tak Mendekati Gunung Anak Krakatau
Waspada Tsunami Dipicu Gunung Anak Krakatau, BMKG Minta BPBD Cek Rambu Evakuasi
BMKG: Waspadai Aktivitas Gunung Anak Krakatau, Utamanya Malam Hari

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini