Cara Unik Warga Cirebon Beri Nama Anak, dari Penanda Alam hingga Perhitungan Hari

Senin, 31 Agustus 2020 08:15 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Cara Unik Warga Cirebon Beri Nama Anak, dari Penanda Alam hingga Perhitungan Hari Ilustrasi bayi . ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/merzzie

Merdeka.com - Masyarakat di Indonesia dikenal memiliki identitas kewilayahan yang cukup kuat. Hal tersebut bisa dilihat dari arti penamaan terhadap anak yang menyiratkan kondisi kewilayahan di tempat tinggal mereka.

Seperti yang terjadi di wilayah Cirebon, Jawa Barat, di mana warganya kerap memberikan nama kepada anak-anak mereka sesuai dengan kondisi alam hingga perhitungan hari yang dipercaya membawa arti baik bagi masyarakat di sana.

"Kalau di Cirebon biasanya dari penanda alam bahkan ada nama akrab ketika si anak sudah besar dari serapan bahasa tubuh sampai kepada hitungan lahir," kata pemerhati budaya Cirebon Akbarudin Sucipto via Liputan6.


2 dari 4 halaman

Berkaca dari Pengalaman yang Sedang Dialami

budayawan cirebon akbarudin sucipto
Budayawan Cirebon Akbarudin Sucipto

Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Menurut Akbarudin, salah satu contoh penamaan berdasarkan kondisi tersebut adalah ketika si ibu yang sedang hamil dan akan melahirkan tersebut kebetulan berada di masjid untuk beribadah.

Secara tiba-tiba, sang ibu merasakan sakit di bagian perutnya dan akan segera melahirkan. Maka ciri uniknya sang ibu tersebut akan memberikan nama ‘Agung’ kepada sang anak yang akan ia lahirkan kelak.

"Nama Agung ketika itu si ibu sedang di Masjid Agung sebelum melahirkan anaknya," kata Akbar.

3 dari 4 halaman

Diberikan Sesuai Perhitungan Hari

Menurutnya, pemberian nama anak tidak serta merta mengacu kepada penandaan kondisi alam atau tempat di sekitar. Ia menjelaskan, biasanya masyarakat di Cirebon kerap memberikan sebuah nama kepada anak-anaknya sesuai pola hitungan ketika si anak lahir hingga tali pusar di tubuhnya terputus.

Ia mencontohkan ketika anak terebut lahir di hari Kamis, sementara putusnya tali pusar atau warga setempat bisa menyebutnya Puputan terjadi pada Senin. Maka secara spontan orang tua bisa memberikan nama "Misnen" atau gabungan dari Kamis dan Senen kepada sang anak tersebut.

"Misnen asal kata dari Kamis dan Senin atau bahasa Cirebonnya Senen dan banyak lagi. Cirebon itu kan banyak," ujar Akbar.

4 dari 4 halaman

Menggabungkan Unsur Agama di Nama Khas Para Anaknya

Selain mempercayai kondisi atau keadaan sekitar yang biasa menjadi rujukan dalam memberikan nama, masyarakat di Cirebon juga kerap memberikan nama dengan gabungan unsur keagamaan.

Salah satu alasannya adalah mengacu kepada kondisi masyarakat di kota udang yang memang dikenal sebagai salah satu pusat dari Agama Islam (kota santri), khas wilayah Timur Tengah.

Bahkan keunikan berikutnya, lanjut Akbarudin, masyarakat Cirebon memiliki kemampuan unik terkait pengucapan bahasa Arab yang baik hingga mendarah daging. Namun ada hal penting di balik pemberian nama-nama unik tersebut, yaitu sebagai sebuah upaya agar masyarakat Cirebon tidak melupakan tanah kelahirannya dahulu.

"Kemampuan pengucapan bahasa Arab yang baik bahkan mendarah daging jadi kalau mau kasih nama anak dari sosok tokoh besar Islam Nabi Muhammad bisa diberi nama Ahmad bisa Hamid bisa Mahmud. Orang Cirebon punya keahlian itu," pungkas Akbarudin.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini