Si Pitung dalam Catatan Kolonialisme Belanda

Senin, 7 November 2022 06:07 Reporter : Merdeka
Si Pitung dalam Catatan Kolonialisme Belanda rumah si pitung. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Nama si Pitung tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Betawi. Si Pitung hidup dalam sanubari dan ingatan kolektif masyarakat sebagai sosok jagoan. Seorang pahlawan yang mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada masyarakat miskin. Sebaliknya, catatan kolonial Belanda menggambarkan sosok Pitung sebagai bandit pembuat onar yang harus dibasmi.

Pitung bukan tokoh fiktif. Sosok si Pitung yang lebih identik sebagai cerita rakyat, ternyata bukan isap jempol belaka. Nyatanya dalam catatan sejarah, Pitung tercatat sebagai tokoh historis yang hidup pada akhir abad ke-19. Berbagai harian dan surat kabar berbahasa Belanda sering melaporkan aksi si Pitung. Hingga akhirnya Pitung tertangkap.

Beberapa catatan seperti; Java Bode, Het Vaderland, De Locomotief, Twenthsche Courant, De Telegraaf, Algemeen Handelsblad, dan masih banyak lagi. Banyaknya pemberitaan mengenai si Pitung menjelaskan bagaimana sosoknya cukup penting dalam lintasan sejarah.

2 dari 3 halaman

Berbagai Julukan si Pitung

Menurut Margreet van Till, artikel-artikel yang pertama kali menyebut nama Pitung adalah harian berbahasa Melayu, yakni Hindia Olanda tahun 1892. Dalam bukunya yang berjudul Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api, Margreet van Till juga menjelaskan ada beberapa sebutan bagi si Pitung. Mulai dari 'Bitoeng', 'Pitang' dan terakhir 'si Pitoeng'.

Pada 18 Juni 1892, koran Hindia Olanda memberitakan bagaimana schout Tanah Abang menggeledah rumah seorang yang bernama Bitoeng di Kampung Sukabumi, Kebayoran, selatan Batavia. Dalam penggeledahan tersebut ditemukan barang-barang seperti jas hitam, topi schout, dan seragam. Pakaian tersebut digunakan si Pitung dan kawannya untuk melakukan aksi pencurian.

Menurut catatan harian Hindia Olanda tanggal 10 Agustus 1982, dilakukan penggeledahan lanjutan dan ditemukan lubang tanah yang berisi 125 gulden beserta barang-barang hasil rampok dua rumah besar milik Nonya de C. dan rumah Haji Sapiudin (seorang keturunan Bugis dari Marunda.

Kronologi pencurian tersebut dijelaskan dalam arsip Algemen Secretarie (18 April 1893), si Pitung bersama lima orang dari gerombolannya (Abdul Rahman, Moedjoeran, Merais, Dji-ih, dan Gering) dengan menggunakan pistol masuk ke rumah haji tersebut dan salah seorang dari mereka menembak pemilik rumah dan tembakan dilepaskan rekannya supaya penghuni kampung tidak mendekat.

3 dari 3 halaman

Pitung Versi Belanda dan Indonesia

Bagi publik Belanda, Pitung jelas digambarkan sebagai seorang pemberontak yang mengancam stabilitas Batavia. Bahkan, beberapa penulis seperti Johan Fabricus menggambarkan Pitung sebagai sosok yang begitu negatif dengan terminologi sebagai seorang pembunuh, pencuri, pemerkosa dan lain sebagainya. Hal ini jelas menggambarkan bagaimana cerita publik Belanda berperan sebagai representasi atas upaya mereka untuk menenangkan penduduk Eropa atau Indo (campuran) yang ada di Batavia.

Sementara itu, Pitung bagi publik Indonesia, sangat menggambarkan karakter dengan jiwa heroik yang ingin merdeka dari cengkeraman kolonialisme. Hal ini menjadi menarik, terutama bagaimana sebuah kisah dibangun atas dialog antara kolonialisme dan anti-kolonialisme.

Pada akhirnya, kisah si Pitung dapat menggambarkan kehidupan sosial Batavia di akhir abad ke-19. Setidaknya begitu yang dapat dibuktikan oleh Margreet van Till.

Kisah Pitung yang identik dengan warga Betawi, berakhir menjadi nama sebuah jalan. Jalan Bang Pitung membentang dari Pertigaan Rawa Belong hingga Perempatan Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Lokasi ini tepat karena berada di jantung kampung Rawa Belong, yang terkenal sebagai kampung silat tradisi Betawi.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini