Rencana APRA Membunuh Enam Perwira Siliwangi

Senin, 24 Januari 2022 05:18 Reporter : Merdeka
Rencana APRA Membunuh Enam Perwira Siliwangi Raymond Westerling. ©2021 Merdeka.com/Liputan6

Merdeka.com - Dianggap menghalangi operasi militer untuk menguasai Jawa Barat dan Jakarta, enam perwira dan seorang anggota parlemen Negara Pasundan pro RI menjadi target pembunuhan anak buah Westerling.

Penulis: Hendi Jo

Bandung, 30 Desember 1949. Rumor itu bertiup kencang: sekelompok eks anggota militer dan polisi Belanda serta sejumlah warga sipil yang tak puas dengan hasil KMB (Konferensi Meja Bundar) bermaksud melakukan gerakan makar. Mereka akan memulai kekacauan dari Bandung.

"Orang-orang Westerling telah menyatukan diri dengan sekelompok anggota polisi Negara Pasundan, eks anggota KNIL dan sekelompok kecil pengusaha Belanda dalam suatu organisasi ilegal bernama APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)," ujar Letnan O. Soedarja, eks anggota intelijen Divisi Siliwangi.

Tetapi sebelum rencana membuat kekisruhan di Bandung terlaksana, Kapten R.P.P Westerling berniat menyingkirkan 6 perwira tinggi Divisi Siliwangi dan seorang politisi Negara Pasundan yang pro RIS (Republik Indonesia Serikat). Mereka perlu dihabisi karena dianggap penghalang terwujudnya rencana APRA.

"Orang-orang yang diincar itu adalah Kolonel Sadikin (Panglima Divisi Siliwangi), Mayor Mohamad Rivai (Kepala Penerangan Militer Gubernur Militer IV Jawa Barat), Letnan Kolonel Soetoko (Wakil Kepala Staf Divisi Siliwangi), Letnan Kolonel dr. Errie Sudewo (Kepala Staf Divisi Siliwangi), Letnan Kolonel Sentot Iskandardinata (perwira operasional Divisi Siliwangi), Mayor Roehan Roesli (Komandan Corps Polisi Militer di Jawa Barat) dan Sudjono (anggota parlemen Negara Pasundan)," ungkap Mohamad Rivai dalam otobiografinya, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Menurut Rivai, aksi pembunuhan itu rencananya akan dilakukan pada 5 Januari 1950. Caranya dengan membubuhkan racun ke makanan para target. Demikian menurut pengakuan Abdul Karim bin Djamin, seorang eks anggota Laskar Rakyat Djawa Barat (LRDR) yang direkrut oleh Westerling.

Belakangan Abdul Karim membelot dan melakukan pengkhianatan. Kepada Komisaris Polisi Kelas II M. Saud Wirtasendjaja (sebagai Kepala Bagian Pidana di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat) pada 8 Maret 1950, dia mengaku bahwa pada 5 Januari 1950 itu, dirinya dan seorang letnan kolonel KNIL bernama Cassa mendatangi salah seorang tangan kanan Westerling di Bandung. Namanya Sersan Mayor KNIL Herman Louis.

Saat pertemuan itulah, Cassa menyerahkan masing-masing 1 botol racun kepada Abdul Karim dan Lois untuk membunuh ketujuh target tersebut. Adapun cara menggunakan racun itu adalah dengan mencampurkannya dengan minuman yang pahit atau makanan yang panas. Namun rencana itu tak pernah terjadi karena dalam aksi pertamanya, Cassa gagal menghabisi Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin yang tengah berada di Hotel Savoy Homan.

2 dari 2 halaman

Diberondong Tembakan Prajurit APRA

Westerling lantas mengubah cara pembunuhan dengan rencana penembakan langsung. Pada malam 22 Januari 1950, Westerling sudah mengatur pembunuhan terhadap Mayor Rivai dalam suatu rapat antara TNI, KNIL dan Batalyon Pengawal Pasundan (VB).

"Rencana itu gagal karena dihalangi oleh Kapten S. Manopo, perwira KNIL yang setia kepada kesepakatan KMB," ujar Rivai.

Begitu juga rencana pembunuhan terhadap Letnan Kolonel Soetoko dan lain-lainnya, gagal pula. Jika Soetoko berhasil meloloskan diri dari penyerbuan APRA pada 23 Januari 1950 di Markas Besar Divisi Siliwangi, maka Mayor CPM Roehan Roesli dan Letnan Kolonel dr. Errie Sudewo masing-masing sedang bertugas ke Yogyakarta dan Subang pada saat tim pembunuh itu datang. Begitu pula dengan ketiga sasaran yang lain: sedang tidak ada di tempat masing-masing.

Kegagalan itu kemudian dilampiaskan ke sasaran lain. Adalah Letnan Kolonel A.G. Lembong (Kepala Pendidikan Angkatan Darat) dan ajudannya Letnan Satu Leo Kailola yang harus tertimpa nasib nahas: diberondong tembakan prajurit APRA saat akan mengunjungi Markas Kwartir Staf Siliwangi.

"Leo dan Pak Lembong langsung meninggal di tempat, tidak puas hanya dengan menembak mereka, jasad keduanya kemudian ditusuk-tusuk dengan bayonet hingga rusak," kenang Soedarja.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini