Penangkapan Sutan Sjahrir dan Isu Jaringan VOC di Balik Rencana Pembunuhan Bung Karno

Senin, 23 Mei 2022 05:05 Reporter : Merdeka
Penangkapan Sutan Sjahrir dan Isu Jaringan VOC di Balik Rencana Pembunuhan Bung Karno Soekarno-Hatta-Sjahrir. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Dituduh berada di balik rencana pembunuhan Presiden Sukarno, Sutan Sjahrir dan beberapa tokoh oposisi ditangkap petugas keamanan.

Penulis: Hendi Jo

Minggu, 7 Januari 1962. Berita menggemparkan datang dari Sulawesi Selatan: terjadi upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di Jalan Cendrawasih, Makassar. Namun berkat kesigapan aparat pengawal, aksi tersebut dapat digagalkan. Bung Karno berhasil diselamatkan.

Delapan hari kemudian, Panglima Kodam XIV Hasanuddin Brigadir Jenderal M.Yusuf menangkap dua warga negara Belanda. Mereka diduga terlibat dalam upaya pembunuhan itu. Mereka disebut-sebut sebagai anggota jaringan rahasia bernama Vrijwillige Ondergrondse Corps (VOC) alias Korps Sukarelawan Bawah Tanah.

"Didesas-desuskan (juga) bahwa sesuatu menunjuk ke arah 'Bali connection'…" ungkap Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia.

2 dari 4 halaman

Bung Karno Curiga pada Sjahrir

'Bali connection' merupakan istilah kepala Badan Poesat Intelijen (BPI) Soebandrio untuk kelompok beberapa tokoh oposisi yang pada beberapa bulan sebelumnya berkumpul di Gianyar, Bali, kediaman Anak Agung Gde Agung. Menurut laporan BPI, pada 18 Agustus 1961, VOC telah merencanakan tindakan subversi terhadap pemerintahan Presiden Sukarno.

Sukarno tampaknya percaya terhadap informasi dari BPI. Dia lantas memerintahkan aparat keamanan dan badan intelijen untuk segera bergerak mengadakan penyelidikan terhadap beberapa tokoh. Terutama Sutan Sjahrir.

Kecurigaan terhadap mantan koleganya di era revolusi itu termaktub dalam otobiografinya, Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh penulis Amerika Serikat, Cindy Adams).

"Aku dapat memahami bila ada yang tidak puas (kemudian) berusaha untuk membunuhku. Oleh karena itu, aku juga mengerti bahwa aku harus membalas dan berusaha mendapatkan mereka. Beberapa waktu yang lalu, Sjahrir merencanakan komplotan untuk menggulingkanku dan merenggut pemerintahan…"

3 dari 4 halaman

Perintah Bung Karno

Setelah mendapat kepastian dari para aparatnya, Presiden Sukarno memanggil Nasution, Yani dan Soebandrio. Dia lantas mengulangi soal laporan-laporan tersebut dan memerintahkan Kepala Rumah Tangga Istana Mayor Jenderal Suhardjo Hardjowardojo (yang disertai Jaksa Agung Muda Mayjen Moehono) menyampaikan laporan-laporan itu secara terperinci. Selanjutnya persoalan tersebut diserahkan kepada Kepala Staf Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) Brigjen. Basuki Rachmad dan Jaksa Agung Muda Moehono.

"Presiden memutuskan untuk melakukan tindakan penangkapan…" ujar Nasution.

Karena Sukarno menginginkan sebuah tindakan segera dilaksanakan, maka Brigjen Basuki Rachmad menyodorkan sejumlah surat penahanan blanko kepada Nasution untuk ditandatangani.

"Waktu itu belum ditentukan nama-namanya…Karena akan tergantung pada hasil penelitian yang malam itu langsung dikerjakan," kenang Nasution.

4 dari 4 halaman

Sjahrir Ditangkap

Tanpa sepengetahuan lagi Nasution, surat penahanan blanko itu ternyata diisi oleh nama-nama yang sebelumnya dicurigai berhubungan dengan VOC dan 'Bali connection' yakni Sjahrir cs.
Maka pada 16 Januari 1962, sekira pukul 04.00, bergeraklah beberapa tim petugas dari Corps Polisi Militer (CPM) menggeruduk rumah para tokoh nasional itu. Mereka semua diambil dari rumahnya masing-masing lengkap disertai surat penangkapan resmi.

"Sikap mereka tertib. Kemudian surat perintah itu saya lihat, itu tandatangan saya kenal…Tandatangan Jenderal Nasution," ungkap Mohammad Roem dalam 70 Tahun Mochammad Roem.

Sjahrir sendiri diambil oleh beberapa petugas CPM dari rumahnya di Jalan H.O.S. Cokroaminoto No.61 Jakarta sekira pukul 04.00. Pagi itu juga, dia ditahan di Mess CPM, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Tiga hari kemudian Sjahrir bersama tahanan-tahanan lainnya dipindahkan ke wilayah selatan Jakarta (Jalan Daha, Kebayoran Baru).

Tepat tiga bulan setelah penangkapannya, dia dipindahkan lagi. Kali ini lebih jauh: ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini