Pemberontakan dari Penjara: Narapidana Kuasai Kedunggede, Gagalnya Rusuh di Banceuy

Senin, 4 Juli 2022 21:06 Reporter : Merdeka
Pemberontakan dari Penjara: Narapidana Kuasai Kedunggede, Gagalnya Rusuh di Banceuy Para narapidana di sebuah penjara era revolusi. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Akibat over kapasitas dan perlakuan buruk para sipir, para penghuni penjara di Bekasi dan Bandung melakukan aksi kerusuhan.

Penulis: Hendi Jo

Sejak subuh suasana penjara di Kedunggede, Bekasi (sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Karawang) didera ketegangan luar biasa. Teriakan para narapidana terdengar menyeramkan bersanding dengan bunyi tembakan yang membuat suasana semakin mencekam.

Semua warga yang tinggal sekitar penjara tak ada satu pun berani menampakan batang hidungnya. Kecuali sekelompok petugas dan ribuan serdadu Belanda bersenjata lengkap yang terus bertahan di sekeliling gedung penjara.

"Dalam sikap siap tempur, mereka mengepung penjara Kedunggede yang sudah dikuasai kaum Republik," kenang Haji Siddin, lelaki kelahiran tahun 1929.

Sampai detik ini, Siddin sendiri tak pernah mengetahui musabab pasti mengapa para narapidana itu mengamuk dan melakukan pemberontakan. Secara samar lelaki yang dulu bekas pedagang beras di Pasar Tambun tersebut hanya mendengar kerusuhan itu awalnya dipicu oleh perlakuan kasar seorang sipir kepada salah satu penghuni penjara.

2 dari 3 halaman

Penjara Dikuasai Narapidana

Sebuah informasi mengenai Insiden Kedunggede itu terbuhul dalam buku karya A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid 8. Disebutkan awal September 1948, militer Belanda melakukan pembersihan 'kaum ekstrimis' di wilayah Cibarusa yang dikenal sebagai basis BBR (Barisan Bamboe Roentjing). Itu salah satu laskar bersenjata yang tidak mengakui kesepakatan Perjanjian Renville dan memilih untuk tetap melawan Belanda.

Singkat cerita, militer Belanda berhasil menangkap seribu orang yang dicurigai sebagai anggota BBR. Mereka lantas ditempatkan di Penjara Kedunggede yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi memuat tahanan baru.

Akibat dipaksakan, suasana sumpek dan panas mendera para penghuni penjara. Itu semua berkelindan dengan dengan perlakuan kasar para sipir penjara hingga menimbulkan api dalam sekam.

Sabtu pagi, 4 September 1948 api dalam sekam itu pun meledak. Dimulai dengan keributan antara seorang sipir dengan seorang narapidana menjadikan terjadinya bentrok massal yang melibatkan seluruh penghuni Penjara Kedunggede.

Karena kalah jumlah, para sipir akhirnya mundur dan otomatis penjara langsung dikuasai oleh para narapidana. Bala bantuan pun didatangkan. Bukan hanya polisi, pemerintah setempat juga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang tentu saja memiliki kelengkapan senjata.

Setelah sehari semalam menguasai penjara, para narapidana mencoba untuk kabur dari penjara tersebut dengan cara menyerang para pengepung secara bersama-sama. Alih-alih berhasil, yang ada mereka malah menjadi sasaran empuk peluru-peluru tajam.

"Menurut sumber Belanda, insiden itu mengakibatkan 47 napi tewas dan 24 lainnya luka-luka. Sedangkan sisanya yang kemudian menyerah dipindahkan ke Jakarta," ujar A.H. Nasution.

3 dari 3 halaman

Gagalnya Pemberontakan di Banceuy

Kurang lebih sebulan sebelumnya kerusuhan yang sama terjadi juga di Penjara Banceuy, Bandung. Ceritanya, suatu hari beberapa pentolan napi Penjara Banceuy mendatangi salah satu narapidana terkemuka yakni Kapten TNI Soegih Arto. Kepada pimpinan kaum gerilyawan di wilayah pinggiran Bandung itu, mereka menyatakan akan memberikan 'kejutan' kepada pihak Belanda pas RI memperingati kemerdekannya yang ke-3.

"Mereka berencana berontak dan kembali ke hutan guna meneruskan perjuangan," ungkap Soegih Arto dalam biografinya, Sanul Daca, Pengalaman Pribadi Letnan Jenderal (Purn) Soegih Arto.

Para pentolan narapidana itu awalnya mendapuk Soegih untuk menjadi pimpinan pemberontakan. Namun mengetahui persiapannya yang sangat minim, dia menolak permintaan itu dan malah menyarankan agar rencana tersebut dibatalkan saja. Alih-alih diamini, sebagian dari para pentolan napi itu malah menganggap Soegih sebagai seorang pengecut.

Pagi, 17 Agustus 1948, pemberontakan para narapidana di Penjara Bantjeuj pun dimulai. Kerusuhan merembet dari Blok J saat seorang narapidana berhasil merebut sepucuk pistol dari seorang anggota MP (Polisi Militer).

Namun para penjaga lain lebih sigap. Mereka langsung menutup akses-akses menuju keluar secara ketat. Tak beberapa lama kemudian sirene meraung-raung, diikuti oleh kedatangan bertruk-truk anggota MP dengan persenjataan lengkap. Pemberontakan pun berhasil ditumpas.

Usai kerusuhan itu, ganjaran setimpal dikenakan kepada para pelaku kerusuhan. Mereka ditempatkan di Blok Isolasi yang terkenal sangat horor. Untuk para narapidana lain, semua kegiatan ditiadakan termasuk acara jalan pagi dan jalan sore. Yang paling berat, pihak keluarga pun dilarang untuk menjenguk dan mengirimkan logistik untuk waktu yang tidak ditentukan.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini