Pasukan Letnan Princen Serang Pos Pao An Tui, Hidung Tentara Hilang Kena Peluru

Minggu, 24 Juli 2022 09:07 Reporter : Merdeka
Pasukan Letnan Princen Serang Pos Pao An Tui, Hidung Tentara Hilang Kena Peluru Pembelot Princen di tengah para prajurit Siliwangi. Hendi Jo©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Bertekad menambah perlengkapan tempur pasukannya, eks tentara Belanda itu membuat aksi penyergapan terhadap para penjaga sebuah pabrik teh di wilayah Lampegan.

Penulis: Hendi Jo

Begitu resmi bergabung dengan Batalyon Kala Hitam Brigade Soerjakantjana Divisi Siliwangi pada Februari 1949, eks tentara Belanda J.C. Princen langsung ditempatkan di perbatasan Cianjur-Sukabumi. Dengan menyandang pangkat letnan dua, dia ditugaskan untuk memimpin unit setingkat seksi bernama Pasukan Istimewa.

Kendati bernama mentereng, dalam kenyataannya Pasukan Istimewa sebagian besar terdiri dari para pemuda yang belum berpengalaman dan tak memegang senjata api.

"Sebagai komandan Pasukan Istimewa, tugasku yang pertama adalah melengkapi persenjataan pasukanku yang sebagian masih menggunakan golok, klewang dan senapan tua," ujar Princen.

2 dari 4 halaman

Kepung Pabrik

Maka dibuatlah rencana untuk menyerang Harjasari, sebuah pabrik teh yang terletak kurang lebih satu kilometer dari stasiun kereta api Lampegan. Di sana, Princen rencananya akan merampas senjata dari satu seksi pasukan Pao An Tui (PAT), milisi pro Belanda yang dibentuk oleh orang-orang Tionghoa.

Aksi penyerangan diputuskan akan dilakukan pada 17 Juni 1949. Berbeda dengan penyerangan-penyerangan lain yang biasa dilakukan pada malam hari atau dini hari, Princen kali ini memilih siang hari bolong sebagai waktu terbaik. Perhitungannya, para penjaga pabrik akan mengendorkan kewaspadaannya karena mereka terbiasa diserang pada malam hari.

Singkat cerita, siang itu terkepunglah Pabrik Hardjasari. Princen menempatkan masing-masing tiga regu: dua regu di sebelah barat pabrik dan satu regu di jalur yang mengarah ke pos militer Belanda di Stasiun Lampegan.

Bersama dua pengawal bersenjata senapan otomatis, Princen sendiri dengan memanjat pagar bambu yang tinggi, langsung memasuki pos penjagaan.

"Inspeksi pasukan! Aku dari dinas keamanan dalam negeri, demi ketertiban semua penjaga harus berkumpul di sini," teriak lelaki kelahiran Den Haag pada 21 November 1924 itu.

3 dari 4 halaman

Melihat lelaki bule berseragam, para anggota PAT langsung memtuhi perintah Princen. Sekira 40 orang berkumpul di pos penjagaan. Sebagian besar dari mereka harus dibangunkan dari tidur siang dan masih dalam kondisi mengantuk.

"Mereka yang di pos-pos luar aku biarkan saja agar tidak nampak keterlaluan," ungkap Princen dalam otobiografinya, Poncke Princen, Kemerdekaan Memilih.

Princen dan kedua pengawalnya lantas menggiring para anggota PAT ke halaman yang lebih lapang. Saat itulah, mereka menangkap gelagat tidak beres karena melihat ketiga 'petugas keamanan dalam negeri' tersebut terus menodongkan senjata.

Dalam kondisi tegang, tetiba dua anggota PAT memukul Qadim (salah seorang pengawal Princen). Maka terjadilah pergulatan antara Qadim dengan keduanya.

"Princen lalu datang membantu dengan memukulkan popor senjata ke salah satu pengeroyok saya itu," kenang Qadim, lelaki kelahiran tahun 1926 itu.

4 dari 4 halaman

Hidung Hilang Terhantam Peluru

Dalam situasi tersebut, diam-diam sang pemilik pabrik pergi dengan menggunakan sepeda motor tanpa mesinnya dihidupkan. Dia kemudian melapor ke pos militer Belanda yang ada di Stasiun Lampegan. Maka bergeraklah sepasukan tentara Belanda dengan persenjataan lengkap ke Pabrik Hardjasari. Namun gerakan mereka terhadang regu yang ditempatkan Princen di jalur arah stasiun. Terjadilah tembak-menembak yang sangat seru.

Sementara itu, di Pabrik Harjasari, para anggota PAT yang tertawan muncul keberaniannya saat mendengar ada bunyi tembakan gencar dari arah stasiun. Mereka kemudian mengepung Princen dan kedua pengawalnya. Sebagian malah berhasil melucuti senjata salah seorang pengawal Princen.

"Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mundur sambil memberondongkan Tommy Gun-ku ke arah orang-orang Pao An Tui itu dari jarak sekitar tiga meter," kenang Princen.

Sambil bergerak mundur, Princen dan dua pengawalnya meringkus tiga anggota PAT yang terlihat ketakutan. Mereka menyeret ketiganya sebagai perisai hidup hingga berhasil lolos dari kepungan para anggota PAT.

Meskipun gagal menghabisi para pengawal Pabrik Harjasari, tetapi Pasukan Istimewa berhasil mendapatkan beberapa pucuk senjata api dan tiga tawanan. Princen dan Qadim sendiri tak pernah tahu pasti berapa orang PAT yang tewas atau terluka. Yang jelas, salah seorang prajurit Pasukan Istimewa terluka parah dalam pertempuran itu.

"Hidungnya sama sekali hilang, terhantam peluru yang mengenai wajahnya," ujar Princen.

Penyergapan di Hardjasari sempat membuat marah penguasa militer Belanda di Jawa Barat. Menurut pemberitaan yang dilansir oleh surat kabar Preanger Bode, 4 Juli 1949, para pejabat militer Belanda telah mengetahui jika aksi itu dilakukan oleh pembelot J.C. Princen. Mereka semakin geram dan bertekad untuk meringkus hidup dan mati bekas prajuritnya itu.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini