Operasi Militer Belanda Memburu Pentolan SP 88

Senin, 4 Juli 2022 20:05 Reporter : Merdeka
Operasi Militer Belanda Memburu Pentolan SP 88 Saalah satu contoh selebaran yang dibuat oleh gerilyawan SP 88. koleksi Stef Scagliola©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kerap menebar teror di wilayah pendudukan, militer Belanda mengincar pemimpin Satoean Pemberontak 88.

Penulis: Hendi Jo

Awal Desember 1947, jam 19.00. Sebuah granat tangan dilemparkan ke satu truk militer berisi dua belas serdadu Belanda di depan bioskop Capitol Pintu Air (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) Jakarta. Tak ada satu pun yang selamat. Semua penumpang truk tewas seketika dengan kondisi mengenaskan.

Siapa gerangan pihak di balik pelemparan granat tersebut?

2 dari 4 halaman

Sosok Letnan Kolonel Oesman Soemantri

Menurut A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VI: Perang Gerilya Semesta I, aksi itu dilakukan oleh para gerilyawan kota dari unit Pasukan Berani Mati pimpinan Sersan Mayor Hindoroto.

Unit tersebut merupakan bagian dari jaringan bawah tanah bernama Field Preparation Barisan Hitam (FPBH) yang pada 1 Februari 1948 kemudian berubah nama menjadi Satoean Pemberontak 88 (SP 88).

Nama SP 88 tak bisa dipisahkan dari sosok Letnan Kolonel Oesman Soemantri. Dia adalah satu pendiri dan otak di balik strategi yang dijalankan kelompok itu.

"Pak Oesman terkenal sebagai perwira intelijen yang cerdas. Kemampuan berbahasa asingnya bagus," ujar Gar Soepangat, mantan anak buah Oesman di SP 88.

Oesman lahir di Jakarta sekitar awal 1920. Tak banyak orang tahu jika pemuda tampan berkulit putih itu merupakan cucu penyair besar Betawi: Muhammad Bakir. Dari sang ayah, Oesman menerima bakat melukis dan menulis puisi.

"Karena ketampanan dan kemampuannya dalam bidang seni, Pak Oesman dikenal sebagai perwira yang berjiwa romantis," kata Soepangat, lelaki kelahiran Purwakarta pada 1929 itu.

Dalam kenangan Masdoeki (eks anggota intel Barisan Banteng RI), Oesman tersohor sebagai perwira flamboyan. Dia dikenal dekat dengan beberapa perempuan cantik di Purwakarta dan Karawang. Karena kedekatan itu, banyak lelaki diam-diam menyimpan rasa cemburu kepadanya.

"Ya wajar saja, dia memang orangnya menarik bagi siapa pun," kata lelaki kelahiran Purwakarta pada 1915 itu.

3 dari 4 halaman

Oesman Diburu Belanda

Begitu memimpin SP 88, nama Oesman langsung populer karena aksi-aksi kesatuan yang dipimpinnya. Mulai aksi penculikan, sabotase, penyebaran selebaran penuh ancaman hingga mendalangi pemogokan para buruh kereta api. Wajar saja jika kemudian intelijen militer Belanda memburunya.

Salah satu operasi perburuan yang hampir berhasil terjadi pada 21 Agustus 1948, ketika sepasukan militer Belanda menyerbu Markas Kantor Staf SP 88 di Desa Sukamanah, Purwakarta. Kendati berhasil menawan istri Oesman dan dua perwira pertama SP 88, Oesman sendiri berhasil lolos dari operasi perburuan.

"Delapan anggota SP 88 menjadi korban, empat di antaranya langsung tewas di tempat," ujar Kartam (96 tahun), eks gerilyawan di Desa Sukamanah.

4 dari 4 halaman

Oesman Tewas Ditembak

Oesman memang pandai berkelit dari sergapan militer Belanda. Karena itu, intelijen Belanda lantas membuat cara lain untuk meringkusnya: menciptakan intrik di tubuh SP 88. Maka bertiuplah kabar jika Oesman telah 'bermain di dua kaki'. Terlebih setelah salah seorang anak buahnya pernah memergoki Oesman tengah berbincang akrab dengan beberapa perwira Belanda di wilayah Purwakarta kota.

"Itu jelas fitnah. Masak hanya karena menguasai bahasa Belanda, Pak Oesman dianggap pengkhianat? Bisa jadi dia pernah berbincang dengan tentara Belanda tapi saya yakin itu dilakukannya kala dia berperan sebagai seorang intel," ujar Soepangat.

Isu itu membuat Oesman dipanggil ke Markas Besar Tentara di Yogyakarta. Baru beberapa hari pulang dari Yogyakarta, di sebuah tempat bernama Tegaldanas (masuk wilayah Karawang), tiba-tiba beberapa butir peluru menghantam tubuh Oesman yang menyebabkan dia tewas seketika.

Tak jelas siapa di balik pembunuhan tersebut. Namun para pengikut setia Oesman di SP 88 mencurigai penembak jitu yang mengakhiri hidup komandannya itu adalah Doel Atjeng dan Debot, eks anak buah Oesman di SP 88. Menurut Soepangat, Debot dan Doel Atjeng melakukan aksinya karena perintah dari seorang letnan bernama Gandakoesoemah.

"Saya tidak tahu alasannya Letnan Gandakoesoemah memerintahkan Debot membunuh Oesman. Bisa jadi karena dia termakan fitnah yang ditiupkan oleh intel Belanda atau dia sendiri adalah intel Belanda" ungkap Soepangat.

Oesman Soemantri lantas dikebumikan di sekitar Tegaldanas. Pada 1950-an, kerangkanya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Karawang. Hingga kini penyebab pembunuhan sang perwira belum juga terungkap.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini