Mengangkat Nilai Non Material dari Bangkai Kapal Van der Wijck

Selasa, 10 Agustus 2021 05:14 Reporter : Darmadi Sasongko
Mengangkat Nilai Non Material dari Bangkai Kapal Van der Wijck Tugu Peringatan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Kapal Van der Wijck tenggelam di Teluk Lamong Kabupaten Lamongan dalam rute perjalanan Bali-Sumatera pada 19 November 1936. Sebelumnya kapal mengalami kerusakan teknis setelah meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Kapal berbobot 2.633 Ton (GT) itu membawa muatan 150 ton besi dan 5 kondensor seberat 15 ton. Kapal juga membawa ratusan orang penumpang yang akan turun di sejumlah pelabuhan sepanjang rute.

Kapal berkomando kapten B.C Akkeman itu sejatinya hendak melanjutkan persinggahan berikutnya yakni Pelabuhan Semarang, sebelum kemudian tenggelam berikut muatan di dalamnya.

Penumpangnya berhamburan berusaha menyelamatkan diri dengan dibantu para nelayan Brondong, Lamongan. Beberapa berhasil diselamatkan, kendati 55 orang meninggal dunia akibat peristiwa nahas tersebut.

Bukti kecelakaan tersebut juga terekam dalam tugu peringatan di Kompleks Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia Cabang Brondong, Kabupaten Lamongan. Monumen itu berisi ucapan terima kasih kepada para nelayan yang membantu menyelamatkan korban dalam kecelakaan tersebut.

"Tanda Peringatan kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck DDC 19-20 Oktober 1936," demikian tulisan dalam plakat itu.

Plakat kedua bertuliskan kalimat bahasa Belanda berbunyi, "Martinus Jacobus Uytermerk Radiotelegrafist Aan Boord S.S Van Der Wijck 20 Oktober 1936 Hij Bleef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zij EERE. Zijne Vrienden".

Plakat kedua merupakan penghormatan untuk Martinus Jacobus Uytermerk (Uytermerk) yang disebutkan sebagai operator radio kapal tersebut. Uytermerk tidak meninggalkan kapal walaupun mengetahui kapalnya akan tenggelam. Plakat tersebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya yang bertugas hingga akhir hayat.

Kecelakaan kapal 85 tahun lalu itu melegenda menjadi cerita di masyarakat hingga sekarang. Saksi mata kejadian secara turun-temurun menceritakan kepada anak dan cucu. Cerita itu diperkuat dengan keberadaan bangkai kapal di kedalaman laut yang merujuk sebagai kapal Van der Wijck.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah melakukan penentuan titik koordinat lokasi bangkai kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) itu. Tim yang di dalamnya juga para penyelam melakukan indentifikasi terhadap keberadaan kapal tersebut.

"Kita sudah ke lokasi dan menggali semua informasi. Kita sudah mendapatkan titik koordinatnya," kata Wicaksono Dwi Nugroho, Arkeolog (BPCB) Jawa Timur kepada Merdeka.com.

tugu peringatan tenggelamnya kapal van der wijck
©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Cerita masyarakat, bangkai kapal dan bukti pendukung lain perlu kajian secara mendalam guna membuktikan kebenarannya secara keilmuan. Sehingga dibutuhkan pembuktian secara arkeologis yang menjelaskan kapal tersebut sebagai kapal Van der Wicjh, sebagaimana cerita selama ini.

"Menurut keterangan di sana memang benar lokasinya. Di sana ada kapal besar dan beberapa anak dan cucu mendapat cerita itu, sekarang juga agak kesulitan mengklarifikasi kalau itu benar Van der Wijck. Kita butuh bukti, namanya arkeologi," urainya.

Bukti itu sekaligus menjadi dasar berkoordinasi dengan stakeholders dalam merencanakan langkah. Bukti dalam bentuk titik koordinat berikut dokumen rekaman video atau foto yang menggambarkan bangkai kapal secara faktual.

"Kita harus punya bukti dulu, titiknya di mana. Jadi nantinya bukan sekadar pepesan kosong," tegasnya.

Rombongan tim survei telah ke lokasi perairan diduga tempat bangkai kapal Van der Wijck pada Mei 2021. Pencarian awal dilakukan dalam radius tertentu berdasarkan data dan informasi masyarakat.

Selama pencarian memanfaatkan sonnar sispander yang berfungsi membaca elefansi permukaan dasar laut. Alat tersebut berhasil membaca keberadaan bangkai kapal pada koordinat tertentu di kedalaman sekitar 40 meter.

"Kita keliling sekitar 4 jam, baru ketemu indikasi. Satu titik dari 50 meter, tahu-tahu naik 30 meter, sampai 40-30 itu tampak anomali. Itu kita kunci titik itu," terangnya.

Sekitar lokasi memang menjadi tempat pemasangan terumbu atau pencarian ikan oleh nelayan setempat. Sejumlah nelayan mengaku pernah menyelam di sekitar lokasi bangkai kapal.

Nelayan setempat yang mengaku pernah melihat perwujudan bangkai kapal tersebut dimaksud dilibatkan dalam proses tersebut. Lokasi titik dimaksud pun bersesuaian antara hasil sonnar dan pengakuan nelayan, sehingga memperkuat penentuan titik koordinat lokasi bangkai kapal.

"Dia bisa menggambarkan, kapalnya menggelimpang ke arah utara, badannya membujur barat timur, ada cerobongnya" kisahnya.

Hingga sekarang memang masih belum diperoleh rekaman kondisi fisik bangkai kapal seperti yang dibutuhkan. Karena saat itu kondisi arus bawah cukup kencang yang menyebabkan air keruh. Sehingga perlu jadwal lanjutan dengan menyesuaikan kalender musim.

"Kita masih menunggu cuaca, karena terakhir ke sana di kedalaman 30 meter itu arus bawah. Tertutup lumpur, kondisi airnya keruh. Kita tidak bisa melanjutkan, kita menyelam berkali-kali mencoba selama beberapa hari," terangnya.

Nilai Non Material

Kisah kapal Van der Wijck tenggelam di Lamongan semakin populer dan melegenda setelah diabadikan dalam bentuk novel oleh Buya Hamka. Novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadikan kecelakaan tersebut sebagai setting cerita kisah romantis antara tokoh utama Hayati dan Zainudin.

Novel itu menjadi master piece Indonesia, walaupun tidak memiliki keterkaitan erat dengan kapal itu. Tetapi cerita novel yang dikaitkan realitas sejarah Kapal Van der Wijck memiliki nilai sastra yang tidak terbantahkan.

Novel yang belakangan diangkat menjadi film layar lebar itu mewarnai perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Jutaan orang diklaim telah membaca kisah monumental itu.

Sebagai sebuah kapal angkutan barang dan alat transportasi manusia, eksistensi kapal Van der Wijck memang telah berakhir saat tenggelam, 19 November 1936. Namun cerita peristiwa itu tidak terlupakan oleh perjalanan waktu dan sejarah.

Kondisi kekinian memposisikan nilai kapal Van der Wijck bukan pada fisik bangkai kapal dan muatannya yang masih di dalam laut. Apalagi catatan manifes perjalanannya, juga tidak layaknya Titanic yang membawa harta karun para penumpangnya.

"Justru nilainya bukan di fisiknya, tapi di nilai tak terlihatnya, informasinya. Kita tidak ada niatan untuk mengangkat bangkai kapal itu, karena nilainya bukan itu. Tetapi harus tetap dicari bukti fisiknya, bahwa itu memang nyata," tegasnya.

Pekerjaan penting justru penggalian dan memotret nilai luhur yang terbangun dari peristiwanya. Sehingga generasi berikutnya dapat belajar dan mengambil yang bernilai dari sikap dan tindakan mulia para leluhur.

"Ini yang menjadi nilai penting dari Van der Wijck. Bagaimana nilai kemanusiaannya, bagaimana saat itu Belanda menjajah Indonesia, tapi di sisi lain ketika kapal Belanda syarat penumpang ini tenggelam, Bangsa kita ternyata tetap memberi pertolongan," urainya.

Suasana kekejaman penjajahan terhadap Bangsa Indonesia digambarkan dalam berbagai literatur. Namun dalam kecelakaan itu tergambar peristiwa kemanusiaan, yakni dalam bentuk pertolongan masyarakat nelayan sekitar.

"Nilai itu yang seharusnya kita angkat. Nilai kemanusiaan yang ternyata di atas situasi politik (penjajahan) saat itu. Nilai kemanusiaan lebih tinggi, toh Belanda dan Indonesia sama-sama manusia dan bangsa kita menolong sebagai wujud kemanusiaan. Ini yang kemudian bernilai luar biasa," urainya.

Koordinat yang sudah ditetapkan menjadi titik awal dalam menggali rentetan perjalanan sejarah. Pekerjaan masih panjang untuk menjawab rentetan pertanyaan oleh sejarah itu sendiri.

"Kalau itu runtutan sejarah, titik koordinat Van der Wijck ini kita kunci, kalau ada buktinya, kita bisa bisa tarik sejarah mundur atau pun maju," urainya.

Penentuan koordinat nantinya memudahkan pengawasan oleh pihak terkait sesuai dengan kapasitas peran masing-masing. Fungsi keamanan tentu berada di tangan kepolisian (Polairut), bersamaan fungsi edukatif yang akan mendorong kesadaran semua pihak ikut menjaga benda bernilai cagar budaya itu. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Sejarah
  3. Malang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini