Kisah Suria Kertalegawa, Mantan Bupati Garut yang Pro Belanda dan Tolak Kemerdekaan

Selasa, 9 November 2021 12:04 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Kisah Suria Kertalegawa, Mantan Bupati Garut yang Pro Belanda dan Tolak Kemerdekaan Suria Kertalegawa. ©2021 Wikipedia / Merdeka.com

Merdeka.com - “Halo2 Garoet, kota aman djadi riboet.”
“Halo2 Garoet, tempat orang toekang tjatoet.”
“Boepati Garoet dahoeloe Soeria-NICA-legawa.”
“Marilah boeng kita tangkap dia.” (dikutip dari Jurnal Pendidikan Sejarah UPI, No.7, Vol.IV Juni 2003)

Itulah sepenggal bait yang dinyanyikan oleh mantan Bupati Garut (1929-1944), R.A.A. Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa, atau yang biasa dipanggil Suria Kertalegawa, juga Uca, dalam sidang parlemen Negara Pasundan bentukannya, pada 14 Mei 1948.

Dalam rapat itu, Uca menyanyikan lagu sebagai ungkapan perasaan terkait cap sebagai antek-antek NICA atau Netherlands Indies Civil Administration Menurutnya, nyanyian tersebut merupakan langkah menebar kebencian karena menolak kemerdekaan Indonesia yang masih seumur jagung saat itu.

Mantan Bupati Garut itu memang getol menyuarakan kebenciannya terhadap setiap aktivitas politik Republik Indonesia, bahkan ketidaksukaannya juga ia arahkan ke Presiden Soekarno hingga memilih memisahkan diri dan membentuk Negara Pasundan Federal.

Penyematan nama Soeria-NICA-Legawa dianggap pas oleh masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Garut. Dikarenakan kiprah politik Uca condong 'nunut' kepada kebijakan Belanda, dan kerap berlawanan dengan pemerintah Indonesia. Dari situ, dirinya mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) untuk membuka jalan politiknya memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno.

Bahkan Uca tak ragu untuk mengaku sebagai Opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak-pihak yang mendukung Indonesia. Hingga pada 11 Mei 1947, PRP mengadakan gerakan-gerakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor.

“Dahoeloe golongan Repoebliken telah membladjar anak2 disekolah oentoek bernjanji dan njanjian itoe semata-mata ditoedjoekan kepada diri saja. Njanjian itoe dinjanjikan dihadapan saja oleh seorang keponakan perempoean jang beroesia 7 tahoen, tersaksi oleh seorang opsir KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger, sz),” sebut Suria Kertalegawa usai menyebutkan bait yang dinyanyikan keponakannya itu.

2 dari 2 halaman

Mendirikan Negara Pasundan

Berbagai upaya mengukuhkan partai bentukannya, salah satunya dengan mendirikan Negara Pasundan Federalis (versi Indonesia Serikat) yang berbeda dari Negara Pasundan versi Wiranatakusumah dari golongan republiken.

Dalam kegiatannya, Uca didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik Van Mook yang juga sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NAVIS.

Kartalegawa berusaha mewujudkan Negara Pasundan yang merdeka dari Indonesia. Usaha ini didukung Residen Belanda di Bandung, M. Klaasseen, yang menulis sebuah laporan, tertanggal 27 Desember 1946 bahwa PRP dipandang sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira, karena di Tatar Pasundan timbul gerakan antirepublik.

Walau demikian, pemikiran Kertalegawa ini sempat bertentangan dengan Van Mook sebagai Gubernur Jenderal karena Negara Pasundan cukup menyulitkan rencana strategis Belanda dan menganggap Kertalegawa memiliki rekam jejak buruk sebagai koruptor.

“Kamu bertindak seperti Hitler. Kamu telah membuat hal itu sangat menyulitkan saya berkenaan dengan Republik. Proklamasimu tidak mempunyai persiapan. Tanpa pembuktian bahwa orang Sunda mendukung PRP, kamu berbuat tidak baik dengan proklamasi itu. Kamu adalah lawan Republik dan telah membuat hal-hal sulit bagi kami,” kata Van Mook, dalam suatu keterangannya.

Menolak Kemerdekaan dan Menganggap Soekarno Menomorduakan Orang Sunda

Uca memilih memberontak lantaran ia melihat setiap kebijakan Soekarno dianggap kerap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan politik pemerintahan di Jawa Barat tidak pernah melibatkan orang Sunda secara langsung.

Bisa dilihat dari penunjukan gubernur pertama, kedua, dan ketiga di Jawa Barat, yang bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru kemudian Sewaka yang orang Sunda ditunjuk sebagai Gubernur keempat di Jawa Barat

Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur (NIT), daripada Negara Pasundan di Jawa Barat yang dianggap tak adil.

Negara Bentukannya Tak Disetujui Keluarga Sendiri

Jika dilihat dari tujuan Kertalegawa, Van Mook merasa gagasannya memecah posisi Republik dengan mendirikan negara-negara federal akan lancar, melalui langkah politik Uca.

Sayangnya, Uca dianggap terburu-buru hingga Negara Pasundan tidak berjalan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri.

Ketika ayah Uca mengetahui, ia menyuruh sang anak bersumpah di corong radio agar tidak menikah, sebelum sang ayah mati. Bahkan sang Ibu juga turut melampiaskan kekesalannya bahwa ia bersama anggota keluarga yang lain tidak menyetujui pendirian negara tersebut.

“Uca, ibu tak paham kau melakukan hal demikian, ingatkah kepada ibu dan saudara-saudaranmu? Mengapa kau memisahkan diri dari kami? Bahkan mang Abas (mantan Bupati Cianjur) tidak suka kepada negara Pasundan,” ungkap sang Ibu.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini