Kisah Petirtaan Watugede, Pemandian Raja dan Putri Kerajaan Singosari yang Indah

Jumat, 26 November 2021 15:09 Reporter : Rizka Nur Laily M
Kisah Petirtaan Watugede, Pemandian Raja dan Putri Kerajaan Singosari yang Indah Petirtaan Watugede, pemandian raja dan putri Kerajaan Singosari. ©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim

Merdeka.com - Petirtaan Watugede di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ditemukan oleh arkeolog Belanda pada tahun 1925. Petirtaan ini merupakan tempat pemandian raja dan para putri raja di zaman Kerajaan Singosari (1222-1292). Ken Dedes juga disebutkan pernah mandi di Petirtaan Watugede.

Terletak 200 meter di sebelah timur stasiun kereta api Singosari, kawasan petirtaan ini memiliki suasana yang teduh dan indah dipandang mata. Letaknya di lereng pegunungan di mana banyak ditemukan sumber mata air membuat udara di sekitar petirtaan masih asri dan sejuk.

Dahulu kala, setelah raja atau putri-putri Kerajaan Singosari selesai mandi, mereka menuju Candi Sumberawan yang berada di sebelah barat pertirtaan. Di sana, keluarga kerajaan melakukan sembahyang.

Keunikan

petirtaan watugede pemandian raja dan putri kerajaan singosari
©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim

Keunikan Petirtaan Watugede ialah kaluarnya air jernih dari mulut area. Air tersebut mengalir tiada henti hingga saat ini.

Petirtaan Watugede terdiri dari satu kolam yang panjangnya sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Di kolam tersebut, ada pancuran berbentuk area yang bentuknya tidak lagi sempurna.

Dilihat dari gaya bangunannya, Petirtaan Watugede mengingatkan dengan beberapa tempat di Bali. Seandainya kawasan petirtaan terawat, pengunjung bisa melihat 4-6 area yang berfungsi sebagai pancuran.

Pengunjung dari Berbagai Daerah

Juru kunci Petirtaan Watugede, Muhammad Toyib mengungkapkan bahwa para pengunjung yang datang ke pemandian tersebut tidak hanya berasal dari Jawa Timur. Melainkan juga dari daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

“Setiap bulannya mereka yang datang ke tempat ini rata-rata sekitar 1.000 orang,” ungkapnya, dikutip dari Majalah Derap Desa, Edisi 45 (Juli 2011, hlm. 48).

Pengunjung yang datang ke Petirtaan Watugede tidak dikenai biaya. Mereka, imbuh Toyib, cukup mengisi buku tamu saja. Akses ke pertirtaan ini juga terbilang mudah, kendaraan roda empat pun bisa mencapai lokasi petirtaan.

Termakan Usia

petirtaan watugede pemandian raja dan putri kerajaan singosari
©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim

Dulu, di setiap sisi kolam terdapat area. Namun, beberapa area yang menghiasi petirtaan sudah hilang. Meski demikian, sisa-sisa keindahan petirtaan masih dapat dinikmati hingga kini.

Sekitar tahun 1970-an, sisa area yang ada akhirnya diambil dan diamankan di Museum Trowulan Mojokerto. Praktis, sejak itu hanya tersisa satu area berbentuk garuda di pojok timur di bawah pohon raksasa yang disebut warga sekita sebagai Pohon Elo.

Pohon-pohon tumbuh mengelilingi kawasan petirtaan. Selain itu, dipasang pula kawat berduri mengelilingi Petirtaan Watugede. Jika diperhatikan dengan seksama, tampak banyak bangunan yang merupakan bagian dari kompleks pemandian ini terkubur atau roboh akibat termakan usia. [rka]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini