Kisah Jalan Priok Ancol Jakarta Utara, Sering Sebabkan Kecelakaan di Zaman Belanda

Jumat, 5 November 2021 18:30 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Kisah Jalan Priok Ancol Jakarta Utara, Sering Sebabkan Kecelakaan di Zaman Belanda Jalan Priok R.E Martadinata. ©2021 YouTube Candrian Attahiyyat/Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagai salah satu jalanan sibuk di Utara Kota Jakarta, jalan R E Martadinata di Tanjung Priok ternyata Ancol menyimpan berbagai kisah yang jarang diketahui oleh masyarakat.

Bahkan, jalan yang berada di bawah jembatan flyover tersebut konon telah terkenal di masa penjajahan Belanda sebagai lokasi paling maut dengan deretan peristiwa kecelakaan yang membuat pengendaranya tewas.

Berdasarkan arsip sejarah yang Merdeka singkap, terdapat sejumlah fakta terkait alasan kawasan tersebut dikenal 'mengerikan' terutama di tahun 1920-1960 an. Melansir kanal YouTube Candrian Attahiyyat Jumat (5/11), berikut informasi selengkapnya

Memiliki Nama Awal De Priok Weg

jalan priok re martadinata
Jalan de Priok Weg / R.E Martadinata

©2021 YouTube Candrian Attahiyyat/Merdeka.com


Sebagaimana diinformasikan Arkeolog Candrian Attahiyyat dalam kanal YouTubenya, dahulu jalan tersebut memiliki nama "De Priok weg" yang dalam bahasa Belanda artinya Jalan Priok.

Jalan tersebut diketahui memiliki sejarah yang panjang, dan sudah ada sejak abad ke-19. Candrian menyebut, dahulunya jalan tersebut merupakan lintasan tanah yang diperkeras dan terus diperbaiki kualitasnya oleh pemerintah Hindia Belanda.

"Jalan R E Martadinata ini dahulunya bernama jalan De Priok Weg. Weg artinya adalah jalan, jadi kurang lebih artinya adalah Jalan Priok. Jalan ini juga termuat dalam laporan publikasi Belanda yang diterbitkan tahun 1926 bertajuk Nederlandsch - Indische Wegenvereeniging, de Priokweg" kata dia

Diaspal Pertama Kali Tahun 1920 dan Jadi yang Terbaik di Dunia

jalan priok re martadinata

jalan priok re martadinata
©2021 YouTube Candrian Attahiyyat/Merdeka.com


Di publikasi tersebut turut dirincikan seputar Jalan R E Martadinata yang pertama kali diaspal tahun 1920 hingga menjadi bagus bertahap.

Dengan meningkatnya kualitas tersebut, Jalan R E Martadinata pun menyandang gelar sebagai jalan dengan kualitas paling baik di dunia, karena pada masa itu sangat jarang terdapat jalan dengan kualitas beraspal mahal seperti di sana.

"Kebanyakan para pembaca tentu sudah kenal Jalan Priok. Tetapi kira-kira tidak tahu keadaannya ini waktu itu. Dengan ongkos beribu ribu, jalan itu menjadi suatu jalan yang paling baik. Sehingga di dunia jarang didapati jalan sedemikian itu" seperti tertulis di publikasi tersebut, dengan ejaan lama.

Mengundang Malapetaka Usai Diaspal

jalan priok re martadinata
©2021 YouTube Candrian Attahiyyat/Merdeka.com


Sayangnya, meningkatnya kualitas jalan itu tidak dibarengi dengan selamatnya para pengguna jalan melintas. Justru kondisi jalan yang beraspal mulus menjadi penyebab utama kecelakaan di sana.

Hal ini disebabkan karena ruas jalan yang sepi, sehingga menyebabkan ketakutan dari para pemilik kendaraan hingga memacu kendaraannya dengan cepat.

"Karena jalanan sepi dan sangat sedikit penduduk membuat para pengendara di sana khawatir akan terjadi sesuatu pada kendaraannya, sehingga mereka memacu kendaraannya dengan kencang. Oleh karena itu jalan Priok Weg ini sering dikatakan sebagai jalan maut" kata Candriyan.

Wajib Bunyikan Klakson hingga Terdapat Tempat Berdoa Untuk Keselamatan

jalan priok re martadinata
Tepekong atau tempat berdoa yang didirikan oleh komunitas Tionghoa dari Glodok tahun1960 agar para pengendara selamatmendi©2021 YouTube Candrian Attahiyyat/Merdeka.com

Turut dikenal sebagai tempat kecelakaan, membuat masyarakat yang melintas memercayai adanya mitos yang berkembang. Salah satu yang cukup langgeng dianut adalah harus membunyikan beli atau klakson sebanyak tiga kali untuk mengusir roh jahat yang mengganggu pengguna jalan.

Masyarakat di sana beranggapan, makhluk tak kasat mata tersebut kerap ikut melintas sehingga menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Bahkan, untuk memutus mitos tersebut sekelompok warga Tionghoa dari Glodok turut mendirikan 'tepekong' atau tempat berdoa di salah satu sudutnya agar para pengguna jalan terlindungi.

"Jadi tepekong ini didirikan tidak jauh dari lokasi jembatan si manis jembatan ancol oleh warga Tionghoa di Glodok untuk menghindari roh halus, dan mencegah kecelakaan di sekitar tahun 1960" katanya [nrd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini