Kisah Hidajat Martaatmadja dan Keluarga Kecilnya yang Tak Takut pada Belanda

Kamis, 7 Juli 2022 01:05 Reporter : Merdeka
Kisah Hidajat Martaatmadja dan Keluarga Kecilnya yang Tak Takut pada Belanda Kolonel Hidajat Martaatmadja. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kendati ditinggalkan oleh suaminya berjuang ke Sumatra, Ratu Aminah Martaadmadja dan putrinya tetap tak mau menyerah kepada tentara Belanda.

Penulis: Hendi Jo

Pertengahan Desember 1948. Hawa dingin masih membekap Bukittinggi, ketika Kolonel Hidajat Martaatmadja (komandan Markas Besar Komando Sumatra) membuka rapat dengan para staf-nya. Baru saja dia mengucapkan sepatah dua patah kata, tiba-tiba terdengar raungan suara pesawat tempur yang diikuti ledakan bom dan rentetan senjata otomatis.

Otomatis semua yang hadir menuju lobang-lobang perlindungan yang memang sudah tersedia sekitar markas dan langsung mengambil posisi tiarap. Beberapa bom jatuh menimpa Markas Besar Komando Sumatra dan Markas Komando Sumatra Barat. Dua Gedung yang berdampingan itu seketika hancur lebur.

"Beberapa korban jatuh. Saya terelak dari sebuah pemboman. Tuhan Maha Besar," kenang Chairun Basri seperti diceritakannya dalam buku Bunga Rampai Perjuangan dan Perngorbanan Jilid Pertama.

2 dari 4 halaman

Mundur ke Pasaman

Tak ada cara lain, Mayor Chairun Basri yang saat itu menjabat sebagai kepala intelijen Komando Sumatra, menyarankan Kolonel Hidajat beserta seluruh staf-nya mundur ke Pasaman.

Itu nama wilayah yang terletak di utara Sumatera Barat dan memiliki posisi strategis secara militer. Selain merupakan gudang beras, Pasaman adalah akses yang mudah untuk berhubungan dengan luar negeri. Terutama Singapura, tempat suplai logistik dan persenjataan buat para gerilyawan republik.

Pada 20 Desember 1948, rombongan Kolonel Hidajat memulai gerakan mundur dari Bukittinggi ke Pasaman. Usai melakukan konsolidasi antar pasukan, Kolonel Hidajat mulai merencanakan perjalanan untuk mengunjungi front-front terdepan di seluruh Sumatera. Jika dihitung dari segi jarak, maka perjalanan tersebut harus menempuh ribuan kilometer.

"Semua itu harus dilakukan lewat jalan kaki, di sela-sela pertahanan dan kedudukan Belanda," ungkap Chairun.

Safari perang pertama sang kolonel dimulai dari arah selatan guna membangun komunikasi dengan Kolonel M. Simbolon. Mereka bergerak melalui rute Pekanbaru-Rengat-Jambi. Dalam perjalanan panjang itu, selain Mayor Chairun, Hidayat pun disertai oleh dua ajudannya: Kapten Islam Salim dan Kapten Jusuf Ramli beserta beberapa orang prajurit.

"Kami menempuh jarak panjang melalui hutan belantara, dengan rakit menyusuri sungai-sungai, naik-turun bukit silih berganti," kenang Chairun.

Sejak itu pula mereka harus berkawan akrab dengan berbagai marabahaya: mulai ancaman binatang buas (harimau, gajah dan beruang) hingga serangan tentara Belanda. Setiap malam mereka berkemah di tengah hutan belantara yang kadang minim sekali tertembus sinar bulan atau bintang. Suasana memang agak mencekam, namun di tengah semua itu, mereka masih sempat memikirkan isteri yang entah di mana berada bersama anak-anak yang masih kecil.

"Tapi semua beban dirasakan agak ringan, karena kita semua selalu berbagi…" kenang Chairun.

3 dari 4 halaman

Anak dan Istri Diperiksa Belanda

Hidajat memiliki istri bernama Ratu Aminah dan seorang putri bernama Dewi, yang dia tinggalkan di Yogyakarta. Ketika Yogyakarta dikuasi tentara Belanda, ibu kota RI itu otomatis menjadi wilayah pendudukan musuh. Tentu saja hal tersebut membuat Hidajat sempat mengkhawatirkan kondisi mereka.

Apa yang dikhawatirkan Hidajat memang terjadi. Beberapa hari setelah militer Belanda menguasai Yogyakarta, kepala Dinas Intelijen Belanda (IVG) Kapten A.V. Vosveld memang memeriksa istri dan anak Hidajat. Aminah diperiksa terlebih dahulu di ruangannya. Itu berlangsung selama kurang lebih tiga perempat jam. Selama itulah Dewi merasakan kekhawatiran yang sangat terhadap keselamatan ibunya.

"Hatiku berdebar dan serasa panas dingin karena takut ibu akan dianiaya," kenang Dewi seperti dikisahkan dalam bukunya, Hidajat: Father, Friend dan A Gentleman.

Barulah dirinya merasa lega ketika dilihatnya sang ibu keluar dari ruangan Vosveld dalam keadaan utuh. Namun baru saja akan berkemas untuk pulang, tetiba Letnan J.A. Bakker memanggil Dewi untuk masuk ke ruangan sang kapten.

"Apa perlunya?" tanya Ratu Aminah dalam bahasa Belanda.
"Kapten hanya ingin berkenalan saja," jawab Letnan Bakker.

Begitu memasuki ruangannya, Vosveld dengan ramah mempesilakan putri kolonel republik itu duduk di seberang meja kerjanya. Dia lantas bertanya dalam bahasa Belanda: berapa usia Dewi, hobi Dewi, apa masih sekolah dan jika masih di manakah dia bersekolah. Setelah dijawab semua pertanyaan itu, Vosveld menatap mata Dewi sambil berkata:

"Segeralah tulis surat kepada ayahmu! Suruh ia kembali dari petualangannya di rimba Sumatra. Dan kamu akan bisa kembali ke sekolah secara normal dan meneruksan lagi hobimu main piano dan main tenis secara teratur."

4 dari 4 halaman

Membela Sang Ayah

Alih-alih langsung mengiyakan apa yang diperintahkan Vosveld, Dewi malah merasakan dirinya marah. Sambil mencucurkan air mata karena menahan emosi, putri Hidajat itu malah menjawab:

"Nooit van m'n leven zal ik mijn vader schrijven om thuis te komen (Tak akan pernah saya menyurati ayah untuk pulang). Jika itu saya lakukan sama saja saya menyuruhnya untuk berhenti berjuang!"

Tentu saja Vosveld terkejut mendengar jawaban itu. Dia menatap Dewi sebentar, lalu meminta Bakker untuk membawa Dewi keluar.

"Dasar anak kiblik (republik)…" demikian komentar Hidajat saat diceritakan oleh Dewi tentang peristiwa itu, beberapa hari setelah dia kembali ke Yogyakarta.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini