Pertempuran Surabaya (1)

Ketika Timur Jawa Membara

Jumat, 29 Oktober 2021 05:06 Reporter : Merdeka
Ketika Timur Jawa Membara 10 November. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Tak konsisten dengan kesepakatan yang sudah dibuat, rakyat Surabaya marah terhadap militer Inggris.

Penulis: Hendi Jo

SHRI P.R.S. Mani masih ingat situasi ketika dia kali pertama datang ke Surabaya. Akhir Oktober 1945, pagi itu keadaan berjalan normal. Toko-toko buka seperti biasa. Becak-becak meluncur di jalan dengan kecepatan teratur. Sementara itu kendaraan-kendaraan bermotor yang sudah kuno berlalu-lalang, mendenguskan asap hitam yang menjengkelkan.

Di jalanan, bendera merah putih terpasang hampir di semua kendaraan. Sebaris kata 'merdeka' ditulis sangat besar dalam kain terpal yang panjang. Selain itu nampak jelas tanda-tanda yang membuat para prajurit Rajputana dan Maharatta dari Brigade Infanteri ke-49 British Indian Army gelisah: suatu coretan besar di tembok kota berbunyi 'Azadi ya Kunrezi!' (Merdeka atau Mati!).

"Tidak seperti di Batavia, Surabaya sangat beda. Tidak ada isyarat keramahan buat kami...Sedikit pun," ungkap Mani dalam The Story of Indonesia Revolution, 1945-1946.

Para prajurit BIA memang layak merasa tertolak di Surabaya. Mereka dianggap sebagai pihak yang tidak kstaria terhadap janji. Baru saja sehari sebelumnya mereka bersepakat dengan tokoh-tokoh pejuang Surabaya untuk menjamin kondisi lebih aman dan terkendali, tiba-tiba pada 27 Oktober 1945 sebuah pesawat dakota RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) menyebarkan ribuan selebaran yang isinya membuat arek-arek Suroboyo marah.

"Mereka menuntut kami untuk menyerahkan semua senjata hasil rampasan dari tentara Jepang. Jika tidak, Inggris akan langsung menembak mati di tempat orang Surabaya yang tidak patuh pada permintaan itu," ungkap Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945.

Satu jam setelah kejadian itu, pimpinan TKR di Surabaya Jenderal Mayor drg. Moestopo dan Residen Soedirman langsung menemui Brigadir A.W.S Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, Mallaby menyatakan dirinya tidak tahu menahu mengenai pamflet yang ditandatangani oleh atasannya di Batavia itu.

"Namun sebagai perwira British, meski saya sudah menandatangani persetujuan dengan para pemimpin Republik di Surabaya, saya harus mematuhi instruksi panglima saya," demikian menurut Mallaby seperti dicatat oleh Des Alwi.

Jawaban Mallaby membuat Moestopo dan Soedirman sangat kecewa. Sebagaimana orang-orang Surabaya lainnya, mereka berdua mulai kehilangan rasa percaya kepada pihak Inggris. Terutama ketika Mallaby memerintahkan pasukannya untuk menyita kendaraan-kendaraan milik orang-orang Indonesia, merampas senjata mereka, menduduki gedung-gedung baru dan menginstruksikan pamer kekuatan di tengah kota.

Gubernur Soerjo terus berupaya untuk mencoba jalan tengah. Nyatanya, apa yang diusahakan Soerjo berjalan sia-sia. Ketika melapor ke Jakarta, para pejabat pemerintah pusat hanya menyarankan agar masyarakat Surabaya tidak terpengaruh, sambil meminta mereka untuk menolak ultimatum itu secara tegas.

Moestopo sendiri langsung mengatur anak buahnya. Dari jam ke jam, situasi kota di timur Jawa itu semakin membara. Beberapa kontak senjata sudah dimulai di beberapa sudut Surabaya. Lewat asistennya bernama Kolonel Pugh, Brigadier Mallaby menyerukan semua pejuang Surabaya bisa menahan diri dan memikirkan baik-baik untuk menerima ultimatum Inggris tersebut.

Namun alih-alih menuruti yang disarankan oleh Mallaby, Komandan TKR Keresidenan Surabaya Djendral Mayor Jonosewojo dan Residen Surabaya Sudirman malah menjawab ajakan itu dengan penolakan total atas ultimatum Inggris: pasukan Republik menolak untuk menyerah. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini