Kematian Jenderal Spoor versi Mayor Bedjo: Tewas dalam Panser

Jumat, 20 Mei 2022 17:36 Reporter : Merdeka
Kematian Jenderal Spoor versi Mayor Bedjo: Tewas dalam Panser Pemakaman Jenderal Spoor di Menteng Pulo. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Cerita versi Pasukan Bedjo yang membunuh Jenderal Spoor di dekat Bukit Simagomago.

Penulis: Hendi Jo

Minggu pagi, 22 Mei 1949. Pasukan Selikur di bawah pimpinan Mayor Bedjo baru saja tiba di Kampung Perausorat, Sipirok. Di sana, seseorang dari Padangsidempuan sudah menunggu sang mayor dan langsung menyampaikan surat dari dr.Cashmir, kepala intel TNI di Sumatera Utara yang bekerja di Rumah Sakit Padangsidempuan.

Dalam surat tersebut, dr.Cashmir menyampaikan pesan dalam bentuk kode. Isinya: Pada 21 Mei 1949 Jenderal Spoor telah tiba di Medan dan akan menuju Padangsidempuan pada 23 Mei 1949 guna meninjau front Sipirok, kemudian akan terus ke Sumatera Barat via jalan darat.

Usai mendiskusikan soal itu dengan para stafnya, Bedjo lantas memerintahkan Kapten Selamat Kataren dan Kapten Azhari Hasontang supaya seluruh Yon VI mengadang rombongan Spoor di Bukit Simagomago. Tanpa banyak cakap, instruksi itu dilaksanakan: Kompi Mena Pinim dan sebagian besar anggota Kompi Sahala Muda Pakpahan lantas dikerahkan dari Simangambat ke sekitar Bukit Simagomago. Dini hari pada 23 Mei 1949, kedua pasukan itu sudah stelling di sana.

"Mayor Bedjo sendiri memimpin langsung Kompi Tugi dibantu satu seksi dari Kompi Sahala yang dipimpin oleh wakil komandan kompinya yang bernama Raja Goda," tulis Edi Saputra dalam Sumatera dalam Perang Kemerdekaan.

2 dari 3 halaman

Pengakuan Gerilyawan

Setelah kurang lebih lima jam menunggu, pada sekitar pukul sembilan, barulah terdengar gemuruh mesin truk dan roda kendaraan tempur. Dari arah Pal 11 (Padangsidempuan) terlihat iring-iringan konvoi militer yang bagian depannya didahului oleh jip terbuka bermuatan serdadu-serdadu berseragam loreng. Jumlah keseluruhan kendaraan dalam konvoi itu adalah 25 unit.

Suasana tegang semakin terasa kala konvoi tersebut semakin mendekat ke zone sasaran. Jip terdepan dibiarkan lewat. Namun begitu panser yang ada di belakang jip ada dalam jangkauan tembakan, suara bren tanda komando penyerangan pun menyalak. Bersamaan dengan bunyi letusan bren, hamburan peluru dari berbagai macam jenis senjatan lantas menyasar kendaraan-kendaraan tempur tersebut.

Pertempuran pun terjadi dengan dahsyat. Dari atas Bukit Simagomago, salakan senjata-senjata otomatis pun ikut meramaikan suasana palagan. Di tengah adu nyawa itu, tiba-tiba terdengar gemuruh kendaraan tempur lain dari arah Sipirok dan deru dua pesawat pemburu dari arah Batangtoru (Pinangsori). Sebelum mundur, Pasukan Selikur sempat melumpuhkan dua panser.

"Panser terdepan oleng dan masuk parit di pinggir jalan sedang satu panser lagi usai dihajar habis-habisan dengan hamburan peluru senjata otomatis lantas terdiam di tengah jalan tanpa melakukan tembakan balasan lagi," kisah M. Said, salah seorang gerilyawan yang terlibat dalam pertempuran itu.

3 dari 3 halaman

Sang Penembak Jenderal Spoor

Saat pengunduran diri itulah, baru diketahui Pasukan Selikur kehilangan lima anggotanya termasuk Darmono, sang pemegang senjata bren. Namun dalam laporannya kepada (Komandan Operasi Sektor I) Kapten Azhari Hasontang, Letnan Mena Pinim dan Letnan Sahala Muda Pakpahan menyebut bahwa mereka berhasil menewaskan seorang perwira tinggi Belanda yang diperkirakan adalah Jenderal Spoor.

"Jenderal itu tewas dalam salah satu panser yang berhasil dilumpuhkan oleh Pasukan Selikur," tulis Edi Saputra.

Menurut Edi, Mayor Bedjo sendiri tak gegabah menerima laporan tersebut. Untuk meyakinkan, besok harinya dia mengutus tiga informan ke Padangsidempuan, Sibolga dan Tarutung.

Titik terang muncul saat para informan melaporkan bahwa telah berkibar bendera Belanda setengah tiang (tanda berkabung) di ketiga tempat tersebut. Berita yang tersebar, itu ditujukan untuk seorang Komisaris Tinggi Polisi Belanda yang tewas dalam suatu penghadangan. Tapi untuk apa seorang perwira tinggi polisi bersama konvoi militer? Tak seorang pun yang bisa menjawabnya.

Mayor Bedjo semakin yakin akan laporan anak buahnya ketika pada 25 Mei 1949, Radio Belanda di Jakarta mengumumkan telah meninggalnya Jenderal S.H. Spoor, pimpinan tertinggi militer Belanda di Indonesia, akibat serangan jantung sekembali dari kunjungannya ke Medan.

Keyakinan itu semakin kuat saat tahun 1951, seorang bekas pengawal Jenderal Spoor bernama Sersan Mayor Tumanggor menyatakan bahwa Spoor tidak mati akibat hartverlaming, tapi karena luka-luka tembaknya saat diadang Pasukan Selikur di wilayah Bukit Simagomago.

Muhammad TWH sendiri mengakui adanya versi Bedjo ini. Bahkan dia pun pernah mewawancarai beberapa saksi yang menyebut Letnan Sahala-lah yang langsung mengeksekusi Spoor di jembatan Aek Horsik, Bukit Simagomago. Akibat kematian sang jenderal itu, militer Belanda sangat marah dan berusaha memburu pemuda berusia 23 tahun itu di mana pun.

"Baret Hijau dikerahkan untuk menangkapnya," ujar TWH.

Tiga bulan setelah tewasnya Spoor, Letnan Sahala Muda Pakpahan akhirnya dapat ditangkap. Setelah ditahan dan disiksa, dia lantas ditembak mati . Jasadnya kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Sipirok.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini