Pertempuran Surabaya (6)

Drama di Morokrembangan

Minggu, 7 November 2021 06:06 Reporter : Merdeka
Drama di Morokrembangan 10 November. ©Istimewa

Merdeka.com - Presiden Sukarno datang ke Surabaya. Menyeru pejuang Indonesia dan Brigade ke-49 British Indian Army lakukan gencatan senjata.

Penulis: Hendi Jo

PESAWAT dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) itu berputar-putar resah di atas Morokrembangan. Sang pilot jelas ragu untuk melakukan pendaratan langsung. Selain sadar jika lapangan udara itu sudah dikuasai sepenuhnya oleh musuh, dia pun bisa jadi agak ngeri dengan desingan peluru yang mengarah ke tubuh burung besi tersebut.

Ketika pesawat mulai merendah, melintas di kawasan Kranggan, para pejuang Indonesia secara refleks mengarahkan tembakan mereka ke atas. Aksi itu terhenti seketika ketika sang komandan tiba-tiba memerintahkan seluruh anak buahnya untuk tidak menekan picu senjata mereka.

"Seruan Bung Tomo yang terus menerus dari radio menyelamatkan pesawat itu dari hantaman peluru-peluru para pejuang Indonesia," ungkap Des Alwi dalam suatu wawancara pada 2008.

Situasi kritis kembali menyergap ketika pesawat dakota mendarat di Morokrembangan. Begitu berhenti, kendaraan udara milik Inggris itu langsung dikepung. Moncong berbagai jenis senjata siap menyalak. Suasana tegang membekap di seluruh area lapangan udara.

Pintu pesawat perlahan terbuka. Muncul wajah Presiden Sukarno diikuti Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin. Dengan mengenakan seragam putih-putih dan peci hitam khas-nya, Bung Karno turun dari pesawat sambil mengepalkan tinjunya.

"Merdeka! Merdeka! Merdeka!" teriaknya menggelegar.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Massa rakyat dan tentara Indonesia seolah tersihir. Mereka nyaris tak percaya wajah yang sudah sangat mereka kenal itu turun dari pesawat musuh.

"Itu Bung Karno, Presiden kita! Merdeka!" teriak salah seorang dari mereka.

Seperti dikomando, ribuan massa langsung menyambut teriakan itu dengan kata-kata yang sama. Bunyi gemuruh terdengar memekakan telinga. Drama sejarah tengah berlangsung di Morokrembangan pada siang 29 Oktober 1945.

Si Bung Besar dan rombongan dari Jakarta kemudian diarak ke luar lapangan udara. Dengan menggunakan sebuah panser wagon, massa rakyat dan tentara Indonesia mengawal mereka hingga ke Gedung Kegubernuran di pusat kota Surabaya. Selama dalam perjalanan, Sukarno melukiskan kesannya terhadap situasi Surabaya saat itu.

"Kota itu sudah menjadi kota neraka," ungkapnya seperti disampaikan kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia.

Sukarno dan Hatta segera melakukan diksusi dan perundingan dengan para pemimpin di Surabaya: Gubernur Suryo, Moestopo, Residen Sudirman dan Doel Arnowo. Kepada mereka Sukarno meminta untuk menghentikan pertempuran dan mengadakan gencatan senjata dengan pihak Inggris.

Gumanan kesal berguruh di ruangan kegubernuran. Para pemimpin Surabaya menolak ajakan itu dan memilih untuk melanjutkan pertempuran. Mereka merasa tidak pernah melanggar perjanjian 26 Oktober 1945.

"Di mata mereka, Sekutulah yang ingkar janji," ungkap Frank Palmos dalam Surabaya 1945, Sakral Tanahku.

Sukarno memahami semangat revolusiener para pemimpin Surabaya. Namun dia mengatakan bahwa hari-hari itu, Indonesia sebagai bangsa yang baru lahir dan menjadi sorotan dunia, harus memenangkan pertempuran lewat meja perundingan.

"Kita tidak akan bisa merdeka dan menang perang, bila kita masih saja membunuh dengan cara membabi-buta," ujar Sukarno.

Kendati merasa berat, para pemimpin dan rakyat Surabaya akhirnya tunduk kepada keputusan presiden mereka. Besoknya Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia melakukan perundingan dengan Mayor Jenderal D.C. Hawthorn, Panglima Sekutu untuk wilayah Jawa, Bali dan Lombok.

Terbitlah keputusan-keputusan sebagai berikut:

Satu, isi selebaran yang ditandatangani oleh Hawthorn dan disebarluaskan pada 27 Oktober 1945 dinyatakan tidak berlaku.

Dua, pihak Sekutu akan membatasi kehadiran mereka pada wilayah kamp-kamp kaum interniran di sekitar Gedung HBS dan wilayah Darmo

Tiga, Sekutu hanya akan berkomunikasi dengan TKR dan Kepolisian RI lewat Biro Komunikasi. Indonesia akan diwakili oleh Ruslan Abdul Gani sebagai koordinator dan pihak Inggris akan diwakili oleh Kapten Shaw sebagai koordinator. Mereka berdua diharapkan bisa bekerja sama mewujudkan kesepakatan-kesepakatan tersebut. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini