Bentrok TKR-LRDR di Karawang: Tawuran Pakai Peluru

Minggu, 26 Juni 2022 07:26 Reporter : Merdeka
Bentrok TKR-LRDR di Karawang: Tawuran Pakai Peluru Pasukan LRDR saat berjuang di Karawang. IPPHOS©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Sama-sama diusir mundur tentara Inggris ke arah Karawang, hubungan dua organ bersenjata kaum Republik tak pernah akur lagi.

Penulis: Hendi Jo

Desember 1945, militer Inggris menuntut pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membersihkan Jakarta dari unsur-unsur kaum bersenjata, termasuk Tentara Keamanan Rakjat (TKR). Mereka berdalih, Jakarta akan dijadikan kota diplomasi yang harus bebas dari pertempuran.

"Karena ingin merebut hati orang-orang Inggris, tak ada yang bisa dilakukan oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, kecuali menuruti keinginan itu," ungkap sejarawan Robert B. Cribb.

Sebagai tentara resmi pemerintah, TKR tentu saja menuruti apa yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Sjahrir. Namun tak demikian dengan LRDR. Alih-alih mundur, mereka malah mengobarkan perang di seluruh Jakarta dan itu cukup memusingkan militer Inggris dan Belanda.

2 dari 4 halaman

Tawuran Pakai Peluru

Pada penghujung 1945, militer Inggris sudah pada tahap habis kesabarannya. Tanpa berkoordinasi dengan pemerintah RI, mereka lantas melancarkan Operasi Sergap, sebuah aksi yang menurut pihak Inggris ditujukan untuk mengusir para kriminal dan ekstrimis dari dalam kota Jakarta. Kalah segalanya, LRDR pun terusir ke Karawang.

Sejak kedatangan LRDR pada awal 1946, Karawang yang tenteram berubah menjadi rusuh: perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan, lelaki kelahiran Karawang pada 1928, biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya satu kelompok lasykar tidak mau bayar makanan di sebuah restoran, lalu pemilik restoran itu lapor ke pihak kelompok bersenjata lainnya.

"Ya jadilah kemudian tawuran pakai peluru," ujar mantan anggota laskar Hizboellah di Karawang itu.

Soal itu dibenarkan oleh M. Kharis Suhud. Sebagai anggota TKR dari Resimen Cikampek, dia menjadi saksi bagaimana para anggota LRDR kerap melakukan aksi-aksi provikatif di jalanan kota Karawang.

"Mereka sering melakukan pamer kekuatan dengan senjata lengkap di kota sambil menyanyikan lagu-lagu menyeramkan seperti lagu “Darah Rakyat”," tulis Kharis dalam sebuah tulisannya berjudul Sekilas Pengabdian Resimen Cikampek dalam Perang Kemerdekaan.

3 dari 4 halaman

Perang Saudara

Atas insiatif salah satu tokohnya Maroeto Nitimihardjo, LRDR kemudian mengubah namanya menjadi Lasjkar Rakjat Djawa Barat (LRDB), mengingat posisi mereka waktu itu berada di Jawa Barat.

"Karena sulit membedakan antara LRDR dengan LRDB, maka orang-orang hanya menyebutnya Lasjkar Rakjat saja," ungkap Telan.

Di Karawang, LR mencitrakan dirinya sebagai kekuatan yang tumbuh dari rahim rakyat. Selain berfungsi sebagai milisi, LR juga terbilang cukup aktif dalam upaya-upaya sosial seperti pemberantasan buta huruf dan pemberdayaan ekonomi rakyat lewat pembentukan BERI ( Badan Ekonomi Rakyat Indonesia).

"Mereka pun memiliki sebuah surat kabar yang bernama Godam Djelata" ujar Robert B. Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949.

Namun sikap politik organ bersenjata pimpinan Sutan Akbar yang menentang Perdana Menteri Sjahrir itu menyebabkan mereka harus berhadapan langsung dengan kekuatan TKR yang kemudian berubah menjadi Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).

Konflik antara dua kubu tersebut semakin mengerucut saat pada 27 November 1946, Komandan Resimen V Tentara Republik Indonesia (TRI) Letnan Kolonel Soeroto Koento hilang tanpa jejak bersama kepala staf-nya Mayor Adel Sofyan.

"Tuduhan langsung ditujukan kepada orang-orang eks LRDR sebagai pelaku penculikan itu. Namun tentu saja disangkal secara keras," ungkap sejarawan Rushdy Hoesein.

4 dari 4 halaman

Hancurnya LRDB

Tanggal 18 Maret 1947, Presiden Sukarno mengumumkan penyatuan nasional antara kekuatan tentara resmi dengan kekuatan laskar di bawah pimpinan Jenderal Soedirman demi menghadapi agresifitas Belanda.

Seruan itu dalam kenyataannya hanya dituruti oleh lima kelompok laskar (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia, Barisan Banteng Republik Indonesia, Pemoeda Sosialis Indonesia, Lasjkar Boeroeh dan Markas Poesat Hizboellah Sabilillah) dengan membentuk Detasemen Gerak Cepat bagi Badan Perjuangan yang berkedudukan di Karawang. LR sendiri menolak untuk bergabung dalam detasemen lintas lasykar itu.

Penolakan itu membuat berang pemerintah RI. Maka tanpa ampun dan dengan memakai dalih untuk menghukum pelaku penculikan Soeroto Koento dan Adel Sofyan, pada 17 April 1947, mereka menghancurkan LRDB di seluruh Karawang.

Tak kuat menghadapi kekuatan TRI, ribuan anggota LRDB melarikan diri ke “wilayah Belanda”. Sebagian lagi mengungsi ke Jawa Tengah, mengikuti jejak pemimpin besar mereka: Tan Malaka.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini