Barutunggul, Neraka Tentara Belanda di Dataran Tinggi Ciwidey

Minggu, 24 Juli 2022 06:06 Reporter : Merdeka
Barutunggul, Neraka Tentara Belanda di Dataran Tinggi Ciwidey Seorang prajurit Belanda dari Batalyon 3-8-RI tengah menulis di Ciwidey. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Dengan medan yang sulit dan kekokohan pasukan TNI yang mengawalnya, pihak Belanda mengakui jika kawasan yang ada di dataran tinggi Ciwidey itu memang sulit dikuasai.

Penulis: Hendi Jo

Kekalahan terus menerus yang dialami para serdadunya saat menyerbu Barutunggul, tentu saja membuat para pimpinan militer Belanda tak bisa menerima kenyataan tersebut. Dengan menyertakan lebih banyak brencarrier, panser, kendaraan lapis baja dan pesawat pengintai, pada 23 Agustus 1947 satu kompi prajurit Belanda dari 3-8-RI kembali bergerak ke kawasan yang berada di dataran tinggi Ciwidey itu.

Prajurit Hettema masih ingat bagaimana di keheningan pagi yang dingin, mereka bergerak dari kota Ciwidey menuju Barutunggul. Hettema menyatakan, saat itu dirinya merasa gamang karena malam harinya dia berfirasat buruk terhadap rencana penyerangan tersebut.

"Tapi saat itu saya berharap kami bisa melewati semuanya…" ungkap prajurit 3-8-RI seperti dikutip Thijs Brocades Zaalberg dalam “In the Oost, 1946-1950” yang termaktub di buku 200 Jaar Koninklijke Landmacht, 1814-2014 (disunting oleh Ben Schoenmaker).

2 dari 4 halaman

'Bisa Botak Rambut Ditembaki'

Tentu saja tak ada yang menyalahkan ketakutan Hettema. Para serdadu dari 3-8-RI sangat mafhum jika Barutunggul adalah 'neraka'. Kendati jaraknya dengan basis mereka hanya sekitar enam kilometer, namun 'kegilaan' gerilyawan republik di wilayah itu cukup menimbulkan suasana frustasi di kalangan para serdadu Belanda.

Ternyata benar. Begitu iring-iringan konvoi 3-8-RI mencapai tikungan Barutunggul, suitan peluru tajam langsung menyambut kedatangan mereka. Kendati sudah diperhitungkan, namun tak ayal situasi itu menimbulkan kepanikan yang luar biasa.

"Sekali saja kami memperlihatkan rambut sedikit di atas pertahanan stelling, bisa-bisa botak habis rambut kami ditembakin mereka," kenang Hettema.

Hujan peluru dari hutan-hutan di atas mereka itu lantas dibalas dengan tembakan sekitar 450 peluru artileri dan peluru-peluru 12,7 dari sebuah pesawat P-51 Mustang. Namun alih-alih terbungkam, tembakan dari arah bukit malah semakin menggila dan salah satunya berhasil menjatuhkan pesawat Mustang.

Jatuhnya pesawat Mustang membuat serangan pihak militer Belanda menjadi pincang. Merasa tak akan mampu terus bertempur, komandan 3-8-RI memutuskan pasukannya mundur kembali ke arah Ciwidey.

Dalam situasi kacau, prajurit-prajurit yang mundur itu kembali menjadi sasaran empuk peluru-peluru yang berseliweran dari arah bukit dan membuat beberapa serdadu jatuh ke jurang.

"Saya lihat mereka panik. Sambil berteriak-teriak, mereka bergerak turun namun tak memperhatikan arah jalan yang saat itu tertutup kabut juga," kenang Uweb, eks anggota Siluman Merah.

3 dari 4 halaman

Genangan Darah

Pertempuran di Barutunggul baru berakhir ketika senja datang. Tanpa menyebut jumlah korban luka-luka, sejarawan militer Belanda Thijs Brocades Zaalberg menyebut bahwa lima serdadu 3-8-RI telah kehilangan nyawanya dalam pertempuran tersebut.

"Seorang dari pihak militer Belanda berhasil ditawan…" ungkap Zaalberg.

Uweb sendiri menolak keterangan itu. Menurutnya, jumlah prajurit Belanda yang tewas sangat banyak: kira-kira lebih dari lima puluh orang. Buktinya, ketika pertempuran usai, prajurit-prajurit Siluman Merah turun ke bawah dan menemukan mayat-mayat serdadu Belanda bergelimpangan di jalanan.

"Saya ingat kami berjalan di atas genangan darah yang sangat banyak. Sepatu kami terasa sangat lengket jadinya…" kenang lelaki kelahiran Ciwidey itu.

Untuk serdadu Belanda yang berhasil ditawan, jumlahnya sesuai dengan versi pihak militer Belanda yakni satu orang. Menurut Uweb, tentara Belanda yang ditawan itu tiada lain adalah pilot Mustang yang berhasil ditembak jatuh Pasukan Siluman Merah.

"Saya ingat namanya Mierwijk. Waktu kami temukan, bagian pipinya luka-luka mungkin terkena peluru atau serpihan kaca pesawat…" ungkap Uweb.

4 dari 4 halaman

Korban Satu Pleton Tentara Belanda

Mierwijk kemudian menjadi tawanan Pasukan Siluman Merah. Menurut Uweb, dia diperlakukan sangat baik dan mendapat perhatian langsung dari Kapten Achmad Wiranatakusumah.

Ironisnya hal yang sama tidak dilakukan oleh pihak 3-8-RI. Menurut Hettema, begitu berhasil mencapai basis mereka di Ciwidey, sisa-sisa prajurit 3-8-RI yang tengah frustasi malah langsung menyeret empat tawanan TNI dan langsung menghabisi mereka.

"Itu bukan pembunuhan, tapi keadilan yang akan membuat kita tidur nyenyak" ungkap Hettema mengutip kata-kata kawannya yang langsung menjadi algojo dalam kasus penembakan tawanan itu.

TNI sendiri mengklaim pertempuran itu sebagai salah satu prestasi gemilang. Dalam buku karya A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Agresi Militer Belanda I disebutkan sekitar satu peleton (kurang lebih 50 orang) serdadu Belanda berhasil dibinasakan dalam pertempuran itu.

"Komandan Batalyon (Siluman Merah) melaporkan (kepada Nasution) bahwa mereka hanya menyisakan tiga orang yang selamat dan (akibat banyaknya jatuh korban) komandan mereka yang bernama Letnan Pluiman 'menjadi gila'," ungkap Nasution.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini